DIVA Press · Realistic Fiction · Resensi

Kerlip Sang Bintang yang Hilang – Anna Azlina

kerlip sang bintang yang hilang

Judul: Kerlip Sang Bintang yang Hilang
Penulis: Anna Azlina
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 236 halaman


Novel ini bercerita tentang Kerlip dan Bintang. Dua orang anak jalanan yang dipertemukan di jalan. Kerlip adalah anak jalanan dengan prestasi melejit, dia selalu bisa mengumpulkan uang lebih banyak dari teman-temannya ketika mengemis. Sedangkan Bintang bertahan hidup dengan menjual lukisan karyanya, meski hidupnya terlantung-lantung.

Kedua anak ini bertemu ketika Kerlip membuat kesal preman yang mengatur anak jalanan dalam meminta-minta. Bintang menyelamatkan hidup Kerlip. Sejak saat itu, keduanya tinggal bersama. Kehidupan mereka mulai bergejolak ketika Kerlip dituduh mencuri.

Bukan hanya itu, Tina mendadak muncul dalam hidup mereka. Tina, seorang gadis kaya yang peduli pada nasib anak jalanan.

Bad Impression

Jujur, dari tiga novel resensi yang diberikan DIVA bulan lalu, novel ini adalah yang terlihat tidak meyakinkan.

Pertama, kover novel ini tidak menarik. Dengan jenis tulisan yang mirip potongan-potongan huruf dari koran dan latar cokelat, novel ini tidak menarik perhatian. Terlebih saya tidak mengerti konsepnya yang membuat tampilannya mirip frame begitu. Apalagi ada koran dan frame lukisan lain. Frame dalam frame.

Kover ini langsung saja terlihat seperti asal dicampur-campurkan. Ambil gambar ini-itu, taro sana-sini, dan TADA!

Mungkin yang paling mengganggu itu pilihan huruf sebagai judulnya, ya. Entahlah, yang jelas saya tidak tertarik sama sekali pada kover novel ini.

Tentang Anak Jalanan

Latar anak jalanan yang diangkat bukan lagi latar tidak biasa yang diangkat dalam karya fiksi. Sudah banyak sebelumnya saya membaca novel setipe ini. Meski ini kali pertama saya membacanya dari sudut dua orang anak lelaki jalanan di Solo.

“Saya miris kalau melihat mereka di jalanan, mengemis, kepanasan, tidak terdidik, bahkan mecopet, sehingga mereka malah menjadi sampah bagi masyarakat.” (h. 86)

Saya kurang tahu soal Solo sih, tapi, yang jelas saya tidak merasakan kota tersebut “hidup” dalam Kerlip Bintang yang Hilang ini. Saya tidak membaca interaksi dalam bahasa Jawa atau hal-hal yang lebih menunjukkan soal ke-Solo-an dalam novel ini. Well, saya memang ke Solo hanya sebagai pengunjung jadi saya rasa-rasanya tidak pantas menjustifikasi, sih.

Terlepas dari itu, Anna Azlina memberikan cukup banyak ulasan soal kehidupan anak jalanan. Soal anak-anak jalanan yang mengemis itu terorganisir. Soal geng preman yang mengawasi. Hingga kritik sosial yang disampaikannya lewat petualangan Kerlip dan Bintang.

“Bayangkan uang seratus ribu rupiah! Bocah itu yang mencurinya! Ia berada di dekatku sebelum kejadian!”
“Walah, uang sertus ribu rupiah saja dipersoalkan.”
“Lha, iya to, Bu. Katanya orang kaya? Uang segitu saja diributin.” (h. 35)

Alur yang Buru-buru

Lagi, saya merasa sinopsis di bagian belakang novel itu tidak menggambarkan. Jika di sinopsis, novel ini lebih menekankan pada kejadian setelah Kerlip hilang. Saat itu mereka telah ditolong Tina.

Tapi, cerita lebih banyak saya dapatkan itu justru soal kejar-kerjaran. Dan entah kenapa judulnya jadi terasa tidak pas karena novel ini tidak hanya berpusat pada Kerlip dan Bintang. Banyak cerita tentang Tina (serta kehidupan cintanya) dan geng Brenos.

Oleh sebab itu, tak heran jika saya merasa fokus cerita dalam Kerlip Bintang yang HIlang ini ikut hilang, seperti Kerlip dalam hidup Bintang. Penulis seakan ingin memenuhi novel ini dengan berbagai macam hal hingga fokus utamanya menjadi kabur. Padahal premisnya cukup menarik dan karakternya juga bukannya tidak membuat simpati (hanya kurang ter-develop).

Yah, terlepas dari itu semua novel ini merupakan bacaan yang menyenangkan. Saya merekomendasikan novel ini bagi mereka yang tertarik pada nasib anak jalanan. Selamat membaca! 🙂

Advertisements

7 thoughts on “Kerlip Sang Bintang yang Hilang – Anna Azlina

  1. Wahhhh … Kakak jujur bangettt ya? Aku lihat kok kelebihan novelnya cuma tentang anak jalanan aja? Hehheeee Segitu nggak balancenya ya kak antara tokoh dan alurnya begitu juga settingnya?

    Makasih kak Wardah 🙂

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s