Senja yang Mendadak Bisu

Judul: Senja yang Mendadak Bisu
Penulis: Lugina W.G., dkk.
Penyunting: Ainini
Penerbit: de TEENs

Lebih dari Sekadar Latar Lokal

Semakin dengan meningkatnya karya-karya lokal, semakin banyak pula karya yang berusaha mengeksplorasi keberagaman negeri ini. Cerita-cerita tersebut bukan hanya mengandung tokoh utama berkarakter lokal, tapi juga mengambil latar tempat lokal. Senja yang Mendadak Bisu pun seperti itu. Kumpulan cerpen #KampusFiksiEmas2015 dengan tema “Lokalitas-Inspiratif” ini berhasil meniupkan ruh ke dalam setiap karyanya. Bahkan cerpen-cerpen ini berhasil menghidupkan budaya, adat-istiadat, kepercayaan, etnik, dan kebijaksanaan lokal di dalamnya. Saya harus mengacungkan jempol untuk penulis dua puluh satu cerpen dalam Senja yang Mendadak Bisu. Mereka berhasil memperkaya pengetahuan saya soal Indonesia lewat cerpen-cerpennya. Kelokalan di Tengah Modernitas Cerpen yang disuguhkan dalam buku ini berasal dari ujung timur hingga ujung barat Indonesia. Ada tentang adat pernikahan Aceh dalam “Segenggam Mayam” hingga kewajiban perempuan Suku Dani memotong ruas jarinya dalam “Iki Palek, Sebuah Perih Rindu Tak Berkesudahan”. “Senja yang Mendadak Bisu” adalah yang paling jelas menggambarkan bagaimana hal-hal berbau lokal di tengah modernitas. Keadaan pedesaan, mata air Cisaninten, Pasir Saninten, dan kehidupan yang tenang berhasil kalah oleh tangan-tangan modern. Lugina W.K. bukan hanya menghidupkan keadaan lokal dari cerita Bah Kanta, tapi juga memberikan kritik berkaitan lingkungan. Dalam cerpen ini, kita bisa merasakan “senja” yang berbeda dari kebanyakan senja.

Ricik pancuran di sore hari adalah penanda senjanya akan bermula. (h. 200)

Ada syarat ritual uji nyali di Petilan Songo Langit Pitu dalam “Battle Tirakat” khas Samin. Dalam “Penerus Klithik” ada cerita Abyasa yang harus melestarikan wayang klithik di tengah keinginannya bersekolah ke luar daerah. Ada “Pasola” yang menceritakan bagaimana seharusnya pasola (perang antarsuku dengan menaiki kuda di Sumbawa) dilaksanakan. Di “Rambu Solo untuk Ambe” ada kisah Tanete yang pontang-panting berjuang melakukan rambu solo untuk ayahnya yang sudah meninggal. Dan masih banyak lagi. Meski semua cerpen disajikan dengan rasa yang berbeda dan mengangkat hal yang tidak serupa, banyak cerpen yang mempertentangkan tradisi dengan hal-hal modern (atau agama).

Roman Berhasil Hadir dengan Seksi

Tema yang paling banyak diangkat dalam kumcer ini adalah kisah roman. Well, nyatanya tema ini memang masih sering hadir dalam tulisan. Entah sebagai unsur utama maupun sebagai bumbu penyedap. Dalam “Gadis di Pulau Seberang” ada Badrun yang mengejar gadis pujaan hatinya  melewati laut Selat Sunda. Di “Hikayat Terpendam Gadis Lasem” ada kisah cinta sepihak seorang gadis kepada pelanggan setia warung kopi sang ibu. Kisah cinta antaretnis dihadirkan dalam cerpen “Jangan Sebut Dia Singkek” yang dalam.

“Aku menjagamu dari jauh…” (h.60)

Lain lagi kehidupan pernikahan perempuan berambut ikal dan lelaki berkulit sawo matang di lereng Bukit Coppo Tile dalam “Kapurung” yang menyayat hati karene sebuah kesalahpahaman. Dalam “Moksa” ada penantian Kadek terhadap Arya Renggong setelah berulang kali terlahir kembali. Tradisi yang menghambat kisah cinta dua sejoli dihadirkan dalam kehidupan masyarakat Lampung di “Piil Pesenggiri” yang kaya makna.

“Apa obat malu, Indung?” “Mati, Anakku.” (h. 149)

Lewat “Sarangan” ada primbon yang mengakar dalam kehidupan masyarakat dan mencegah Joko dan Sri bersatu.

“Apakah Bapak lebih memilih memercayai mitos daripada memberikan kebahagiaan kepada anak Bapak sendiri?” (hh. 176)

Dan masih banyak lagi perpaduan kisah roman dengan keragaman budaya Indonesia dalam buku ini. Harus saya akui, masing-masing cerpen berhasil dengan caranya sendiri menyatukan kedua unsur tersebut sehingga menghadirkan cerpen yang apik. Para penulis sukses menghadirkan kisah roman yang seksi dalam balutan lokal. Mari angkat topi bagi mereka. 🙂

Twist dan Moral Cerita

Seperti mayoritas cerpen, cerpen-cerpen dalam buku ini juga memberikan twist yang tidak tertebak. Dua puluh satu cerpen dalam Senja yang Mendadak Bisu ini tidak sesederhana uraian singkat saya di atas. Mereka bukan hanya menyimpan aspek lokal di dalamnya, tapi juga berhasil memporak-porandakan hati. Yang membuat saya paling pilu itu “Iki Palek, Sebuah Perih Rindu Tak Berkeseudahan” dengan akhirnya yang … hiks. T^T “Battle Tirakat” menyuguhkan akhir yang horor dan menegangkan. Di “Kunang-kunang Ranu Lus” ada cerita tentang Ranu Lus, sebuah danau di kawasan Semeru yang koordinatnya di rahasiakan, berakhir dengan penuh keharuan.  Seperti juga dalam “Pohon Randu Wangi” yang membuat sendu hati ketika mencapai akhir.

Air mataku jatuh. Rindu itu sekarang sudah roboh. (h. 159)

Untuk urusan moral cerita, cerpen dalam buku ini juga juara. Dalam “Otok” ada kisah bully yang berusaha mengingatkan bahwa setiap ucapan adalah doa. Ada juga kisah tentang kedewasaan suku Anak Dalam di “Tanduk Emas”. Dan masih banyak lagi moral yang bisa dipetik dari cerpen dalam Senja yang Mendadak Bisu ini. Kesemuanya disuguhkan dengan unsur lokal yang kental dan mengandung makna yang dalam. Bacaan yang bagus menghabiskan akhir pekan. 🙂

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s