Hujan Pertama untuk Aysila – Edi AH Iyubenu

Judul:  Hujan Pertama untuk Aysila
Penulis: Edi AH Iyubenu
Penyunting: Muhajjah Saratini, Misni Parjiati
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 184 halaman


Begitu mendapat buku ini, yang terpikir pertama kali adalah ini sebuah novel. Eh, setelah saya baca sinopsis di sampul belakang, ternyata kumpulan cerpen. Hujan Pertama untuk Aysila berisi dua belas judul cerpen terbaru dari Pak Edi.

Kedua belas judul tersebut disatukan oleh satu fakta. Semuanya ditulis oleh Pak Edi. *ya iyalah kan ini antologi cerpen*

Maksudnya, karena ditulis oleh orang yang sama, rasa dari semua cerpennya tidak jauh berbeda. Terlepas dari eksekusinya yang berbeda, latar tempat yang berbeda, karakter yang berbeda, dan hal-hal lain yang berbeda. Seperti makan pasta bolognaise dengan varian daging ayam, sapi, atau bahkan seafood. Rasanya ya tetap bolognaise.

Menunggu dan Kesetiaan

Hal kedua yang menghubungkan cerpen-cerpen ini, meskipun tidak benar-benar ada pada semuanya, adalah tema menunggu. Tema ini bersandingkan dengan kesetiaan banyak bertebaran dalam buku setebal 184 halaman.

“Bukankah kita memang harus berpisah sementara demi meraih bahagia yang abadi?” (h. 26 dalam Hujan Pertama untuk Aysila)

Tema ini dieksekusi dengan berbagai macam cara oleh penulis. Membuat cerpen-cerpen dalam novel ini memiliki penampilan yang berbeda. Dan semuanya ditulis dengan sangat matang, gaya bahasa yang luar biasa, dan ending yang sering kali tidak tertebak. Tentu saja dengan cerita yang membuat kita duduk termenung.

“Kau yakin suamimu selalu setia untukmu?”

“Itu bukan urusanku, juga bukan urusanmu, maka tak usahlah kita mencampurinya.”

“Bukan urusanmu?”

“Ya, urusanku adalah bersetia padanya, dan kalaupun ia ternyata tak bersetia padaku, maka itu sepenuhnya adalah urusannya.” (h. 163 dalam Lelaki yang Penuh Kenangan)

Keunikan dalam Nama

Hal berikutnya yang menjadi benang merah adalah nama karakter yang digunakan. Dalam bagian pembuka, Pak Edi sudah menuliskan bahwa nama Aysila akan sering digunakan. Dan memang saya menemukan banyak sekali karakter dengan nama Aysila. Tapi, ternyata bukan hanya Aysila. Ada Stefany, Pamuk, dan Akhiles. (Ada yang terlewat oleh saya?)

Ini merupakan ide yang tidak biasa. Saya harus berpikir cukup lama untuk mencerna apakah Aysila di cerpen ini sama dengan Aysila di cerpen sebelumnya atau tidak. Kadang, saya bahkan tidak yakin jika cerpen yang saya baca ini menceritakan Aysila yang berbeda.

Di satu cerpen Aysila menjadi gadis yang menunggu dengan setia hingga tua. Di lain kesempatan, dia hadir sebagai gadis yang berhenti menanti dan telah memulai hidup baru. Tapi, Aysila tetap sama. Tetap gadis yang senang terbahak dan gemar menertawakan kesedihan yang dialaminya. Apa pun nasib yang menimpanya dalam cerpen tersebut.

Keunikan ini sekaligus menjadi sesuatu yang bisa memicu kebosanan. Biar bagaimana pun rasanya jengkel juga membaca cerpen-cerpen dengan nama karakter yang sama terus menerus. Saran saya, jangan langsung habiskan buku ini dalam sekali baca. 😀

Sesuatu yang Menyebalkan

Hal yang entah kenapa justru menganggu saya ketika membaca kumcer ini adalah penggunaan bahasa Inggris di dalamnya. Terlalu sering saya mendapati karakternya berkata “Oh My God”. Annoying. Jika latarnya memang Indonesia, kenapa tidak menggantinya dengan “Ya Tuhan”? :/

Lalu, saya juga tidak merasa nyaman ketika Pak Edi menggunakan kata “curly”. Memangnya keriting tidak bisa menggambarkan? Atau bergelombang? Ada juga “blonde” yang saya heran kenapa tidak ditulis “pirang” saja. Padahal saya menemukan banyak kosa kata baru dari kumcer ini. Jadi rasanya … mengecewakan gitu.

Bagian Terakhir

Soal cerpen favorit, mungkin saya bakal bilang yang meninggalkan kesan paling dalam itu “Orang-orang yang Mengganti Hatinya dengan Batu”. Saya pikir ceritanya sederhana tentang orang-orang berhati batu, eh, ternyata lebih dari itu. Meski saya tidak yakin interpretasi saya akan cerpen ini sama dengan interpretasi penulis.

“Lalu, seseorang di antara kami memberikan usul supaya kami membuang hati kami, dan menggantinya dengan batu. Alasannya sederhana, batu tak memiliki perasaan.” (h. 68 dalam Orang-orang yang Mengganti Hatinya dengan Batu)

Kalau cerpen paling membuat saya penasaran itu “Cara Mudah untuk Bahagia.” Cerpen ini lagi-lagi menggunakan Aysila, Pamuk, dan Erdem dalam kisahnya. Mereka hadir sebagai tiga orang sahabat yang membicarakan hal-hal yang terasa berat (sumpah bahasan mereka berat, penuh filosofi). Saya penasaran sama cerpen ini karena ternyata buku di tangan saya itu halaman 141-142-nya dobel. Jadi, halaman 143-144 yang memuat bagian akhir cerpen ini tidak ada. :”(

“Kami menyedihkan, Erdem, tapi kami bisa terbahak lepas. Sebab kami merasa bahagia berkat pikiran kami.kau tidak menyedihkan, Erdem, tapi kau selalu murung. Sebab kau menganggap kemurungan dan kebahagiaan adalah soal imajinasi belaka.” (h. 136-137 dalam Cara Mudah untuk Bahagia)

Secara keseluruhan, kumcer Hujan Pertama untuk Aysila bisa menjadi rujukan buku bacaan sastra bagi mereka yang menginginkan sesuatu yang ringan, tapi mengasyikan diikuti. Terlebih dengan catatan pengantar luar biasa dari Pak Edi di bagian awal buku. (Saya suka bagian catatan pembukanya! Menyentak dan bukan sekadar ucapan terima kasih. Catatan ini rasanya patut disebarluaskan agar semakin banyak yang membaca.)

Selamat membaca! 😀

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s