Paper Town – John Green

paper town by john green

Judul: Paper Town
Penulis: John Green
Penerjemah: Angelic Zaizai
Penerbit: Gramedia
Tebal: 360 halaman

Tapi keajaibanku berbeda: dari semua rumah di subdivisi di seantero Florida, aku tinggal bersebelaan dengan Margo Roth Spiegelman. (h. 9)

Quentin dan Margo tinggal bersebelahan. Kedua orang tua mereka adalah sahabat baik. Rumah yang dekat dan orang tua yang akrab membuat keduanya sering main bersama. Lengkap sudah syarat dan kondisi yang membuat mereka menjadi “sahabat masa kecil yang kemudian saling menyukai.”

Tapi, nasib Quentin tidak seindah itu. Dia memang selalu naksir Margo sejak kecil, tapi gadis itu telah menggandeng seorang cowok paling populer di sekolah. Bahkan Margo tidak pernah benar-benar lagi dekat dengan Quentin sejak sembilan tahun yang lalu.

Makanya Quentin hanya bisa menatap bingung ketika mendadak Margo menyelinap dalam kamarnya lewat jendela di suatu malam.

“Jadi, seperti kubilang tadi, aku butuh mobil. Aku juga butuh kau menyetirnya, sebab ada sebelas hal yang perlu kukerjakan malam ini, dan setidaknya lima di antaranya butuh seseorang untuk membawaku kabur secepat-cepatnya.” (h. 35)

Malam itu menjadi malam yang panjang tapi sangat menyenangkan bagi Quentin. Mereka berbelanja, mereka membalaskan dendam, mereka menaiki SunTrust Bulding, hingga membobol masuk Sea World. Ketika dia berpisah dengan Margo di pagi hari, dia pikir esok kebersamaan mereka akan semenyenangkan ketika dulu kanak-kanak. Tapi, ternyata Quenti keliru.

Esoknya dan esoknya lagi dan hari-hari selanjutnya, Margo menghilang.

Pace yang Lambat

Pada bagian I, Senar, saya jelas menikmati. Saya suka melihat bagaimana kehidupan seorang Quentin diacak-acak Margo. Bagaimana kedua orang itu memacu adrenalin saya dalam petualangan mereka di malam hari.

Namun, di paruh awal Bagian II, Wadah, saya merasa segalanya berjalan sangat-sangat lambat. Paper Town merupakan novel ketiga dari John Green yang saya baca, dan saya harus mengakui bahwa sering kali pace novel-novel beliau memang lambat (makanya saya tidak bisa menyelesaikan TFiOS lol).

Memang bagian awal dari Wadah itu perlu bagi pembaca untuk mengenal Ben, Radar, dan Lacey yang akan menjadi rekan seperjalanan Quentin. Namun, bagian ini tidak bisa dipungkiri sangat membuat saya bosan. Oh, meski saya tidak bosan pada interaksi Quentin, Ben, dan Radar. Saya suka melihat mereka lol. Manis.

Saya suka bagaimana John Green membalut kisah persahabatan ketiga pemuda ini. Bagaimana mereka melalui hal demi hal untuk menjadi sahabat yang semakin saling memahami—serta bahu-membahu menyibak misteri di balik kepergian Margo.

“Hanya berkata: hentikan berpikir Ben harus menjadi kau, dan dia harus berhenti berpikir kau harus menjadi dia, dan kalian pasti akan baik-baik saja.” (h. 223)

Margo-like

Sosok seperti Margo pastilah ada dalam kehidupan remaja kita. Gadis periang, populer, cantik, keren, dan yah cocok disebut ratu—sebagaimana Quentin menyebutnya. Gadis-gadis seperti ini seringkali jauh dari kita. Pusat perhatian, tidak tersentuh. Begitu juga Margo. Bagi Quentin, Margo adalah keajaiban. (Tidak harus seorang gadis, tentu saja. Artis, idola, yah semacam itu.)

Akan tetapi, pernahkan kita benar-benar mencoba menegerti mereka? Melihat dari sudut pandang mereka bagaimana kehidupan ini. Menyaksikan dari kacamata mereka ketidaksempuraan dalam hidup mereka. Seperti Quentin yang berusaha memahami Margo ketika gadis itu menghilang.

Kesalahan mendasar yang selalu kulakukan—dan dia, sejujurnya, selalu mendorongku melakukannya—adalah ini: Margo bukan keajaiban. Dia bukan petualangan. Dia bukan sosok yang luar biasa dan berharga. Dia hanya seorang gadis. (h. 229)

Novel ini, lewat petualangan Quentin dkk serta Margo, menunjukkkan pada kita bagaimana manusia melihat orang lain. Bagaiama seorang Margo dalam kepala teman masa kecilnya, orangtuanya, mantan pacarnya, sahabat baiknya, orang yang hanya mengenalnya lewat legendanya, atau orang-orang lainnya.

Orang-orang yang kita lihat layaknya orang-orang kertas yang tinggal di kota kertas. Dua dimensi. Kita mengenal mereka seperti apa yang kita inginkan, seperti kita melihat dalam cermin. Tapi, jika kita coba mengenal lebih dalam, kita akan tahu bahwa orang-orang yang kita lihat tidak hanya terdiri dari apa yang terlihat.

“Mudah menyukai seseorang dari kejauhan. Tapi ketika dia tak lagi menjadi sosok mengagumkan yang tak tersetuh atau apalah, dan mulai menjadi sekadar gadis biasa yang agak senang memerintah yang punya hubungan aneh dengan makanan dan sering rewel—maka pada dasarnya aku harus mulai menyukai seseorang yang benar-benar bebeda.” (h. 307)

Kepergian

Dan satu lagi, tema yang berusaha diangkat John Green dalam Paper Town adalah mengenai kepergian. Lewat kepergian Margo yang ditelusuri Quentin, kita jadi ikut merenung makna sebenarnya dari kepergian.

Kita jelas sering bepergian. Mulai dari pergi yang sederhana seperti piknik hingga “pergi dari keadaan kita yang sebelumnya”. Kepergian yang terakhir jelas akan menyisakan perpisahan dan kehilangan dan perubahan. John Green dengan sangat baik mendefiniskan kepergian. Bagaimana pergi menjadi hal sangat-sangat berat untuk dilakukan. Tapi, ketika kita melakukannya, hal itu ternyata menjadi hal paling mudah.

Berat sekali untu pergi—sampai kita pergi. Dan kemudian itu menjadi tindakan termudah di dunia. (h. 262)

Kepergian ini bisa saya definisikan seperti: beranjak dewasa. Bagaimana kita tumbuh menjadi semakin dewasa dengan meninggalkan masa kecil kita. Pada tahap anak-anak menjadi remaja, kepergian ini tidak akan begitu terasa menyakitkan. Tapi, begitu kita berada di posisi Quentin, yang akan meninggalkan masa-masa remaja menuju kedewasaan, kepergian itu terasa berat.

Walau demikian, Quentin berhasil menguak rahasia dari kepergian. Rahasia yang sadar maupun tidak, mungkin telah kita ketahui. Sesuatu yang menjadikan pergi seperti candu.

Karena Margo tahu rahasia dari kepergian, rahasia yang baru saja kuketahui: kepergian terasa menyenangkan dan murni hanya ketika kita meninggalkan sesuatu yang penting, sesuatu yang berarti bagi kita. (h. 268)

Lalu, kadang, bisa saja kita tidak sadar bahwa kita telah pergi. Kita tidak akan menyadari bahwa kita melangkah ketika kita hanya menatap ke depan, kan?

“Maksudku, pada suatu waktu, kau harus berhenti mendongak menatap langit, atau suatu hari nanti kau akan menatap ke bawah dan mendapati bahwa kau pun melayang pergi.” (h. 174)

Bacaan yang sangat bagus. Seperti karya John Green lain yang sarat makna soal kehidupan, kali ini dipenuhi dengan misteri yang membuat pembaca ingin segera menguaknya. Saya rekomendasikan novel ini bagi remaja dan mereka yang pernah remaja.

Selamat membaca!

Advertisements

10 thoughts on “Paper Town – John Green

  1. Agak mirip2 Looking for Alaska ya kayanya. Aku baca John Green karena karakternya yg filosofis, jd ga sekadar hura2 remaja aja

  2. Awalnya aku gagal fokus sih aku kira Margo itu cowok dan Quentin itu cewek. Heheheeee Ini kepergian yang menyakitkan menurutku bagi Quentin. Duh … Cintanya terpendam deh. Pembaca harus menjadi detektif nih 🙂

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s