Resensi · Twigora

Marry Now, Sorry Later – Christian Simamora

Judul: Marry Now, Sorry Later
Penulis: Christian Simamora
Penyunting: Alit Palupi
Penerbit: Twigora
Tebal: x + 438 halaman


 

“Hidup lo bisa jadi memang berubah total, tapi nggak semua hal dalam hidup lo ikut berubah mengikuti kemauan lo.” (h. 17)

Hidup Reina berubah sejak ayahnya meninggal dunia. Dia baru tahu bahwa perusahaan keluarga mereka menunggak utang pada Shylock Indonesia. Masalah pelik inilah yang menghantarkan Reina pada perubahan-perubahan besar dalam hidupnya.

Pernikahan dengan Jao Lee, pemilik Shylock Indonesia, demi mengatasi urusan utang-piutang tersebut. Kabur ke Bali dan hidup serba kekurangan (sesuatu yang tidak pernah dialami Reina) sebagai relawan di panti asuhan.  Dan kembali menjalani hari sebagai istri Jao Lee dalam kehidupan rumah tangga romantis dan bahagia.

Marry Now, Sorry Later adalah novel Christian Simamora yang pertama kali saya baca. Hype novel ini pun terbilang tinggi belakangan ini di kalangan pembaca novel roman karena blogtour­-nya. Terlepas dari fakta bahwa saya tidak juga beruntung mendapatkan satu, akhirnya saya yang sangat penasaran ini meminjam kepada Mbak Desty, salah satu host blogtour MNSL.

Sudah jadi rahasia umum bahwa MNSL ini terinspirasi dari dongen Beauty and the Beast. Di mana Reina adalah Beauty yang terpaksa hidup dengan the Beast, Jao Lee.

Secara karakteristik, Reina dan Jao tidak akan mengingatkan kita pada dongeng tersebut. Reina adalah gadis dengan karakter yang kuat, dia bahkan berani kabur dari resepsi pernikahan dan terbang ke sana-sini untuk menghindari Jao. Jao juga bukan mahluk besar jelek, dia sangat tampan.

Dan kedekatan mereka awalnya juga bukan karena alasan yang sama dalam dongeng. Keduanya dekat karena lelucon Jao saat Reina meminta penangguhan utang perusahaan keluarganya.

“Kecuali kamu bisa memberi saya sesuatu sebagai gantinya menunggu.”

“Saya nggak paham—“

“Saya mau kamu.” (h. 88)

Lelucon itu yang mengantarkan Jao pada awal ketertarikannya pada Reina. Lelucon itu jugalah yang membuat keduanya berakhir di atas ranjang.

I blame the sex! Kalau saja malam itu bukan seks terbaik yang pernah gue rasakan seumur hidup, mungkin gue nggak akan berakhir jadi suami nelangsa kayak gini.” (h. 202)

Ini kali pertama saya membaca novel lokal dengan adegan kipas (saya baru tahu istilah ini setelah ikut blogtour MNSL). Sebelumnya, adegan kipas ini hanya saya temui di novel-novel luar, sebut saja Harlequin. Bukan jenis bacaan favorit saya, tapi roman Harlequin mayoritas memang cocok buat pembaca adult. Seperti juga roman dalam MNSL ini.

Sayang, saya pribadi merasa konflik yang disajikan dalam MNSL ini terlalu sederhana. Kurang menggigit. Atau kurang njelimet? Oh, tentu saja saya menikmati peningkatan hubungan Reina dan Jao dalam novel ini. Tapi, saya mengharapkan lebih banyak usaha pengertian, usaha saling mengerti, kecemburuan sesekali, atau pernik pernikahan lainnya.

Hal lain yang saya sesali adalah karakter Sari yang kurang dieksplor. Berbeda dengan Char yang mendapatkan porsi banyak (soal masa lalunya, soal lelaki yang mendekatinya, soal ketakutannya, dll.), saya sedih ketika membaca novel ini dan Sari seperti terpinggirkan. Padahal kan Sari yang mengenalkan Reina pada Char. 😦

Begitu menyelesaikan MNSL ini, saya merasa hype yang saya rasakan ketika mengikuti rangkaian blogtour-nya itu terlalu berlebihan. Oke, Jao Lee emang suami-able banget, tapi saya masih nggak mengerti kenapa apakah perasaanya pada Reina udah tumbuh sejak awal atau sejak Reina kembali padanya. Reina juga bukan karakter utama menyebalkan, dia justru menarik, sayangnya egonya terlalu tinggi—saya sama sekali tidak paham kenapa dia tetap ngotot berpisah.

Terus apa lagi, ya? Duh bacanya sudah cukup lama sedangkan nulis review baru sekarang. Alhasil bingung apa yang mau ditulis. Apalagi udah mau dipinjam sama orang lain pula. Ya sudahlah, sekian saja, ya. Wkwk.

Secara keseluruhan, MNSL adalah bacaan yang sangat menyenangkan. Tentu, setelah memastikan bahwa usiamu sudah lebih dari cukup untuk membacanya. Selamat membaca! 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Marry Now, Sorry Later – Christian Simamora

  1. Jujur aku juga termasuk yang kena hype sama novel ini tapi terus mundur begitu liat sinopsisnya yang kayak manipulation-based relationship. Tapi coverlust dan kembali ragu waktu liat review goodreads yang bertabur bintang.

    Dah kan udah tau sebagian besar bacaanku dan–mungkin–selera bacaanku. Menurut Wardah, is this book worth my money?

    1. Enggak, Kak. Mending pinjam aja. Aku habis baca ini jadi enggak merasa harus punya dan menyerah ikut blogtour-nya haha. Baca sekali udah cukup.

      Tulisannya emang rapi. Alurnya juga. Karakternya kuat. Khas roman Harlequin deh. Terlepas dari banyak kata mutiara yang bertaburan ya. Kalau soal manipulated-based relationship, buatku keduanya sama-sama saling mengambil untung satu sama lain sih.

      1. Gitu ya… pinjem siapa ya…. temen-temen kampus seleranya sama kayak aku semua. o-(–(

        Mau baca juga buat liat-liat “gaya”-nya Twigora. *iya, buat lomba yang itu*

        1. Member BBI gimana kak? Aku juga pinjem sama member BBI kok ini 😀

          Kalau enggak numpang baca aja di toko buku hihi.

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s