Antologi · Resensi

Lima Teguk Kopi

lima teguk kopi - antologi owop
Judul: Lima Teguk Kopi
Penulis: One Week One Paper
Penyunting: Oddie Frente dan Sai’d Al-Khudry
Tebal: vi + 281 halaman


Saya mendapat novel ini dari seorang teman, panggil saja Ru. Buku ini adalah antologi yang dibuatnya bersama teman-teman komunitas OWOP (One Week One Paper).

Begal Cinta

Tema yang diangkat dalam antologi ini adalah Begal CInta. Saya curiga kata “begal” digunakan karena belakangan “begal motor” sedang populer. Mungkin OWOP bukan hanya ingin mendompleng ketenaran begal motor, tapi juga berniat menunjukkan bahwa kata “begal” tidak selalu identik dengan kekerasan fisik. Begal juga bisa dipadankan dengan cinta.

Yah, jangan terlalu pikirkan bahasan saya di atas. 😀

Begal Cinta bisa disamakan dengan begal-begal yang lain. Namun, dalam antologi ini yang dibegal adalah cinta. Itulah kenapa cerpen dalam antologi ini identik dengan akhir yang tidak bahagia. Sederhananya kisah kasih tidak sampai, putus cinta, patah hati.

Dari dua puluh tiga cerpen, mayoritas didominasi oleh kisah cinta dua insan yang berakhir tragis. Yah, cerita roman berunsur cinta memang identik dengan pasangan sih. Namun, ada juga kisah pembegalan terhadap cinta orang tua. Dalam Lembayung Senja di Langit Sukoanyar, Sarah Lathifah menuliskan kisah seorang ibu yang harus merelakan nasib anaknya karena kemiskinan. DI Bunuh Aku, Ayah! karya Nisrina Kamilia, ada Recha yang merigharapkan kasih sayang dari sang ayah.

Selain itu, ada juga cerpen yang berakhir indah. Terlepas dari tema utamanya yang berupa Begal Cinta, ada saja penulis yang menyulap keadaan tersebut menjadi berakhir bahagia.

Misalnya dalam Aku Ketar-ketir, Kamu Cengar-cengir, Norma Gesita menghadirkan kisah sepasang suami-istri yang terlihat merenggang tapi sebenarnya tidak juga. Cerpen ini termasuk salah satu kisah dengan twist tidak terduga (meski saya sudah menyimpan kecurigaan sedari awal).

Ada juga Naf dan Rio bersama Buku Ajaib karangan Sarah Fitri yang berupa kisah persahabatan menjadi cinta. Meski sampai paruh cerita terlihat hubungan kedua sahabat ini akan kandas, tapi semakin menuju akhir semuanya perlahan berubah.

Favorit

Dari dua puluh cerpen tersebut, cerpen pertama yang terlihat berbeda adalah Pungguk dan Awan HItam. Cerpen karya Nurul Maulidia ini ditulis dengan bahasa yang lugas (setelah cerpen sebelumnya rada-rada sastra yang sayangnya malah bikin saya pusing). Di bagian awal, pembaca seakan disuguhkan kisah cinta biasa, Frank yang akan dijodohkan sang mama dengan Mika, tetangga baru mereka yang cantik.

“Kalau kamu dijodohin sama Mika, mau nggak, Frank?” (h. 14)

Namun, semakin ke belakang, pembaca akan mulai merasakan sedikit kejanggalan. Kejanggalan yang berakhir pada sebuah twist tidak terduga. Perminan plot yang bagus sekali. Cerpen ini salah satu favorit saya. 🙂

Ada juga Menyapa Lampu Jalan karya Raditya Nugi. Hawa cerpen ini sastra sekali. Penulis menceritakan tentang Martin, mantan tunangan Claudya (sang narator). Tulisannya rapi, lebih dari dari sebagian besar cerpen lainnya. Ceritanya sendiri khas sekali dengan sastra. Dalam cerpen tersebut Claudya bercerita tentang malam di mana Martin menceritakan masa lalunya, malam di mana Martin memperkenalkan Claudya pada lampu-lampu jalan.

“Kamu mau tahu kenapa di sini gelap?”
“Kenapa?”
“Karena lampu-lampu jalan di sini memilih mati bersama seorang perempuan.” (h. 67)

Absurd, yah benar. Namun, entahlah saya merasa terperangkap sekali ketika membaca karya ini. Keren!

Seperti yang sudah saya singgung di awal, Norman Gesita dalam Aku Ketar-ketir, Kamu Cengar-cengir berhasil menyuguhkan kisah suami-istri dengan akhir tidak terkira. Pembukaannya juga menarik, tentang sang suami yang berbincang bersama sahabat (sahabat yang disangka pasangan homonya sedari kecil). Cerpen ini terasa segar dan berhasil menciptakan senyum di antara cerpen-cerpen berakhir sendu.

“Mungkin dia selingkuh—”
Men! Lo yang bener aja dong kalo ngomong!”
“Mungkin, Bro. Mungkin…. Kan gue cuma mengutarakan berbagai kemungkinan aja.” (h. 131)

Anisa Fatwa Sari di Telikung Angan berhasil menuliskan ide biasa dengan eksekusi yang sangat baik. Telikung Angan mengisahkan persahabatan Safa dan Hani yang diterpa badai bernama cinta. Badai ini dimulai dari candaan yang mereka lontarkan.

“Han, bagaimana jika calon suamimu akhirnya menyukaiku?” (h. 182)

Candaan yang tanpa mereka ketahui berbuah kenyataan. Pada saat itulah persahabatan mereka diuji. Ditulis dengan rapi dan bagus, Telikung Angan termasuk karya yang saya nikmati. Cerpen ini juga menyampaikan pesan yang dalam.

Berhati-hatilah dengan apa yang engkau angankan, di satu jalan bisa jadi ia akan menikammu dalam diam. (h. 188)

Cerpen terakhir yang saya suka adalah karya Oddie Frenter berjudul Tak Ada Waskita Untuk Nabila. Cerpen ini becerita tentang seorang peramal yang didatangi oleh laki-laki untuk meramalkan hubungan dengan seorang gadis bernama Nabila. Namun, ternyata Nabila ini bukan hanya sudah memiliki kekasih atau ditunangkan oleh orang tuanya, gadis itu juga dikagumi oleh orang lain!

“Nabila sudah punya kekasih dan dijodohkan pula dengan pemuda pilihan orang tuanya. Mas ini mau jadi apanya lagi?!” (h. 273)

Terakhir

Selain dari cerpen-cerpen yang saya jabarkan di atas, mayoritas cerpen yang lain merupakan cerpen yang ditulis dengan baik. Sayangnya, tidak ada yang menonjol sehingga tidak merebut perhatian saya (termasuk cerpen yang menjadi judul novel ini). Hanya beberapa cerpen yang tidak saya nikmati, sebagian karena eksekusinya yang buru-buru atau jalan ceritanya yang terlalu lempeng.

Terlepas dari itu, antologi ini jelas membuktikan kemampuan komunitas OWOP, komunitas yang bertekad menelurkan satu karya setiap satu minggu. 🙂

Terakhir, sebuah petikan yang menggambarkan judul antologi ini.

Kopi adalah perpaduan dari dua unsur, kejutan dan kenangan. Saat pertama kali disesap, kejutan yang diberikan oleh zat ajaib bernama kafein segera berubah menjadi rangkaian sugesti dalam otak. Membuat kita berpikir ‘waras terjaga’. Tetapi setelanya hanya akan tersisa ampas di dasar gelas. Sama perihalnya urusan cinta. (h. 2)

Selamat membaca!

Advertisements

4 thoughts on “Lima Teguk Kopi

  1. Kakak nggak tertarik sama judulnya ya Kak? Kenapa kak? Terlalu umum ya Kak temanya? Aku malah tertarik sama judulnya karena cerita yang biasanya dihiasi oleh kopi terasa pahitnya. heheheheee Review kakak seperti biasa to the point.

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s