Menggali Sumur dengan Ujung Jarum

Judul: Menggali Sumur dengan Ujung Jarum
Penulis: Jorge Luis Borges dkk
Penerjemah: Tia Setiadi
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 208 halaman


Kumpulan cerpen ini termasuk dalam satu dari beberapa buku yang sangat sulit untuk saya selesaikan. ;; Sudah dimulai baca dari dua bulan lalu dan masih saja belum sepenuhnya saya “selesaikan”.

Buku ini terdiri dari lima buah cerpen, dua esai, dan tiga pidato. Semua cerpennya khas cerpen sastra, berkalimat panjang—yang sangat-sangat panjang—dan butuh waktu lama untuk bisa benar-benar paham.

Lima Cerita Pendek

Dua dari lima cerpen adalah karya Gabriel Garcia Marquez.

Cerpen berjudul Eva dalam Tubuh Kucingnya menjadi bagian penyusun dalam sinopsis di belakang buku. Cerpen Eva dalam Tubuh Kucingnya sendiri merupakan cerpen Gabriel Garcias Marquez yang bisa saya pahami dengan benar-benar. Bercerita tentang Eva, seorang gadis cantik yang ingin sekali lepas dari kecantikannya yang diturunkan secara bergenerasi. Yang paling menarik, gen kecantikan (well, semacam gen, kan, ya? *lalu ragu*) ini digambarkan dengan sangat unik oleh pengarang sebagai serangga.

Serangga-serangga itu adalah bagian dari organismenya sendiri. Mereka berada di sana, hidup, bahkan jauh sebelum keberadaan tubuhnya sendiri. (h. 8)

Cerpen keduanya, Sepasang Mata Anjing Biru, sampai saat ini masih belum tuntas dalam diri saya. Saya masih bingung sebenarnya apa yang coba disampaikan penulis dalam cerpen ini. Nanti, saya akan mencoba membaca ulang. Kali ini dengan lebih pelan, sepertinya.

Cerpen lain yang meninggalkan bekas adalah Suatu Hari yang DIngin karya William Saroyan. Cerpen dengan kalimat super panjang dan tanpa ada percakapan ini memang membuat gentar. Saya langsung saja merasa bosan ketika mendapati cerpen berisi kereta api kalimat tiada henti.

Cerpen ini memiliki ide yang sangat-sangat sederhana, tentang sang tokoh “aku” yang tidak bisa menulis karena dingin. Gejolak dimulai ketika “aku” harus membakar koleksi bukunya untuk mendapatkan rasa hangat. Silakan bayangkan perasaan tercabiknya karena harus melenyapkan buku demi bertahan. ;;;

Aku memiliki sekitar lima ratus buku dan aku membakar satu nikel untuk setiap bukunya. Tapi ketika aku mencari judul-judul buku yang bisa kubakar, aku tak menemukannya. (h. 82)

Dua Esai

Untuk esai, keduanya adalah karya Jorge Luis Borges. Satu esai berjudul Kebutaan, bercerita tentang kebutaan yang dialaminya dalam hidupnya sebagai penulis.

Seorang penulis, atau siapa pun juga, mesti percaya bahwa apa pun yang terjadi kepadanya adalah sebuah instrumen; segalanya terjadi demi suatu tujuan. (h. 112)

Esai lainnya berjudul Kredo Seorang Penyari berisi kredo penyari. Ini kali pertama saya mendengar kata kredo. Saya segera mencari arti kata “kredo” di KBBI. Pernyataan kepercayaan atau dasar tuntunan hidup. Itu yang saya dapatkan. Kredo inilah yang berusaha disampaikan Borges dalam esai ini.

Tiga Pidato

Pidato pertama merupakan pidato yang disampaikan Orhan Pamuk ketika memenangkan nobel. Pidato ini berisi cerita Pamuk soal koper dari ayahnya. Sebuah koper kecil berisi tulisan sang ayah yang dipesankan kepada Pamuk agar dibaca setelah sang ayah pergi. Dari pidato inilah judul Menggali Sumur dengan Ujung Jarum diambil.

Berikutnya, ada pidato nobel dari Naguib Mahfouz. Pidato ini berjudul Anak Dua Peradaban. Judul ini menggambarkan diri Mahfouz sendiri, Peradaban yang dimaksudkan adalah peradaban fir’aun dan peradaban Islam di Mesir. Dalam pidato ini Mahfouz berusaha menjawab banyak tanya yang beredar di sekelilingnya.

Anda mungkin bertanya-tanya: orang ini, yang datang dari Dunia Ketiga, bagaimana dia menemukan kedamaian pikian untuk menulis cerita? (h.174)

Pidato terakhir adalah pidato yang diberikan seamus Heaney. Pidato berjudul Menghargai Puisi berisi ulasan Heaney tentang puisi dan menghargai puisi.

Secara keseluruhan, buku ini harus dibaca dalam kondisi yang nyaman, tenang, dan damai—mungkin buat saya yang terbiasa membaca karya-karya populer. Saya butuh waktu cukup lama untuk berhasil menghabiskan semuanya. Bahkan tidak cuma satu-dua saja yang sampai sekarang belum saya pahami dengan utuh maknanya (apalagi cerpen-cerpennya).

Akan tetapi, buku ini jelas sebuah buku yang layak dibaca bagi siapa pun yang mencintai sastra, ingin mencintai sastra, maupun mereka yang menikmati membaca. Selamat membaca. 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Menggali Sumur dengan Ujung Jarum

  1. Mungkin buku ini juga cocok untuk aku pelajari, soalnya emang untuk saat ini yang lagi booming kesusastraan. Menurutku, bagus juga untuk mempelajarinya. Terima kasih ya atas reviewnya. Oia, ntu penyari atau penyair? 🙂

  2. Kutebak emang berat bobotnya. Menurutku, buku terjemahan/impor/penulisnya orang luar negeri pasti butuh ekstra pikiran untuk memahami. Ditambah ini buku sastra.
    Menurut kak Wardah sendiri gimana bahasanya kak?

    • Tergantung genre juga sih, Kak. Kalau child-lit atau middle grade sederhana kok (meski karang banyak maknanya juga tapi tulisannya jujur). Nah kalau yang satu ini, jelas karena dia sastra, bahasanya berat banget. Tapi ya seperti layaknya sastra lain, layak dibaca banget.

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s