Kafe Serabi – Ade Ubaidil

20150901_092004

Judul: Kafe Serabi
Penulis: Ade Ubaidil
Penyunting: Ainini
Penerbit: de TEENS
Tebal: 188 halaman

Adalah Anggun, seorang gadis dengan ukuran tubuh cukup besar yang selalu menjadi bahan bully di kampus. Untungnya ada Anton dan Mila, serta Tata (bintang peliharaannya), yang senantiasa menemani kehidupan Anggun. Kehidupan cintanya sangat gersang, hingga suatu hari dia bertemu seorang lelaki tampan bernama Ken di sebuah kafe.

Di Kafe Serabi itulah, kisah cinta Anggunβ€”yang selama ini sudah sangat desperateβ€”akhirnya dimulai.

First Impression

Saya langsung saja suka dengan kover Kafe Serabi. Warnanya cakep, manis. Gambarnya juga terasa sangat pas. Intinya, saya langsung suka pada pandangan pertama dengan desain sampul Kafe Serabi.

Berlanjut pada sinopsis di bagian belakang buku. Hmm, terdengar sangat mainstream. Anggun yang selama ini jomblo bertemu seseorang di Kafe Serabi. Sebagai seorang pembaca, jelas saya langsung menyimpulkan bahwa novel ini akan berakhir dengan kisah cinta Anggun dan Ken.

Atau begitulah yang terlihat di luar.

Twist

Sayangnya, penulis berhasil memberikan sebuah twist yang tidak terduga. Sebuah twist yang menghancurkan seluruh ekspektasi pembaca yang hanya melihat novel ini dari kovernya. Sebuah kejutan yang tidak terkira.

Sebelum saya melanjutkan ulasan ini, ada baiknya jika saya berikan pengumuman: tulisan di bawah ini mengandung spoiler, bagi siapa pun yang tidak suka harap jangan melanjutkan.

Saya berikan waktu sejenak. πŸ™‚

 

Nah, jika kamu melanjutkan, berarti kamu sudah siap dengan apa pun yang saya beberkan, ya.

Dalam Kafe Serabi, penulis memberikan sebuah twist soal Ken. Tentu saja sejak awal mungkin pembaca merasa β€œkok gimana banget” pada Ken yang ujug-ujug langsung mengajak Anggun berpacaran (h. 62). Mereka baru bertemu, belum mengenal satu sama lain, apalagi Anggun bukan tipe gadis yang memenuhi kriteria visual seorang secara normal. Saya juga merasa bingung.

Awalnya, saya pikir Ken punya ketertarikan terhadap gadis bertubuh besar seperti Anggun. Eh, ternyata bukan itu. Novel ini mendadak berubah haluan menjadi novel LGBT. Ken adalah seorang homo yang sedang berusaha berhenti menjadi homo. Itulah alasan pemuda itu menyatakan perasaan terhadap Anggun.

Jelas saja hal ini adalah sebuah twist yang sama sekali tidak saya sangka. Meski, saya merasa Anggun ini bisa-bisanya menerima perasaan Ken padahal mereka baru bertemu beberapa kali. Gadis itu bahkan menjawab ajakan Ken dengan kalimat seperti ini:

β€œAku juga mencintaimu, Ken. Sangat-sangat mencintaimu, melebihi cinta itu sendiri…” (h.63)

….. memangnya Anggun sudah berapa kali sih merasakan cinta? Memangnya Anggun sudah mengenal Ken seberapa dekat? 😐

Yang bikin saya nggak habis pikir lagi, kenapa Anggun tidak mau menerima Ken. Okelah, mungkin Ken dulunya homo. Tapi, pemuda itu jelas ingin berubah dengan menjalin hubungan bersama Anggun, kan? Lha, ini kok si Anggun malah sebegitu emoh-nya sama Ken gegara masa lalu pemuda itu. Kan masa lalu sih, Mbak? -_-

β€œAku belum bisa menerima masa lalumu, Ken. Aku tak bisa.”

β€œSudah kubilang, aku sedang berusaha berubah, Nggun. Aku ingin kau mengerti itu.”

β€œTerkadang dibutuhkan keegoisan dalam menjalin hubungan, Ken. Dan aku kira, aku menggunakan itu di waktu yang tepat.” (h. 161)

Bullying dan Karakter Anggun

Hal lain yang mengganjal dalam novel ini adalah fakta bahwa Anggun di-bully. Saya mungkin tidak akan merasa heran jika Anggun masih SMP atau SMA. Tapi, Anggun sudah berkuliah. Dan ada yang mem-bully-nya hanya karena alasan fisik? Well, saya belum pernah bertemu mahasiswa yang di-bully karena alasan fisik. Diejek dikit mungkin pernah, tapi tidak β€œdi-bully”.

Meski pada akhirnya terkuak juga alasan kenapa Nia, tokoh yang mem-bully Anggun, melakukan segala hal tersebut. Rasa-rasanya tetap gimana gitu.

Karakter Anggun juga terlihat tidak konsisten. Anggun digambarkan berani menantang senior ketika masa orientasi (h.15). Tapi, kenapa gadis itu lantas sangat ingin keluar dari kampusnya gegara bullyΒ­-an Nia dkk? Menurut saya, tindakan penindasan yang dilakukan Nia dkk. itu masih sekadar urusan verbal dan sedikit fisik (itu juga Anggun tidak digencet sampai disiram air atau berusaha dilukai). Jadi, gimana ya rasanya kok nggak-Anggun-banget.

Akhir Bahagia

Lalu, saya nggak habis pikir sama ending Kafe Serabi. Setelah Anggun menolak Ken, eh ternyata ada orang lain yang menyatakan perasaan kepada Anggun. Padahal belum lama waktu terlewati (bahkan saya tidak menemukan deskripsi yang cukup atas reaksi Anggun terhadap akhir hidup Ken) setelah peristiwa penolakan tersebut.

Kemudian, Mila juga berhasil hidup bahagia. Anggun dan Mila menikah di hari dan gedung yang sama. Lalu, Anggun berhasil menjadi penulis tenar. Sepupu Anggun yang menjadi salah satu pasangan Ken juga berakhir tobat dan hidup normal. Semua hidup bahagia selamanya.

Wow.

Sangat-sangat tidak realistis. Terlepas dari ini sebuah kisah fiksi, tentu saja akhir yang serba instan itu tidak masuk diakal. 😐

Aih, padalah novel ini punya premis dan twist yang menjanjikan. Sayang sekali banyak hal serba mendadak yang muncul dan banyak juga hal yang tidak bisa dilogikakan. Yah, mungkin karya selanjutnya dari penulis akan lebih baik. Toh penulisannya sudah enak dibaca. πŸ™‚

Selamat membaca!

Advertisements

8 thoughts on “Kafe Serabi – Ade Ubaidil

  1. Covernya menggoda banget~~
    Sayang, isinya nggak aku banget. Buatku yang mementingkan logika cerita, ketidaklogisan cerita yang kausebut-sebut kayaknya bisa bikin aku misuh-misuh kalo baca sendiri. Hehehehe

  2. Aku suka sama covernya dan kebiasaanku sih kalau beli buku atau novel selalu lihat dari cover dan blurbnya. Hehehe Selama ini, selalu bagus sih ceritanya meskipun terkadang alur ceritanya nggak sesuai harapan. Berdasarkan review Kak Wardah di atas, penulis memang pandai memainkan twist dan aku rasa itu kelebihan dari penulis untuk menutupi kekurangannya sih. Mungkin … πŸ™‚ Terima kasih untuk reviewnya Kak πŸ™‚

    • Kafe Serabi cuma muncul sekali-sekali pas kencan Anggun sama Ken. Atau pas Anggun ngajak teman-temannya. Jadi, ya memang judulnya kurang pas sih.

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s