Fantasi · Fantasious · Resensi

Stolen Songbird – Danielle L. Jensen

20150418_100854Judul: Stolen Songbird; Negeri Troll yang Hilang
Penulis: Danielle L. Jensen
Penerjemah: Nadya Andwiani
Penyunting: Mery Riansyah
Penerbit: Fantasious
Tebal: iv + 496 halaman


Saya membaca Stolen Songbird dalam rangka bergabung di Grup SFF BBI yang bertugas membahas subgenre romance fantasy. Judul Stolen Songbird saya dapatkan dari rekomendasi di grup fb Penimbun Buku. Lalu, berakhirlah saya membaca novel ini dipertengahan bulan April. Yah, sayangnya review-nya baru dikerjakan awal Mei gini.

Sebelumnya, review ini mungkin mengandung spoiler, jadi, berhati-hatilah. 🙂

Cécile akan segera menjalani hidup baru di Trianon selepas ulang tahun yang ke-17. Dia akan meninggalkan Coshawk’s Hollow yang dipenuhi lumbung, ternak, ladang, lembah hijau, dan segala hal tentang pertanian. Di hari ulang tahunnya, Cécile memang meninggalkan rumah masa kecilnya di Coshaw’s Hollow, tapi dia tidak pernah sampai ke Trianon. Cécile justru terjebak di tempat yang tidak bisa dipercaya keberadaannya, kota Trollus yang selama ini jadi legenda.

Di sana, Cécile harus menjalani takdir barunya. Bukan sebagai penyanyi di atas panggung-panggung megah Trianon, melainkan sebagai calon istri penerus tahta kerajaan Trollus, alias pangeran Troll bernama Tristan.

Troll yang Bukan Troll

Coba katakan apa yang terlintas di benak ketika mendengar troll? Oh, bayangan yang muncul di kepala saya jelas seperti ini:


sumber: Wikipedia

Well, setahu saya, troll itu mahluk yang buruk rupa. Besar, jelek, hijau, dan lamban. Troll sendiri berasal dari mitologi Norse dan cerita rakyat Scandinavia. Kurang lebih, di film-film fantasi atau cerita-cerita fantasi yang ada troll-nya, troll selalu muncul seperti itu. Selalu, kecuali di Stolen Songbird.

Pangeran Tristan tinggi dan ramping. Matanya berwarna perak dengan kilau intelektualitas yang tajam.

Dia juga memiliki wajah paling mulus dibandingkan pemuda mana pun yang pernah kulihat. Rambutnya hitam legam, tulang pipi dan rahangnya terpahat tegas, dan bibirnya penuh namun tanpa senyum. Dia mirip Pangeran Menawan dalam dongeng, kecuali satu hal: Pangeran Menawan adalah manusia, sementara pemuda yang di depanku ini bukan.(h.48)

Begitulah sosok Pangeran Troll yang menjadi suami Cécile. Well, mengingatkan pada sosok fantasi apa kira-kira deskripsi di atas? Yap, benar sekali, elf. Mahluk fantasi apa selain elf yang berfisik menawan dan punya kekuatan sihir?

“Manusialah yang pertama kali menyebut kami troll dan kami membiarkan saja julukan tersebut karena itu tidak bisa menguasai kami. Tapi bukan itu jati diri kami yang sebenarnya.” (h. 370)

Dan ternyata troll di Trollus memang bukan trolll seperti yang kita semua bayangkan. Penulis mengakui sendiri di Stolen Songbird lewat Tristan. Troll hanya nama yang diberikan oleh manusia dan sebenarnya mereka pun tidak berasal dari dunia ini. Mereka berasal dari tempat lain.

Well, rahasia troll ini mungkin akan terungkap di novel selanjutnya. Tapi, yang jelas, jangan khawatirkan sosok hero dalam novel romfan ini, karena, Tristan bukan troll yang buruk rupa. Tristan justru sempurna secara fisik sebagai karakter utama laki-laki.

The Chosen One

Oh ya, Stolen Songbird mengikuti pakem The Chosen One dalam plotnya. Cécile diculik ke Kota Trollus karena dipercaya bisa memecahkan kutukan yang menimpa bangsa troll. Cécile diikat dalam hubungan dengan Tristan karena begitulah cara menghancurkan kutukan sang penyihir. Cécile yang ternyata tidak selemah yang dikira.

Dan lagi-lagi, seperti dalam novel The Chosen One dengan tokoh utama heroine, Cécile juga tidak punya sahabat dekat seorang perempuan.

Victoria memang troll perempuan, tapi Cécile menghabiskan waktu bersamanya sebanyak dengan Vincent—kembaran Victoria. Anaïs memang troll perempuan (yang cantik), tapi hubungannya dengan Cécile tidak diikat oleh kedekatan yang menjadikan mereka teman. Élise dan Zoé memang perempuan (bahkan mereka berdarah campuran troll-manusia), tapi Cécile juga tidak digambarkan membangun ikatan persahabatan dengan kedua gadis yang menjadi pelayannya itu.

Yang bisa dikatakan sahabat Cécile adalah Marc. Jelas sekali bahwa Marc adalah troll laki-laki.

Tapi, untungnya, Cécile bukanlah heroine badass yang mengambil hati seluruh pemuda tampan yang menjadi tokoh sental dalam cerita. Pakem The Chosen One ini tidak menjadikan Cécile almighty dalam cerita, seperti yang banyak terjadi dalam cerita The Chosen One lain.

Hemofilia

Fakta yang paling aneh yang saya temui dalam novel ini justru keberadaan penyakit dalam darah para troll. Penyakit yang dari deskripsinya mengingatkan saya pada hemofilia.

“Belakangan telah diketahui bahwa dia memiliki kelainan pendarahan. Sesuatu yang diturunkan ke anak-anak.”

Aku tidak tahu hal seperti itu ada sampai aku datang ke Trollus, tapi sejak keberdaanku di sini, dua anak laki-laki meninggal karena penyakit itu. Darahnya tidak mau membeku—luka sedikit apa pun bisa berakibat fatal. (h. 359)

Lucu sekali mengetahui fakta bahwa penyakit itu justu ada pada diri troll, keberadaan yang melampaui manusia (baik dari segi fisik maupun kemampuan sihir). Atau apakah penulis berencara menjadikan troll-lah sumber penyakit itu dalam manusia?

Karena, well, banyak juga troll yang menikah dengan manusia. Dan penyakit itu akhirnya masuk dalam peradaban manusia? Oh, entahlah. Biarkan penulis saja yang menjawab.

Bagus tapi Tidak Spesial

Ya, Stolen Songbird bagus. Saya menikmati cara penulis membawakan cerita ini. Terlepas dari perasaan greget yang timbul karena hubungan Tristan dan Cécile kok ga maju-maju dan masih dalam batas lirik-lirikan, Stolen Songbird ditulis dengan menyenangkan dan membuat penasaran.

Petualangan Cécile melewati labirin dan di antara kematian itu membuat tegang. Rencana-rencana Tristan di belakangan pungung Raja itu memang menimbulkan intrik kerajaan. Rahasia penyihir yang didapatkan Cécile menimbulkan sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Fakta soal gelapnya Trollus dan gempa bumi itu juga membuat Trollus tidak seheba Cécile kira.

Akan tetapi, sayangnya, tidak ada yang terasa istimewa dalam novel ini. Biasa saja.

Bagian ending-nya juga … tidak cukup clifthanger. Jika penulis berniat menggantungkan nasib mereka semua (Cécile yang sekarat, Tristan yang sedang berperang, dan kekacauan di Trollus), rasanya lebih baik jika diakhiri ketika kesadaran Cécile hilang dan bukan ketika gadis itu siuman. Setidaknya efek “menggantung” di Stolen Songbird akan jadi lebih dramatis.

Yah, setelah menamatkan Stolen Songbird, saya mungkin akan membaca buku selanjutnya, tapi entahlah, lihat saja nanti.

Selamat membaca!

Advertisements

8 thoughts on “Stolen Songbird – Danielle L. Jensen

  1. Gara-gara ada warning spoiler, saya jadi nggak berani baca secara lengkap. Cuma sekilas-sekilas aja deh hihihi.
    Eh iya, saya ingat buku ini yang jadi hadiah pas ultah BBI. Waktu itu saya mau banget ikut soalnya udah dari kapan hari saya emang ngincer banget buku ini. Ikut kuis di sana sini nggak dapet juga. Tapi sekalinya mampir di sini malah dapet tantangan disuruh bikin fiksi romfan 3000 kata. Mamaaaak~ saya langsung angkat tangan. Hahaha. 😛

    1. Spoiler-nya ga banyak kok 😀
      Cuma dikit, tapi cukup penting dalam cerita wkwk

      Eh 3000 karakter lho, bukan 3000 kata
      Itu paling ga sampai 2 lembar A4 padahal

      1. eh iya, maksudnya 3000 karakter. aduh, tetep aja itu mah banyak atuh. apalagi aku belum pernah nyoba sama sekali nulis romfan. hehe. pas di kuis sebelah disuruh tulis sinopsis lima baris tentang cerita fantasi bayangan yang akan dibuat pun aku sempat mandek. hihi. kayaknya aku harus banyak-banyakin dulu baca fantasinya. 😀

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s