Resensi · Senja

Glamo Girls – Ragil Kuning, dkk

20150418_101007

Judul: Glamo Girls
Penulis: Ragil Kuning, dkk.
Penyunting: Zare
Penerbit: Senja
Tebal: 212 halaman


Barang-barang branded, wajah penuh riasan, pulang sekolah ke mall, penampilan up to date, yah singkat kata glamor. Begitulah Gina, Lala, dan Monic. Terlahir di keluarga kaya raya yang selalu berkecukupan dengan uang dan terbiasa dengan barang berkelas. Mereka bertiga menjuluki diri sendiri sebagai Glamo Girls.

Sayangnya, kecantikan dan kekayaan tidak meluluhkan hati Adam, Tony, dan Bastian—gebetan mereka di sekolah. Justru, karena merasa muak dengan tingkah Glamo Girls, ketiga cowok itu sepakat mengajukan nama Glamo Girls sebagai calon peserta baksos sekolah di Pulau Sabira.

Seisi kelas pun menyetujui usul mereka. Bukan hanya ketiga cowok itu yang lelah dengan tingkah Glamo Girls. Maka ketika pemilihan perwakilan, Glamo Girls sukses menjadi pemenang. Dan itulah awal dari segala petualangan Gina, Lala, dan Monic berada satu minggu di tempat terpencil.

Kover yang Tidak Seimbang

Sejujurnya, saya suka warna hijau kover ini. Manis. Ilustrasinya juga menggambarkan judulnya.

Akan tetapi, jika diperhatikan lebih saksama, ada satu ilustrasi yang berbeda. Yap, ilustrasi gadis berbaju biru. Bukan hanya warna kulitnya yang terlihat berbeda (jauh lebih putih dari yang lain), tapi bentuk mata dan bibir ilustrasi itu berbeda. Di saat yang lain memiliki mata berbentuk seperti mata sungguhan (duh, gimana menjelaskannya ya?), gadis berbaju biru itu memiliki mata ala manga. Silakan perhatikan bagian wajah mereka dengan detail.

Saya cukup percaya bahwa ilustrasi gadis berbaju biru itu dibuat oleh orang yang berbeda.

Jika dilihat sekilas, tidak akan ada yang salah dengan kover novel Glamo Girls ini. Namun, ketika kita mengamati lebih dekat, perbedaan di ketiga karakter itu jelas terlihat.

Kesalahan Penulisan dan Gaya Bahasa

Entah kenapa, di novel ini saya menemukan kesalahan penulisan yang tidak sedikit. Kesalahan paling kentara itu penulisan “di” dan anehnya terletak berdekatan. Ketika seharusnya ditulis terpisah, eh malah disambung. Lalu, ketika seharusnya disambung, eh malah dipisah. Saya tidak tahu ini kealpaan penulis, keteledoran penyunting, atau terjadi karena proses penataan letak.

Contohnya nih “di ajak” (h. 71), “di dorong” (h. 72), ”

Lalu, yang cukup membuat saya kaget ketika membaca Glamo Girls adalah gaya bahasa penulis. Selain Glamo Girls sering mengabaikan kata baku (contoh: males, ngaca, mantengin, sempet), gaya bahasa yang digunakan itu mengingatkan pada novel-novel humor.

Tak perlu ilmu hipnotis, gendam, atau pelet pun warga sudah tunduk pada Pak RT. Padahal, warga tunduk bukan karena karisma atau wibawa Pak RT, melainkan takut pada kumis japlang Pak RT yang mirip ulat bulu. (h. 58)

Begitulah gaya bahasa dalam novel setebal 212 halaman ini. Kadang membuat bibir tersenyum sendiri, kadang (karena terlalu lebay, berlebihan, hiperbola) justru membuat kening mengernyit.

Pelajaran Hidup

Hal paling penting yang berusaha penulis-penulisnya sampaikan di novel ini adalah petualangan Gina, Lala, dan Monic selama di Pulau Sabira. Bisa membayangkan tiga orang gadis kota, modis, metropolitan, dan glamor terjebak di pulau terpencil tanpa mal, gadget, dan terpaksa tidur beralas seadanya?

Selama kegiatan baksos, ketiga gadis itu tinggal di rumah Bu Inah. Di sana, mereka bertemu Bayu, pemuda putus sekolah yang harus menjadi tulang punggung keluarga karena sang ayah menghilang selepas berlayar, dan Wati, adik Bayu yang gigih berkeliling kampung hanya untuk berjualan kerupuk seharga seribu perak.

Dari keluarga Bu Inah yang sederhana, ketiga gadis itu menyadari bahwa selama ini mereka terlalu sering menghambur-hamburkan uang—demi barang bermerek, demi menggaet hati gebetan, demi hal-hal tidak penting. Padahal di belahan dunia yang lain, yang ditunjukkan lewat kehidupan keluarga Bu Inah, uang sesedikit apa pun selalu berguna.

“Neng, berapa pun uang yang diterima, pasti cukup kok. Yang penting, kita selalu bersyukur.” (h. 110)

Sayangnya, kegiatan baksos yang menjadikan mereka harus terdampar di Pulau Sadira itu terlalu sederhana. Mereka hanya digambarkan bekerja bakti bersama warga, lalu menyumbang ke sekolah, lalu membantu di rumah warga masing-masing. Well, daripada baksos, kegiatan mereka lebih mirip kegiatan-kegiatan KKN, hidup bersama warga.

Jika mereka datang untuk membantu karena bencana puting beliung baru saja menimpa Pulau Sadira, seharusnya kan yang diperbanyak itu tenaga laki-laki. Untuk bersih-bersih bekas amukan angin. Atau merawat yang sakit. Atau menjadi pengajar ganti di sekolah. Atau kegiatan-kegiatan ala relawan yang lainnya.

Yah, terlepas dari itu Glamo Girls merupakan bacaan yang segar.

Saya merekomendasikan novel ini bagi mereka yang menikmati buku-buku Raditya Dika. Juga bagi mereka yang bosan dengan karakter serba sempurna (karena sejujurnya semua karakter di sini ditunjukkan kejelekannya, bahkan ketiga cowok yang digebet Glamo Girls). Juga bagi yang butuh bacaan segar.

Selamat membaca!

Advertisements

2 thoughts on “Glamo Girls – Ragil Kuning, dkk

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s