7 Kisah Klasik Edgar Allan Poe

Judul: 7 Kisah Klasik Edgar Allan Poe
Penulis: Edgar Allan Poe
Penerjemah: Diyan Yulianto dan Slamet P. Sinambela
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 204 halaman

Sesuai judulnya, ada tujuh cerita pendek karya Edgar Allan Poe dalam buku ini. Saya akan mencoba membahas sedikit bagi masing-masing cerita.


Kucing HItam

Ada sesuatu dalam diri mahluk buas tapi tidak egois dan rela berkorban itu yang menyentuh hati orang-orang yang pernah terluka oleh persahabatan palsu dan kesetiaan rapuh dari sesama manusia. (h. 10)

Dalam cerita ini, si aku adalah seorang pecinta binatang. Tapi, seiring dengan bertambah usianya, karakter aku mulai berubah. Suatu ketika, dia merasa sangat kesal pada kucing hitam yang menjadi peliharaannya dan nekad menggantung kucing itu di halaman. Tak lama kemudian, rumahnya terbakar dan menyisakan dinding dengan bayangan kucing tergantung.

Selang dari peristiwa itu, karakter aku justru terdorong mencari kucing hitam lain. Kucing hitam yang bisa dianggapnya sebagai pengganti kucing yang dulu digantungnya. Dia pun menemukan seekor kucing hitam lain ketika sedang minum-minum. Kucing ini lalu dibawanya pulang. Namun, setelah kucing ini mendiami rumahnya, karakter aku justru didera ketakutan hebat.

Ini tidak seperti rasa takut kepada sesuatu yang berwujud iblis—aku sendiri bingung bagaimana menggambarannya. (h. 19)

Menurut saya, cerita ini banyak menggambarkan sisi gelap manusia. Bagaimana tokoh aku yang tidak percaya manusia berubah dari seorang penyayang binatang. Bagaimana dorongan melakukan perbuatan tercela selalu hidup dalam jiwa manusia. Bagaimana alkohol perlahan menggerogoti kewarasan dalam diri tokoh utama kita. Hingga bagaiaman perbuatan buruk menjadi candu meski dalam lubuk hati kita tahu bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan.

Berapa banyak dari kita yang—mungkin sudah ratusan kali—mendapati dirinya melakukan perbuatan keji atau tercela, hanya karena tahu kita seharusnya tidak melakukannya? (h. 13-14)

Jantung yang Berkisah

Cerita ini banyak mengingatkan pada Kucing Hitam. Dalam kisah ini, tokoh utama kita juga membicarakan soal kewarasan di awal cerita. Dengan sangat percaya diri, dia bercerita pada pembaca bahwa tidak mungkin ada orang gila yang waras sepertinya. Padahal jelas-jelas tingkah-lakunya yang mengamati orang tua yang tinggal bersamanya seperti seorang stalker tiap malam jelas tidak normal!

Satu jam penuh kuhabiskan untuk melongok ke dalam kamarnya, kulongok ke dalam hingga aku bsia melihat dia terbaring di ranjangnya. Nah! Adakah orang gila yang begitu waras seperti dirku? (h. 28)

Tokoh utama kita setiap malam selalu mengamati lelaki tua yang tinggal bersamanya itu (meski hubungan mereka berdua tidak tertulis jelas dalam cerita ini). Tindakan itu dilakukannya karena sebuah gagasan yang mendadak ada dalam pikirannya. Gagasan yang menggiringnya untuk mengakhiri hidup sang orang tua karena mata orang tua itu laksana iblis (h. 29). Mata yang berhasil menimbulkan ketakutan  amat-sangat pada tokoh aku dalam cerita.

Banyak bagian yang mengingatkan saya pada Kucing Hitam dalam cerita ini. Tapi, lain dengan cerita pertama, pada cerita ini saya bisa lebih memahami motif kejahatan tokoh utama. Dia hanya ingin terbebas dari pandangan mata sang lelaki tua. Hal ini menunjukkan fitrah manusia yang dasar: kebebasan. Lelaki tua bisa saja merupakan simbol yang menghalangi manusia mendapatkan kebebasanannya, itu bisa berarti pengawasan orang tua, lingkungan, atau bahkan norma. It can be anything.

Meski demikian, satu hal yang paling menonjol dalam cerita ini adalah bagaimana Poe melalui tokohnya menggambarkan kejahatan yang sempurna. Tokoh utama kita sangat percaya diri bahwa kejahatannya tidak akan diketahui oleh siapa pun, namun menjelang akhir cerita dia didera perasaan bersalah. Perasaan ini dimulai ketika telinganya mendengar detak jantung yang pada akhirnya membawa dia pada kehancuran.

Kumbang Emas

Kumbang Emas adalah cerita pendek paling sangat panjang dalam buku ini. Cerita ini bercerita tentang perburuan harta karun Willian Legrand, sahabat baik sang narator, setelah menemukan seekor kumbang emas.

Berlainan dengan dua cerita sebelumnya yang sangat gelap, Kumbang Emas justru sangat-sangat mengingatkan saya pada cerita detektif. Terlepas dari unsur mistis yang diberikan Poe dalam cerita ini di awal lewat karakter Legrand, ternyata cerita ini adalah yang paling logis di buku ini. Poe tidak memberikan banyak simbol-simbol dalam kisahnya. Poe menuliskan dengan jujur bagaimana karakter dalam Kumbang Emas melakukan pencarian harta karun bajak laut di Pulau Sullivan.

Tapi ternyata setela saya mencari tahu, cerita pendek ini terkenal justru karena Poe penggunaan kriptografi di dalamnya. Dan Poe juga menuliskan dengan sangat mendetail bagaimana cara memecahkan sandi rahasia yang mengarahkan pada harta karun tersebut.

“Dalam kasus ini—sesungguhnya dalam semua kasus tulisan rahasia—pertanyaan pertama adalah bahasa yang digunakan untuk menulis teka-teki….” (h. 89)

Selain itu, satu hal lagi yang sangat mengagumkan dalam cerita pendek ini adalah bagaimana penerjemah mengalihbahasakan Jupiter. Jupiter, sang pelayan Legrand diceritakan sebagai bangsa kulit hitam yang bodoh dengan keterbatasan intelektual (rasis, yep). Nah, gaya bahasa Jupiter ini terlihat sangat apa banget ketika kita membaca Kumbang Emas (wong isinya itu sebelas-dua belas sama bahasa alay gitu). Tapi, nyatanya begitulah Poe menuliskan karakter Jupiter. Penerjemah hanya berusaha sebisa mungkin menghadirkan Jupiter-nya Poe dalam versi terjemahan. Keren.

William Wilson

Umumnya, manusia umumnya berubah secara bertahap. Tapi tidak dengan diriku, dalam sekejap, seluruh kebajikan itu luntur seperti mantel yang dilepaskan. (h. 105)

Di cerita kali ini kita bertemu William Wilson, seorang keturunan bangsawan yang gemar melakukan perbuatan tidak terpuji. Dalam beberapa paragraf berikutnya, kita lalu berkenalan dengan William Wilson yang lain di cerita masa lalu tokoh utama kita di sekolah. William Wilson yang seperti tokoh utama. Mereka bukan hanya berbagi nama, tapi bahkan berbagi paras. Dan William  ini terus menghalangi jalan William-sang-tokoh-utama.

Sikapnya yang suka menentang ditujukan hanya untuk menjegalku, mengejutkanku, atau menggangguku… (h. 113)

Hingga suatu hari, sang narator menemukan fakta bahwa wajah William Wilson ini berubah. Dia tidak terlihat seperti William Wilson yang biasa ditemui sang tokoh utama. Merasa terkejut akan kenyataan ini, sang tokoh utama lari dari sekolah. Sejak saat itu, dia akhirnya bisa melepaskan diri dari sang kembarannya.

Akan tetapi, di kehidupan-kehidupan setelahnya, sang tokoh aku justru kembali dihantui oleh William Wilson satunya ini. Kembarannya itu senantiasa muncul ketika narator kita akan melakukan kejahatan.

Cerita ini mengingatkan saya pada doppelgänger, seseorang yang sangat mirip dengan diri kita yang sering diidentikan dengan nasib buruk. Meski demikian, kembaran William Wilson-sang-tokoh-utama ini bisa berarti apa saja. Dia bisa berarti moral dan nurani dan hal-hal baik lainnya yang berusaha mencegah William Wilson melakukan kejahatan. Makanya cerita ini disebut sebagai cerita pendek yang mempertentangkan kebaikan dan kejahatan manusia (h. 6)

Potret Oval Seorang Gadis

Pendek. Sangat-sangat pendek. Tapi, bisa dibilang ini adalah salah satu cerita favorit saya.

Bercerita tentang tokoh aku yang menemukan sebuah potret oval seorang gadis. Setelah itu, tokoh utama kita mengetahui kisah di balik potret tersebut. Bisa dibilang cerita ini adalah cerita di dalam cerita.

Aku telah menemukan mantra di dalam gambar yang membuatnya seolah hidup… (h. 140)

Yang membuat saya sangat-sangat menyukai cerita ini adalah bagian akhirnya. Pantas saja kemudian cerita ini menginspirasi Oscar Wilde menulis Lukisan Dorian Gray. Poe menunjukkan bahwa karya seni dapat menelanjangi—memperlihatkan kejahatan, rasa bersalah, kekejaman, dll—sang seniman.

Runtuhnya Kediaman Keluarga Usher

“Aku akan mati dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini. Dengan cara ini, dan bukan dengan cara yang lain, aku akan musnah. Aku takut pada apa yang kelak akan kuhadapi, bukan pada masa depan itu sendiri, tapi pada akibat-akibatnya.” (h. 152)

Seperti karakter-karakter Poe yang lain, Roderick Usher (sang teman tokoh utama kita) mengidap semacam ketakutan hebat. Adik perempuan Usher baru saja meninggal dan tokoh utama kita menemani Usher dalam upaya membuat lelaki itu bersemangat. Akan tetapi, di suatu malam berbadai, ketika mereka sedang membaca cerita kesatria Etherled, dinding kediaman Usher ikut bergetar. Akhirnya seperti biasa, sangat dramatis.

Seperti kisah-kisah Poe yang lain, cerita ini ditulis dengan sangat detail. Poe benar-benar berusaha menggambarkan bagaimana keadaan di sekitar tokoh-tokohnya. Detail yang mengangumkan sekaligus memiliki kecenderugan membuat bosan. Tapi, saya pikir, kekuatan utama Poe justru berada dalam cara penulisannya—yang sayangnya berkurang lebih dari setengahnya karena yang saya baca versi terjemahan (meski jelas rasanya saya tidak akan sanggup membaca versi bahasa Inggrisnya yang antik itu dengan kapasitas pengetahuan saya hiks).

Obrolan Bersama Sesosok Mumi

Dalam kisah ini, narator kita diundang temannya untuk ikut membedah mumi. Lalu ternyata mumi yang mereka bedah hidup kembali. Well, hidup kembali sebenarnya kurang tepat karena menurut pengakuan sang mumi dia dijadikan mumi dalam keadaan hidup.

Setelah itu, terjadilah percakapan di antara mereka. Percakapan itu melibatkan perdebatan, ilmu pengetahuan siapa yang lebih maju antara masyarakat modern dengan masyarakat zaman mumi tersebut hidup.

Pada banyak sekali kesempatan di cerita ini, kita akan mengetahu bahwa bukan hanya satu atau dua ilmu pengetahuan modern yang dikembangkan dari apa yang diperoleh di masa lalu. Bahkan saya mendengar banyak nama baru yang menyumbangkan dasar dalam pengetahuan umum di masa kini.

Meski demikian, pada akhirnya perdebatan itu dimenangkan oleh masyarakat modern. Namun, entah kenapa hal ini menjadi sebuah ironi bagi saya. Bukankah sudah suatu keharusan bahwa ilmu pengetahuan berkembang seiring perkembangan waktu, lantas kenapa diperdebatkan? Bahkan tokoh utama kita terlihat sekali sangat tidak mengetahui sejarah—seperti layaknya banyak manusia di zaman serba modern ini (termasuk saya). Ironis sekali, kan?

Tidak ada kemenangan lain yang lebih berarti, tidak ada kekalahan lain yang begitu merendahkan martabat. (h. 203)


Secara keseluruhan, novel ini sangat-sangat layak dibaca. Beberapa jelas membuat kita bergidik karena unsur gotik yang menjadi ciri khas Edgar Allan Poe dalam baris-baris kalimatnya, tapi kesemuannya memberikan berbagai pandangan menarik soal kehidupan. Memang layak sekali novel ini dikategorikan karya klasik—sebuah karya yang layak dibaca kapan pun, di mana pun, dan oleh siapa pun.

Selamat membaca!

Advertisements

11 thoughts on “7 Kisah Klasik Edgar Allan Poe

  1. Halooo … Suka sama review dari tiap ceritanya. Aku paling suka sih Kucing Hitam. Karena kucing hitam ini mitos yang ada sampai sekarang. Bahkan Edgar Allan Poe berhasil mengubah sudut pandangnya. Aku tertarik bangetttssss. Meskipun di setiap negara mitos tentang kucing hitam ini selalu berbeda. Tapi, aku nggak pernah bosan untuk membaca berbagai kisahnya. Resensi kakak keren! Semangat terus ya 🙂

  2. Jadi penasaran….Kayaknya menarik banget.

    Tapi gaya bahasanya terlalu detail ya? Kayaknya aku bakal bosen (.___.) <– tipe yang lemah baca narasi panjang-panjang.

    • Aku beberapa dilewatin kok baca narasinya, tapi akhirnya suka balik kubaca lagi sih pas udah sampai bagian “naik”nya, hihi. Dan karena ini cerita pendek jadi ya aku kuat bacanya. Hihi.

  3. Wah, suka sama reviewnya. Apalagi isinya bukan hanya satu cerpen saja.
    Dan saya suka ulasan Jantung yang Berkisah. Kesannya kayak baca cerpen2 psikopat ya.
    Dan kayaknya saat baca ini perlu konsentrasi tingkat tinggi ya 😀
    Terima Kasih reviewnya ^^

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s