de TEENS · Drama · Resensi

The Photographer – Endang SSS

20150610_200633

Judul: The Photgrapher
Penulis: Endang SSN
Penyunting: Vita Brevis
Penerbit: de TEENS
Tebal: 260 halaman


“Kalau memang nggak ada passion, ya semua jadi sia-sia. Ayah mau anak-anaknya jadi dokter. Tapi apa kami nggak boleh punya impian sendiri?” (h. 84)

Rasta sangat mencintai fotografi. Tapi, kecintaannya itu ditentang sang ayah. Ayah Rasta tidak ingin anaknya menggantungkan masa depan pada sesuatu yang belum jelas seperti fotografi. Sang ayah ingin Rasta menjadi dokter—sebuah profesi yang lebih jelas dan prestise.

Belum selesai perkara Rasta soal masa depan dengan ayah, Rasta terus berselisih dengan adiknya. Ternyata adiknya, Raja, selama ini memendam kekesalah karena sang ayah selalu lebih memperdulikan Rasta. Perselisihan itu mengantarkan keduanya bergulat hingga Raja pingsan dan sang ayah marah besar. Setelah kejadian itu, Rasta harus menanggung konsekuensi jika masih ingin dipanggil anak. Berkuliah di ITS.

DKV. Jurusan itu adalah jalan tengah yang ditawarkan Rasta kepada ayahnya. Dan di sanalah Rasta berakhir dengan janji tidak akan menyentuh kamera lagi.

Akan tetapi, di Surabaya, Rasta justru bertemu Angga. Pemuda yang terlihat cuek tapi sebenarnya memendam kecintaan yang mendalam pada fotografi seperti Rasta. Pertemuan yang mengantarkan Rasta pada babak baru dalam hidupnya.

Kompleks

The Photographer tergolong novel dengan cerita yang kompleks. Timeline dalam novel ini bahkan berlangsung dari Rasta lulus SMA hingga bertahun-tahun kemudian setelah dia bekerja. Sungguh sangat panjang.

Sayangnya, hal ini yang membuat banyak tokoh hilang dalam kehidupan Rasta yang penuh konflik. Ian, sahabat Rasta menghilang ketika Rasta berkuliah—lalu mendadak muncul selepas kuliah Rasta tanpa tahu apa yang selama ini terjadi padanya. Rizal, seorang fotografer dari klub fotografer (yang lebih mahir dari Rasta) juga tidak pernah muncul lagi padahal mereka sempat mengobrol dari hati ke hati (h.34-39). Angga hanya muncul selama Rasta berkuliah di Surabaya, setelah itu pemuda itu bahkan seperti tidak pernah ada di masa depan Rasta. Begitu juga dengan Sasa, gadis yang katanya dicintai Rasta, tidak pernah lagi terdengar kabarnya (padahal saya pikir dia akan muncul lagi).

Sungguh ada begitu banyak karakter yang muncul dalam novel ini. Sayangnya, tidak semua karakter dieksplorasi dengan baik. Bahkan ada banyak karakter yang tidak jelas keberadaannya padahal dia memberikan dampak yang cukup besar dalam hidup Rasta.

Saya tidak mengerti kenapa penulis memilih menggunakan sebegini banyak karakter dalam novelnya. Jawabannya mungkin karena lamanya waktu yang berlangsung dalam The Photographer. Tapi, alangkah lebih baik jika karakternya dipersempit tanpa mengurangi alur yang telah dibuat, kan? Penulis bisa menggantikan Boy (yang muncul di bagian akhir) dengan sosok RIzal, misalnya (toh keduanya kan sama-sama profesional di fotografi).

Kisah yang kompleks ini jugalah yang membuat The Photographer diceritakan dengan tergesa. Durasi kuliah Rasta pun terasa sangat-sangat singkat. Lalu, perjuangannya mencapai impian juga ikut terasa buru-buru. Ini alasan kenapa saya tidak bisa sepenuhnya menikmati novel ini.

Nuansa Romantis

Alasan kedua adalah karena tidak ada kisah roman dalam novel ini. Kisah roman dalam hidup Rasta adalah ketika dia dicampakkan Sasa (pacanya dari SMA) dan ketika dia bertemu Nadia (partner kerja). Akan tetapi, ya, hanya begitu saja. Tidak ada unsur romantis seperti pada novel populer kebanyakan.

Well, terlepas dari apa pun, bagi saya pribadi unsur roman adalah unsur yang sangat sulit dipisahkan dari novel populer. Membaca novel ini saya menjadi sangat tidak mengerti kenapa bisa-bisanya tidak ada satu pun gadis yang nyantol sama Rasta ketika pemuda itu sedang berkuliah.

Padahal, penulis berhasil memberikan kutipan yang bagus perihal ini.

Bagi dia, cinta bukan perkara siapa cepat siapa dapat. Bukan juga ajang uji nyali. Tapi bagaimana membuat seseorang merasa nyaman ada di dekatnya. (h. 226)

Mimpi, Fotografi, dan Persahabatan

Terlepas dari alurnya yang cepat-lalu-berakhir-berantakan, karakternya yang sering hilang (serta sulit menimbulkan simpati), novel ini mengajarkan tentang jangan menyerah untuk menggapai mimpi. Sebuah hal klasik yang selalu tidak pernah kuno untuk terus dieksplorasi dalam karya.

“Berjuanglah! Selagi kegagalan itu belum bernilai seratus persen di depan matamu, karena itu artinya masih ada harapan untuk berhasil.” (h. 105)

“Kalau lelah, berhentilah! Tapi, jangan menyerah, Ras. Sekali kamu nyerah, tamatlah.” (h. 183)

Tentu saja, hal paling utama yang berusaha diangkat oleh penulis adalah tentang fotografi. Terlepas dari anggapan ayah Rasta (yang merupakan anggapan banyak orang lainnya), fotografi itu bukanlah hal yang sangat sederhana. Fotografi itu tidak asal memencet kamera.

Foto seorang fotografer yang keren itu adalah foto yang bercerita. Orang yang melihatnya harus bisa mengambi nilai juga menikmati keindahan estetika yang dihasilkan. (h. 90)

Sayangnya, terlalu banyak hal-hal teknis yang diceritakan di novel ini. Saya jadi pusing sendiri membaca teknik fotografi yang ditulis dalam novel ini. Sayangnya lagi, penulisan teknik ini membuat tokoh utama menjadi seperti tidak ada apa-apanya (padahal bukannya Rasta sudah cukup lama menggeluti fotografi?) ketika di Surabaya.

Hal lain yang saya nikmati adalah tentang persahabatan. Banyak adegan dan kutipan persahabatan yang bagus dalam novel ini.

“Sejak kapan dalam persahabatan kita ada kata maaf dan terima kasih?” (h. 49)

Secara keseluruhan, novel ini cukup lumayan menjadi bacaan di sore hari. Khususnya, bagi kamu yang menyukai fotografi.

Selamat membaca! 😀

 

Advertisements

3 thoughts on “The Photographer – Endang SSS

  1. “Sejak kapan dalam persahabatan kita ada kata maaf dan terima kasih?” (h.49)
    suka sama quote ini.

    Novel populer tanpa cerita roman kadang emang kurang menghibur. Nggak bisa dibayangin didunia nyata kalau orang ga punya rasa cinta lawan jenis. Tapi kalau kebanyakan juga ngebosenin.

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s