Komedi · PING!!! · Resensi

Wrecking Eleven – Haris Firmansya

20151001_134955

Judul: Wrecking Eleven
Penulis: Haris Firmansyah
Penebrit:
PING!!!
Tebal:180 halaman


Seto selalu tidak bisa mengikuti tren permainan yang berada di sekelilingnya. Ketika teman-temannya menggilai Digimon lewat tamagotchi, Seto baru berhasil memiliki tamagotchi saat teman-temannya sudah berpindah permainan: duel Pokeman dengan tazos. Dan ketika Seto mulai mengumpulkan tazos, teman-temannya justru sedang keranjingan main tamiya.

Begitu seterusnya. Seto selalu terlambat mengikuti arus permainan yang sedang tenar di antara teman-temannya. Hingga akhirnya Seto berhenti ikut-ikutan dan memilih menyisihkan diri dari pergaulan. Hal ini tidak berlangsung lama, karena beberapa waktu kemudian Captain Tsubasa sedang booming dan seluruh anak ganti senang bermain bola. Saat itulah, Seto menunjukkan kebolehannya.

“Seto berbakat jadi pemain bola, nih.”
“Kamu kayak Tsubasa.” (h. 16)

Sejak saat itu, sepak bola menjadi bagian dari hidup Seto.

Ketika menjadi murid SMP, Seto melanjutkan pendidikan ke sekolah yang memiliki klub sepak bola tenar. Seto berhasil menjadi pemain sepak bola yang dibanggakan. Di SMP itu jugalah Seto bertemu Gadis, seseorang yang membuat hatinya berdesir. Sayang, Gadis semakin lama justru semakin dekat dengan orang lain—Rahmet, yang juga teman masa kecil Seto. Enggan melihat kedua orang itu semakin dekat, ketika SMA Seto memilih melanjutkan sekolah ke SMA Garuda Baja.

Tidak seperti SMP-nya dulu, SMA Seto kali ini tidak memiliki klub sepak bola. Kegiatan ekstrakurikuler sepak bola telah dihentikan sejak adanya bentrok pada pertandingan final dua tahun lalu. Terlebih di SMA Garuda Baja, kegiatan yang paling diminati adalah dance. Tapi, Seto tidak mau menyerah begitu saja. Pemuda itu mulai membangun klub sepak bola Garuda Baja dari awal.

Mengikuti arus nggak selamanya bikin kita gaul. Bis ajadi, kita malah hanyut dan tersisihkan. (h. 46)

Penuh Kenangan

Hal yang menyenangkan ketika membaca Wrecking Eleven adalah novel ini berisi penuh kenangan. Kehidupan Seto benar-benar mengingatkan saya pada masa kecil saya. Seto menjalani hidup dengan kartun hari Minggu yang persis dengan saya. Digimon, Pokemon, Let’s & Go, Beyblade, hingga Captain Tsubasa.

Saya juga mengikuti seluruh serial kartun yang ditonton Seto. Membaca awal-awal buku Wrecking Eleven ini benar-benar seperti diajak mundur ke masa lalu. Sayangnya, justru ini yang membuat saya merasa ganjil.

Jika Seto mengalami masa lalu yang sama dengan saya, kenapa saat ini dia hanya siswa SMA? Atau apakah kejadian dalam Wrecking Eleven ini sudah berlangsung beberapa tahun lalu? Eh, tapi ada hallyu wave di sini. Apalagi ada Gangnam Style-nya PSY (yang seingat saya itu baru demam tahun 2011).

Nah, kan, sekarang saya jadi bingung dengan timeline kehidupan Seto dalam Wrecking Eleven.

Renyah tapi Penuh Makna

Terlepas dari kebingungan saya seperti yang sudah dijabarkan di atas. Saya sangat menikmati novel ini. Gaya bahasanya renyah. Saya suka komedi yang disajikan penulis (meski ada beberapa yang garing sih, tapi banyak yang bikin saya ketawa).

“Bukan dibubarin, cuma dibekuin aja,” ralat Bang Jep. “Tapi, sampai sekarang belum dicairin lagi.”
“Ekskul udah kayak es balok aja, ya.” (h. 54)

Semoga di tidurnya bisa menggapai impiannya. (h. 63)

“Masa saya harus ngajak Pak Sudibyo guru Fisika kita? Nanti, yang ada kita disuruh ngitung kecepatan dan rotasi bola ketika ditendang lawan.” (h. 80-81)

Dengan karakter-karakter yang super ajaib, penulis menyuguhkan kita kisah jatuh-bangun kesebelasan Garuda Baja. Perjuangan mereka di awal pertandingan. Kekalahan mereka. Hingga kemenangan yang berhasil mereka raih. Membaca Wrecking Eleven benar-benar sangat menyenangkan.

Meski demikian, novel ini tetap memberikan banyak pesan. Pesan-pesan yang luar biasa.

“Dalam sebuah tim, kita dilarang mengucapkan kata ‘gara-gara’. (h. 93)

Sebelum memutuskan untuk sombong, sebaiknya kita memperhitungkan akibat yang timbul dari kesombongan itu. (h. 107)

Untuk menang, memang nggak cuma butuh skill, taktik, teknik, kekuatan, stamina, dan kerja sama tim. Kadang, keberuntungan pun ikut andil menentukan hasil pertandingan. (h.131)

Ketika kita diberi kekalahan, sebenarnya Sang Pencipta sedang menyiapkan kemenangan dalam bentuk berbeda. (h. 179)

Nah, selamat membaca! 😀

Advertisements

9 thoughts on “Wrecking Eleven – Haris Firmansya

  1. Beberapa perbaikan nih …
    sekarag = sekarang
    sombog = sombong

    Kalau ini reviewnya simple dan sederhana menurutku. Yah … Meskipun ada kesalahan penulisan sedikit kok. Aku seneng banget lho sama kartun Captain Tsubasa. Hehehe Sayang, sekarang sepak bola di Indonesia dihentikan. Kasihan juga para pemainnya. Review kakak bikin inget aku tentang sepak bola, dulu pas rame-ramenya sepak bola sampe bela-belain nonton bareng-bareng pakai layar yang besarrr ntu lho. Hehehe Aku salut sama tokoh Seto. Dia nggak pernah berhenti berjuang untuk menghidupkan klub sepak bola SMA-nya. Makasih ya Kak untuk reviewnya. Menarik banget untuk dibaca bukunya. 🙂

  2. Syukurlah aku masih sempat dapet zaman main tamagochi 😀 jadi nostalgia deh.

    Aku akhirnya inget, bentuk/cara penulisan kak Wardah ini kayak trailer film. Pertamanya ditulis point/intinya terus dijlentrehin di baris selanjutnya. Boleh saya tiru?

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s