DIVA Press · Misteri · Resensi

Konstatinopel – Sugha

20150610_200551

Judul: Konstantinopel
Penulis: Sugha
Penyunting: Ambra
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 272 halaman


 

“Tiga dari ketujuh anggota Konstatinopel sudah mati. Berturut-turut Ine Wijaya, Sandra Sienna Dewi, dan yang terbaru Roman Abdurrahman. Ada satu persamaan di antara ketiga mayat korban…”

“Jari kelingkingnya hilang?” (h. 84-85)

Konstatinopel adalah nama perkumpulan yang dibuat oleh tujuh orang mahasiswa Indonesia di Turki. Ketujuh orang tersebut adalah Ine Wijaya, Sandra Sienna Dewi, Roman Abdurrahman, Cinta Clarissa, Januar Tan, Felix Marpalele, dan Juan Sandjaya.

Korban awal dalam pembunuhan berantai ini adalah Ine, calon wakil rakyat terpilih dari PGB. Jenazah Ine ditemukan hancur terkena tabarkan kereta tanpa ada tanda di mana jari kelingkingnya. Setelah Ine, Sandra yang sedang menjabat sebagai staf di DPR ditemukan tewas terbakar. Beberapa hari setelah itu, jari kelingking dari mayat Sandra ikut lenyap. Pun demikian dengan korban-korban selanjutnya. Semua jari kelingking korban menghilang. Sebuah pesan dalam bahasa Turki ditemukan bersamaan dengan hilangnya jari kelingking korban.

“Aku akan membawa kalian semua bersamaku, satu per satu.” (h.84)

Di tengah misteri pembuhunan berantai inilah Putra Bimasakti terjebak. Pemuda lulusan terbaik STSN (Sekolah Tinggi Sandi Negara) ini terlibat karena menjabat sebagai asisten wakil kepala BIN. Bersama atasannya, polisi, dan anggota Konstatinopel yang tersisa, Bima berusaha mengungkap misteri di balik jari kelingking yang hilang.

Kover dan Misteri

Dari awal, saya sudah langsung jatuh hati dengan kover novel ini. Warnanya merah. Gambarnya abstrak. Benar-benar eye catching. Sungguh sangat sederhana tapi menonjol. Kover ini dengan sukses membuat novel bercita rasa misteri ini semakin misterius.

Konstatinopel bukan novel misteri lokal pertama yang saya baca. Sebelumnya saya pernah membaca Rencana Besar dan Misteri Patung Garam. Selayaknya novel misteri, Konstatinopel ditulis dengan tidak bertele-tele. Alurnya rapi dan berhasil membuat penasaran.

Sayangnya, misteri yang dihadirkan Konstatinopel itu kurang menyeluruh. Bima memang berhasil menebak siapa pelaku di balik pembuhunan berantai ini, tapi saya tidak mendapati alasan kenapa jari kelingking yang dipilih. Apakah itu memang sebuah kebetulan belaka?

Tentang BIN

Saya buta BIN. Segala sesuatu tentang intelijen yang ada dalam kepala saya adalah hasil bentukan film. Saya rasa, begitu juga pembaca yang lain.

Tapi, lewat novel ini saya tahu bahwa keseharian BIN itu seperti … pegawai pada umumnya. Mereka berangka ke kantor pagi hari dan pulang di malam hari. Mereka bekerja di balik meja dan punya gedung kantor yang bisa dicapai dengan kendaraan umum. Mereka punya struktur yang jelas, siapa ketua, siapa wakil ketua, siapa saja anggotanya. Mereka … sama sekali tidak penuh kerahasiaan.

Ketika membaca novel ini, logika saya langsung menolak. Terlepas dari kenyataan pasti mereka punya struktur, kantor, dan hal lainnya, BIN ini kan intelijen. Bukankah sudah semestinya intelijen itu penuh rahasia? Meski dari website BIN pun saya mendapatkan kenyataan bahwa BIN berusaha membuang image “intel” yang selama ini melekat, tapi tetap tidak banyak yang bisa saya dapatkan.

Terlepas dari saya yang masih belum bisa menerima perihal ini dengan baik, karakter Bima sendiri kurang berkharisma. Bima itu benar-benar digambarkan ala karakter teraniaya dalam sinetron. Hal lain yang membuat saya heran adalah kenapa banyak karakter yang terlalu bodoh dalam novel ini?

Ketidaktahuan Konstatinopel adalah nama Istanbul dulu. Bagian pemerintah lain yang tidak bisa mengerti dengan mudah soal ini semua adalah pembunuhan berantai. Penyidik kepolisian yang payah sekali mengungkapkan misteri. Ketidaktahuan mereka soal teknologi. Banyak karakter yang menjadi sangat bodoh hanya untuk menunjukkan bagaimaan pintarnya Bima (bahkan karakter-karakter lain yang notabene lebih lama berurusan di dunia pembunuhan, misteri, dsb.).

Di sisi lain, terlalu banyak kebetulan. Anggota Konstatinopel lain yang mengintip laptop atasan Bima hingga penemuan bukti yang kelewat mudah. Dan hanya Bima yang curiga?

Ini alasan kenapa saya memberi nilai 2.5 untuk novel ini.

Ironi

Hal menarik yang saya temui dalam novel ini justru terletak pada ironi yang diberikan oleh penulis. Konstatinopel ditulis dengan latar waktu menjelang pemilu, di mana masa-masa penuh dengan intrik politik. Penulis banyak menyinggung keadaan yang benar-benar ada dalam kehidupan berpolitik masyarakat Indonesia.

“Ternyata orang Indonesia lebih suka punya wakil rakyat yang bokongnya seksi daripada yang otaknya pintar.” (h.9)

Kasus pembuhunan yang memicu banyaknya pembunuhan ini pun berasal dari hal sepele. Seperti banyak tindak kriminalitas lain yang terjadi di muka bumi.

“Memang, mengakui sebuah aib rasanya memalukan. Tapi, menutupi sebuah aib dengan kejahatan lainnya adalah suatu tindakan yang biadab!” (h. 270)

Advertisements

6 thoughts on “Konstatinopel – Sugha

  1. Review ini menimbulkan rasa bak nano-nano. Di sisi lain bikin penasaran, tapi di sisi satunya enggak pengen buang-buang waktuku yang berharga *gayamu, Jun, kayak nggak pernah buang-buang waktu aja -_-“*

    Saya juga buta soal BIN. Dan penasaran gimana tjara kerja mereka. Kadang malah suka mempertanyakan, Apakah kalau ada film spionase atau action buatan lokal ala-ala Holiwut (yang tokohnya ada anggota FBI atau CIA atau DEA) dengan tokoh anggota BIN? Mungkinkah anggota BIN dilengkapi senjata canggih seperti biro yang beroperasi di US sono?

    Ohh, dan kayaknya saya ingin menambahkan ini karena tergelitik dengan quote “cantik”, kalau menurut pengamatan saya, kebanyakan orang di saat pemilihan umum lebih memilih mereka yang “teman sendiri” daripada yang cantik dan yang otaknya encer. Kalau beneran yang cantik, Jupe harusnya bisa menang pas pemilu kabupaten Pacitan :))

    1. Haha menarik sih sebenarnya, Kak. Cuma ya itu karakternya bikin gemas.

      Nah, kalau di novel ini sih digambarkannya BIN itu mirip karyawan biasa. Normal banget yang kebangetan. Jadi, ya saya pun masih belum bisa mengetahui apa yang ada di balik BIN.

      Iya sih, setelah “teman sendiri” baru milih dari “tampang” ya. Itu yang saya lihat di sekitar saya juga sih. x)

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s