Drama · MAZOLA · Resensi

The Architect – Ariesta F. Firdyatama

20151004_072212Judul: The Architect
Penulis: Ariesta F. Firdyatama
Penyunting: Miz
Penerbit: MAZOLA
Tebal: 320 halaman

The Architect, seperti novel-novel profesi lain terbitan MAZOLA, bercerita tentang kehidupan seorang arsitek. Dalam novel ini kita akan menemani perjuangan Tio, seorang arsitek muda yang baru saja mendapat gelar sarjana.

“Ternyata, cari kerja itu tak segampang yang saya pikir. Lowongan banyak, tapi entah kenapa sampai sekarang belum ada panggilan.” (h. 11)

Perjalanan karir arsitek Tio akhirnya dimulai ketika dia singgah di warung tenda. Dari buruh pekerja bangunan yang sedang beristirahat, Tio direkrut kontraktor kecil-kecilan. Akan tetapi, pemuda itu lama-lama tidak betah karena mandor bernama Yanto yang sering sesuka hati. Lagi, hidup pascasarjan tidak seindah bayangannya.

Untungnya tak lama kemudian Tio mendapatkan kabar gembira dari Jakarta. Ibukota ikut menawarkan hidup yang lebih baik bagi Tio. Pemuda itu diterima dalam sebuah biro arsitektur cukup tenar, PT. Prima Adhi Karya. Di biro arsitek itu, Tio bukan hanya mendapat banyak pengalaman perihal karirnya, tapi juga perihal kehidupan cintanya.

Hidup Seorang Arsitek

Novel ini benar-benar merepresentasikan judulnya, The Architect. Dari awal hingga akhir, pembaca disuguhkan kehidupan pascakampus Tio. Bagaimana pemuda itu membangun karirnya mulai dari bawah hingga mencapai puncak.

Penulis menyajikan kehidupan Tio dengan sangat-sangat lengkap. Mulai dari pengalaman Tio bekerja di kontraktor kecil-kecilan, di biro arsitektur impian, kantor konsultan arsitektur, hingga memiliki biro sendiri.

Kehidupan Tio jelas tidak mulus. Grafik hidup pemuda itu tidak selalu menanjak. Ketika dia bekerja di PT. Prima Adhi Karya, dia harus tahan menghadapi senior yang sesukanya.

“Lo bisa nggak sih memanusiakan manusia? Gue sadar kok, gue nggak sehebat Febrian Dharma Kusma. Tapi itu nggak berarti lo bisa nyablak seenaknya!” (h. 89)

Di sana, dia juga harus merasakan bagaimana di-PHK pertama kali. Padahal saat itu biro mereka sedang menangani proyek-proyek besar. Tetapi entah kenapa semua klien mendadak membatalkan proyek dan PT. Prima Adhi Karya terpaksa harus gulung tikar.

Setelah itu, perjalanan Tio berlanjut pada sebuah kantor konsultan kecil di Solo. Pemuda itu kembali ke kota tempatnya menuntut ilmu. Meski gaji yang diterimanya tidak sebanding ketika bekerja di ibukota, di kantor ini Tio menemukan sesuatu yang lain. Kebersamaan tim, kehangatan keluarga, dan seseorang yang selalu mendorongnya untuk maju.

Novel ini benar-benar sangat padat. Tebal 320 halaman bukan main-main ketika membuka saya menemukan ukuran huruf yang cukup kecil dan spasi yang rapat. Wow. Sungguh wow tebalnya novel ini. Pantas saja penulis memiliki banyak ruang untuk menceritakan kehidupan Tio secara lengkap.

Kehidupan Cinta

Sebuah karya tentu tidak lengkap tanpa unsur roman. Novel ini tentu saja ikut dilengkapi dengan unsur tersebut.

Kisah cinta Tio dimulai ketika bekerja di ibukota. Vira, nama gadis yang menjalin hubungan dengannya, adalah sekretaris di kantornya. Sayang, hubungan mereka tidak berlangsung lama karena perbedaan cara pandang. Berlainan dengan Tio—pemuda desa yang lebih senang hidup sederhana, Vira adalah gambaran gadis ibukota.

“Ini baju tuh bagus banget! Limited edition! Sayang kalo jatuh ke tangan orang.”
“Vir, tahu nggak? Sebagus apa pun, yang namanya baju ya Cuma dari sehelai kain. Mau yang limited edition atau keluaran Tanah Abang fungsinya sama, kan?” (h. 97)

Kehidupan cinta Tio dengan Vira kandas tak lama kemudian. Gadis itu memilih untuk mendukan Tio dengan Febrian, arsitek senior di kantor mereka.

“Gue lebih milih jadi orang kedua tapi diutamain, daripada jadi yang pertama tapi diduain dan ujung-ujungnya diputusin.” (h. 109)

Begitulah cinta. Segalanya tidak selalu seindah kelihatannya.

Pantang Menyerah

Dalam novel ini, Tio benar-benar mengajarkan kita untuk pantang menyerah. Dari kehidupannya yang naik-turun, Tio mengajarkan kita bahwa hidup harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.  Tio juga mengajarkan kita untuk berani mengambil risiko.

 “Jadi orang kok mental krupuk gitu to, Mas. Belum pernah nyoba udah nyerah duluan.” (h. 177)

“Kerja di mana pun, itu segalanya punya risiko, Mas. Yang lingkungannya enak, gajinya kecil, yang gajinya gede, lingkungannya nggak enak.” (h. 183)

“Selama Mas Cuma jadi buruh, bekerja untuk orang lain, selamanya akan begitu. Mas harus puas dengan angka dua-lima juta sebulan.” (h. 203)

Meski novel ini menceritakan dengan sangat lengkap perjuangan hidup Tio, tapi, entah kenapa saya merasa tidak ada konflik besar di dalamnya. Bila diibaratkan novel ini bagai bebukitan. Naik lalu turun lalu naik lalu turun lagi dan seterusnya. Rasanya lempeng. Meski menjelang akhir ada konflik yang cukup membuat geger, tapi tidak benar-benar menguasai seluruh isi buku.

Dengan alur maju dan konflik yang kurang boom, The Architect memiliki kecenderungan membuat bosan. Meski tetap menyenangkan membaca novel ini, apalagi ketika mulai memasuki kehidupan cinta Tio yang berikutnya. Ih, gemesin. XD

Terakhir

Secara keseluruhan, novel ini asyik. Saya mendapat banyak sekali pelajaran dari hidup Tio. Saya juga merasa ikut-ikutan disentil oleh karakter dalam novel ini. :’)

“Emangnya duit itu bisa jadi takaran kebahagiaan hidup, ya?” (h. 205)

“Kamu bilang jadi orang nggak pernah beruntung? Omong osong! Kalo nggak pernah bersyukur sih iya!” (h. 279)

Selamat membaca!

Advertisements

6 thoughts on “The Architect – Ariesta F. Firdyatama

  1. Halooo … Kakak 🙂
    mendukan = ini maksudnya menduakan ya?
    Omong osong! = Omong kosong!

    Review Kak Wardah sangat jelas menurutku. Cuma hanya ada kesalahan beberapa penulisan. Kak Wardah juga mereview sangat detail. Hehehe Sudut pandang dan kelemahan buku ini selain merasakan bosan apalagi ya? Gaya bahasanya juga yang digunakan apa Kak? Aku malah yang penasaran 🙂

    1. Ah iya, duh maaf ya review yang ini di-publish tanpa proofread dulu huhu

      Gaya bahasanya enak kok, tapi detail. Jadi ya bisa bikin bosan juga. Mana ceritaiin kehidupannya juga detail sih. Bagus cuma kurang greget gitu buat saya.

      1. Jangan-jangan pengalaman pribadi penulis ya sampai segitu detailnya. Hehehe
        Aku agak jengkel sama si Vira ntu 🙂 Nggak banget. Oia, aku meluncur ke review-review lainnya dulu.

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s