Atria · Children Literature · Resensi

The Giving Tree – Shel Silverstein

Judul: The Giving Tree
Penulis: Shel Silverstein
Penerjemah: Sri Noor Verawaty
Penyunting: Rindias H. F.
Pewajah sampul dan isi: Nurhasanah Ridwan
Penerbit: Atria
Tebal: 53 halaman


The Giving Tree adalah buku anak-anak yang saya baca dua hari lalu. Buku setebal 53 halaman ini bisa diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat, hanya beberapa menit. Karena, The Giving Tree tergolong dalam buku cerita bergambar.

Buku ini saya baca sebelum Dulu Aku Tikus!, yang lebih dulu telah saya ulas. Sejujurnya, tidak ada rencana sama sekali dalam diri saya untuk membaca children literature. Saya baru mendapatkan beberapa buku anak-anak, dan entah kenapa tangan saya refleks mengambil satu demi satu untuk dibaca. The Giving Tree adalah buku pertama. Selanjutnya saya membaca Le Petit Prince (ulasannya segera). Dan yang terakhir adalah Dulu Aku Tikus!

Ketiganya memberikan dampak yang berbeda dalam diri saya. Buku ini membuat saya merasa jengkel pada si pohon. Sangat-sangat jengkel.

The Giving Tree bercerita tentang pohon dan seorang anak laki-laki. Keduanya saling menyayangi, hingga waktu memakan sosok anak kecil pada sang anak kecil tersebut. Tidak seperti pohon, perlahan anak kecil itu tumbuh dan keinginannya tidak sebatas mengenakan mahkota dari daun pohon, memanjat dan berayun di dahan pohon, atau memakan apel yang dihasilkan pohon.

“Aku ingin membeli sesuatu dan bersenang-senang. Aku ingin uang. Biasakah kau memberiku uang?” (h.32)

Pohon yang hanya punya daun, dahan, batang, dan apel menyerahkan segala yang dimiliknya agar anak itu bahagia. Karena pohon sangat menyayangi anak itu dan pohon ingin sekali anak itu bahagia.

Inilah kenapa saya sangat-sangat jengkel pada pohon. Karena pohon itu rela memberikan segalanya kepada sang anak kecil. Meski saya tidak bisa memungkiri, begitulah perasaan sayang.

Bisa diibaratkan, pohon adalah orang tua dan anak laki-laki itu adalah anak. Maka orang tua pasti akan rela memberikan segalanya kepada sang anak. Agar anak bahagia. (Mari kesampingkan orangtua-orangtua yang tidak waras dan justru menyiksa anaknya.)

Di sisi lain, saya sangat marah pada sang anak. Pada sosoknya yang tidak tahu diri, tidak tahu terima kasih. Melihat sang anak yang mengambil segala yang dimiliki pohon itu, saya seperti bercermin pada manusia umumnya—yang kemungkinan besar saya pun masuk di dalamnya. Tidak acuh, ignorant, masa bodoh, hanya mengejar nafsu sesaat. Sebuah fakta yang menyakitkan hati. :’)

The Giving Tree adalah bacaan anak yang layak dibaca mereka yang pernah menjadi anak-anak.

Advertisements

2 thoughts on “The Giving Tree – Shel Silverstein

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s