Terminal Hujan – hQZou

20150418_101038Judul: Terminal Hujan
Penulis: hQZou
Penyunting: Diaz
Penerbit: de TEENS
Tebal: 232 halaman


“Tria sekolah?”

“Sudah nggak, Kak,” jawab Tria tersenyum. Sesungguhnya, Tria tidak ingin memperlihatkan keperihannya pada orang-orang.

Deg! (hlm. 15)

Pertemuan Valesia dan Tria, seorang bocah pemulung, sepulangnya dari ibukota membuatnya sadar bahwa banyak sekali anak-anak di sekelilingnya yang putus sekolah di usia sangat dini karena terhambat masalah ekonomi. Pun tetap bersekolah, tak jarang anak-anak itu tidak bisa menunjukkan dirinya karena harus ikut menjadi tulang punggung keluarga.

Pertemuan itu membawa Valesia mengenal Umi Hasna, seorang pembinan anak-anak marginal di Kebon Jukut. Bersama Maya, sahabatnya, Valesia menemui Umi Hasna yang selama ini berjuang sendirian untuk mengabdikan dirinya pada anak-anak Kebon Jukut. Dari perkenalan dengan Umi Hasna, Valesia dan Maya sepakat mengumpulkan teman-teman mereka dan mendirikan sekolah yang diperuntukan khusus untuk anak-anak sekitar Kebon Jukut.

Begitulah awal berdirinya Terminal Hujan.

Kover yang Semarak

Begitu melihat novel ini, saya langsung merasa kovernya semarak. Dengan latar biru (yang sejujurnya saya suka) dan tulisan Terminal Hujan merah. Yang membuat kesan semarak bukanlah kekontrasan kedua warna tersebut, tapi gambar latar di belakang tulisan Terminal Hujan. Ramai.

Entahlah, saya pribadi jadi tidak terkesan dengan kover Terminal Hujan. Sebagian besar karena gambar latar itu.

Tria yang Hilang dan Farah yang Datang

Dari kover belakang novel, kita bisa mendapatkan tokoh bernama Farah. Seorang anak yang rela mengamen untuk membantu biaya pengobatan ayahnya.

Akan tetapi, begitu kita membuka novel ini, justru Tria-lah yang mendorong Valesia untuk mendirikan Terminal Hujan. Sayangnya, sosok Tria ini lalu menghilang. Nama Tria hanya muncul sampai bab 2. Bab-bab selanjutnya, tokoh bernama Farah inilah yang muncul.

Farah sendiri memilih teman pengamen yang dianggapnya sebagai kakak sendiri, Tisa namanya. Tisa juga menghilang di paruh awal novel ini, tapi Tisa lalu muncul kembali di akhir novel dan mengabarkan kepada pembaca bagaimana kabarnya.

Sayangnya, Tria tidak terlihat sama sekali.

Pendidikan Anak-anak Marginal

Saya suka tema yang dieksplorasi oleh penulis dalam novel ini. Pendidikan anak dan bukan sekadar anak, melainkan anak-anak marginal.

“Anak-anak ini seperti halnya anak-anak lain di seluruh dunia. Mereka punya mimpi yang harus diwujudkan. Mereka memiliki hati untuk bisa mengenal cinta dan berbagi. Dan juga, mereka punya jiwa sekeras karang untuk menghadapi dunia ini.” (hlm. 53)

Entah sampai kapan, pendidikan masihlah terasa bagai kemewahan di negeri kita ini. Masih banyak yang beranggapan bahwa pendidikan itu tidaklah penting. Masih banyak yang beranggapan bahwa untuk mengenyam pendidikan butuh uang banyak. Masih banyak yang sekadar menilai seseorang dari tingkat pendidikan terakhirnya.

Saya sependapat dengan ide-ide yang dimasukan penulis dalam novel ini. Bahwa melabeli seorang anak yang belum berhasil mendapat nilai baik dengan sebutan “bodoh” bisa mencederai semangat belajar sang anak (h. 95). Bahwa masih banyak yang terjebak dalam pola “menghafal” karena beban pelajaran yang tidak sedikit (h. 111). Bahwa ilmu yang didapat jauh lebih penting daripada angka-angka yang diberikan dalam rapor (h. 136). Dan bahwa masih banyak orang tua yang belum menjadikan pendidikan anak sebagai investasi utama dalam keuangan keluarga (h. 208).

Penulis berusaha menjabarkan kondisi masyarakat marginal dan langkah-langkah yang dilakukan Terminal Hujan untuk mengatasinya. Terlepas dari hal-hal yang terlihat sederhana dalam novel ini, saya tahu bahwa untuk melakukan hal-hal yang dilakukan Valesia dan teman-temannya dalam novel ini tidaklah semudah itu. Siapa pun yang pernah melakukan kegiatan sosial pasti akan paham perjuangan sebenarnya.

Secara keseluruhan, Terminal Hujan merupakan bacaan yang menyenangkan. Saya suka ide penulis soal gerakan sosial—well, saya selalu suka novel remaja atau dewasa muda yang memperkenalkan hal baru di luar perkara cinta. Terlebih saya juga tahu bahwa Terminal Hujan memang benar-benar ada., sang penulis terlibat di dalamnya.

Saya merekomendasikan novel ini bagi yang bergerak di bidang sosial atau bagi yang peduli pada kondisi anak marginal atau bagi yang mencari bacaan yang cukup berbeda. Selamat membaca! 😀

Advertisements

3 thoughts on “Terminal Hujan – hQZou

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s