Meant to Be – Zee

Judul: Meant to Be
Penulis: Zee
Penyunting: Diaz
Penerbit: PING!!!
Tebal: 232 halaman


Cerita Paralel

Dulu, ketika saya kecil, sedang sangat booming buku (novel maupun komik) yang menggunakan format “Pilih sendiri ending-mu”. Saya masih ingat novel-novel Goosebumps (tidak ingat cerintanya tentu saja haha) di mana pembaca bisa meloncat ke halaman sekian atau sekian tergantung pada pilihan yang dilakukan. Jadi, dalam satu buku itu ada dua atau lebih akhir bagi cerita tersebut. Meant to Be mengingatkan saya pada buku-buku itu.

Kata orang, hidup dipenuhi pilihan ini dan itu, serta berjalan sesuai pilihan yang kita tentukan. (h. 4)

Meant to Be diceritakan lewat sudut pandang orang pertama. Seorang cowok SMA bernama Reo. Suatu hari, Reo tengah menunggu sepupunya, Faris, di kedai kopi. Dan di sanalah dia melihat seorang gadis yang membuatnya tertarik. Saat itu, Reo berada di antara dua pilihan: menyapanya atau tidak menyapanya. Dua pilihan itulah yang kemudian terjalin menjadi dua cerita yang berbeda dalam novel Meant to Be kaya Zee ini.

Setiap versi cerita, diawali dengan tulisan “Kalau aku memutuskan menyapanya hari itu….” atau “Kalau aku memutuskan tidak menyapanya hari itu….”. Dan setiap versi memiliki jalinan cerita yang berbeda, meski berada dalam timeline yang sama.

Jadi, Meant to Be ini semacam menggunakan konsep yang dulu sempat booming dalam Goosebumps (tanpa catatan kaki meminta pembaca ke halaman sekian jika memilih ini atau ke halaman sekian jika memilih itu). Bisalah kita katakan cerita dalam Meant to Be ini berlangsung secara paralel.

Meski pada awalnya pembaca akan sedikit bingung karena membaca dua cerita yang berbeda, tapi lama-lama pembaca akan mulai terbiasa. Toh selalu ada petunjuk yang diberikan apakah cerita ini terjadi jika Reo menyapa gadis itu atau tidak. Sayangnya, saya menemukan kesalahan pada halaman 177. Seharusnya bagian itu terjadi jika Reo memutuskan menyapanya dan bukan tidak menyapanya.

Dunia dengan Tokoh Berusia 15 Tahun

Well, saya sama sekali tidak mengira ketika mulai membaca novel ini Reo itu baru berusia 15 tahun. Dari cara dia bercerita, pergaulannya, kehidupannya, saya pikir dia telah berkuliah. Atau paling tidak, ya, sudah di tahun terakhir sekolah. Eh, ternyata si Reo ini tuh masih bisalah dikatakan bocah.

Sayangnya, dunia anak 15 tahun ini, menurut saya, sangat kurang remaja. Awal masa SMA adalah masa-masa labil remaja. Masa-masa puber. Masa-masa penuh kebodohan. Tapi, hidup Reo banyak berisi pergaulan dengan orang-orang yang jauh lebih tua darinya.

Faris, sepupunya yang lebih tua, sering mengajak Reo bersosialisasi dengan teman-temannya. Vali, gadis yang ditemuinya di kedai kopi, juga membuat Reo banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya—yang selain lebih tua, juga perempuan semua (tentu ini di versi jika Reo menegur Vali). Di versi jika Reo tidak menegur Vali, maka Reo akan bersama dengan band The Black Kit, yang anggotanya sudah berkuliah semua.

Lengkap dengan kehidupan Reo yang serba ada (keluarga Reo tajir dan dia yang masih berusia 15 tahun ini sudah punya mobil), Meant to Be jadi terlalu “tinggi”. Bahkan orang-orang di sekitar Reo bisa dibilang semuanya adalah kalangan borju.

Seperti biasa, Zora membawa VW New Beetle kesayangannya. Padahal, menurut Eri, dia punya sederet mobil keren lainnya. (h. 69)

Meant to Be

Terlepas dari setiap versi cerita yang berjalan berbeda, hal-hal yang terjadi pada akhirnya memiliki kesimpulan yang sama. Pada versi Reo menyapa Vali, dia akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Vali dan teman-temannya. Pada versi Reo tidak menyapa Vali, maka Reo akan bergabung dengan The Black Kit. Namun, pada versi mana pun, Reo akhirnya tetap bekenalan dengan Vali. Reo juga tetap diajak bergabung dengan The Black Kit.

Some things are meant to be.” (h. 104)

Saya percaya bahwa ada hal-hal yang pasti akan tetap terjadi apa pun pilihan yang kita ambil. Seperti apa yang terjadi pada Reo dalam Meant to Be ini.

“Yang paling penting dari hidup bukan tanggapan orang, bukan nama, bukan gengsi. Tapi, lo bahagia atau nggak.” (h. 92)

Alternate Ending

Begitu mencapai akhir, saya sudah cukup bisa menebak apa yang akan terjadi pada versi kedua cerita. Secara personal, saya suka jalannya cerita versi jika Reo tidak menyapa Vali (meski berakhir pada hubungan Reo dan Faris yang memburuk dan saya sangat tidak suka kenyataan ini karena bukankah masih bisa dibicarakan?). Tapi, untuk bagian akhir, saya suka versi Reo menyapa Vali.

Akan tetapi, penulis memberikan kejutan pada bab terakhir. Bab terakhir ini, Reo kembali ke waktu di warung kopi. Ketika dia sedang memutuskan untuk menyapa atau tidak menyapa Vali. Dan yang terjadi selanjutnya adalah Vali yang menyapa Reo. Lalu, Vali juga bertemu Faris.

Mungkin saja, kali ini ceritanya bukan lagi mengenai aku yang jatuh cinta di warung kopi. (h.231)

Dan pembaca diminta menebak bagaimana akhir kisah Reo di skenario ini.

Selamat menebak! 😀

Advertisements

5 thoughts on “Meant to Be – Zee

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s