Dulu Aku Tikus! – Philip Pullman

Judul: Dulu Aku Tikus!
Penulis: Philip Pullman
Ilustrator: John Lawrence
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Penyunting: Dini Pandia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 256 halaman


Buku ini bercerita tentang Roger, seorang anak kecil yang mendadak mengetuk rumah Bob dan Joan. Pada kedua pasangan tua itu, anak tersebut mengaku bahwa dulunya dia tikus.

“Astaga! Kau siapa?”

“Dulu aku tikus.”

“Apa katamu?”

“Dulu aku tikus.” (h. 10-11)

Bob dan Joan sudah berusaha mencari asal-usul Roger. Mereka mendatangi balai kota untuk mencari data anak hilang, tapi tidak ada anak yang hilang. Mereka mengunjungi panti asuhan hanya untuk mendapati tempat itu tidak layak huni. Mereka melapor di kantor polisi, tapi polisi juga tidak bisa membantu. Mereka datang ke ruman sakit, tapi Roger juga bukan pasien yang kepalamya terbentur seperti perkiraan mereka di awal.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk merawat Roger. Memperlakukan Roger selayaknya anak lelaki biasa berumur sembilan tahun—terlebih mereka sampai saat ini belum juga dikaruniai anak. Dulu, Roger mungkin memang seekor tikus. Tapi sekarang Roger adalah anak laki-laki manusia biasa.

“Oh, yah, tikus tidak punya sopan santun. Anak laki-laki harus punya.” (h.15)

Tapi, ternyata tidak semua orang bisa memperlakukan Roger sebaik Bob dan Joan. Dengan ketidaktahuan Roger atas kehidupan anak lelaki normal, dia membuat ulah di sekolah. Roger juga diklaim menderita gangguan jiwa oleh Filsuf Royal. Yang paling parah, Roger ditangkap Mr. Tapscrew ketika tengah mencari makan di tong sampah.

Kejadian demi kejadian yang berlangsung membuat Roger meragukan jati dirinya yang baru. Koran Daily Scourge bahkan mengecap Roger sebagai monster gorong-gorong yang keji.

“Sekali tikus, tetap tikus.” (h. 125)

Malam, Petualangan, dan Karakter Antagonis

Setelah Jack si Pelompat (baca review saya di sini), Dulu Aku Tikus! adalah buku kedua Philip Pullman yang saya baca. Seperti dalam Jack si Pelompat, saya mendapati beberapa aspek yang mirip.

Keduanya sama-sama dimulai dari kisah di malam hari. Ketiga anak keluarga Summers kabur dari panti asuhan di malam hari. Roger—disebut Roger setelah pasangan Bob-Joan memberinya nama itu—juga muncul di depan rumah Bob-Joan di malam hari.

Kisah dalam kedua buku ini juga seirama. Sama-sama bernada petualangan, yang melewati gang-gang kecil, jalanan kotor, orang dewasa yang jahat, dll. Meski dalam Dulu Aku Tikus! saya mendapati karakter yang tidak benar-benar hitam-putih.

Mr. Tapscrew memang kejam. Dia jelas memperlakukan Roger—yang berwujud sebagai anak lelaki kecil—sebagai penghasil uang semata. Hanya karena Roger memang bertingkah seperti tikus, menggerogoti dan memakan apa pun yang membuatnya tertarik. Tapi, lelaki itu masih tampak manusiawi, dengan fakta bahwa dia ketakutan ketika Bob dan Joan datang mencari Roger ke kios pasar malamnya. Lain dengan karakter antagonis di Jack si Pelompat.

Walaupun demikian, bagi saya, Dulu Aku Tikus! memberikan karakter antagonis yang cukup berbeda dalam buku anak-anak lain. Karakter antagonis ini diwujudkan dalam bentuk media. Di mana dalam buku ini, media Daily Scourge memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat. Buku ini menunjukan bahwa media bukanlah pihak yang sepenuhnya netral, lewat beritanya yang menggiring opini publik soal Roger—sang monster mengerikan di gorong-gorong.

Semua orang memiliki opini, dan semakin sedikit yang mereka ketahui, semakin kuat argumen mereka. (h. 182)

Ironi

Setiap membaca buku anak-anak, saya selalu saja mendapati sebuah fakta ironis. Dalam Dulu Aku Tikus! (dan juga Jack si Pelompat), saya menemukan kritik penulis terhadap pemerintah—khususnya polisi. Bagaimana polisi di kedua buku anak-anak tersebut sama, bukanlah sosok polisi yang seharusnya melindungi warganya.

Ironi lain yang saya temukan adalah soal manusia dewasa pada umumnya. Dalam Dulu Aku Tikus!, penulis benar-benar menampilkan sosok manusia yang tidak cukup peduli. Orang-orang ini digambarkan dalam masyarakat secara umum yang menelan mentah-mentah berita dari media. Mereka serta-merta mengatakan bahwa Roger adalah monster yang membahayakan padahal belum benar-benar membuktikannya. Padahal bisa saja,sosok menakutkan yang memakan dan merusak itu melakukan segalanya hanya karena tidak tahu.

“Lagi pula, perbuatannya tidak benar-benar buruk, hanya hal-hal yang dilakukan anak malang yang tak tahu apa-apa….”

“Seperti tikus.”

“Benar. Seperti orang lain aku pun tidak suka tikus, tapi tikus tidak jahat dan kejam seperti manusia. Tikus hanya suka menggerogot.” (h. 106)

Saya pribadi merasa petualangan Roger dalam buku ini sangat menyedihkan. Benar-benar memilukan bagi buku cerita anak-anak—yang tidak bisa saya ceritakan karena akan membocorkan buku ini. Pandangan ini kemungkinan besar disebabkan fakta bahwa saya bukan lagi seorang anak kecil. Dan saya juga tidak yakin apa pendapat saya jika membaca buku ini ketika masih seorang gadis kanak-kanak.

Buku anak-anak sampai kapan pun akan selalu mengajarkan sesuatu. Bagi anak-anak, maupun mereka yang dulu pernah menjadi anak-anak.

Dulu Aku Tikus! adalah sebuah buku yang selalu layak dibaca bagi siapa pun.

P.S. Menjelang akhir saya baru sadar dari mana ide buku ini didapatkan oleh penulis. Benar-benar tidak terpikirkan semula bahwa buku ini sangat dekat dengan dongeng-dongeng yang kita kenal secara luas. Keren.

Advertisements

2 thoughts on “Dulu Aku Tikus! – Philip Pullman

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s