Friendship · PING!!! · Resensi

Permintaan Terakhir – Helda Tunkeme Xwp

Judul: Permintaan Terakhir
Penulis: Helda Tunkeme Xwp
Penyunting: Itanovidyaa
Penerbit: PING!!!
Tebal: 304 halaman


Khazilla, seorang gadis yang menjadi tulang punggung keluarga divonis memiliki tumor otak. Usianya tidak sampai satu tahun lagi. Dengan sangat terpaksa, gadis itu memutus hubungannya dengan Radin, sang kekasih. Baginya, waktu yang masih dimiliki sebelum ajal menjemputnya harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mencari uang.

Tara, calon dokter yang mencintai petualangan serta idealis. Dalam sebuah perjalanan pulang, gadis itu bertemu Khazilla. Meski pada awalnya tidak suka dengan sikap angkuh Khazilla, perlahan Tara mulai memahami gadis itu. Dia juga mulai mengetahui alasan di balik sikap dingin Khazilla.

Pertemuan tersebut membuat kedua gadis itu membuat mereka belajar soal persahabatan.

“Jika aku tidak bisa membahagiakan diri sendiri, apa mungkin dengan melakukannya akan bisa membahagiakan orang lain?” (h. 87)

Typo yang Membuat Jengah

Sebelum saya mulai mengulas novel ini, ada satu hal penting yang ingin saya sampaikan. Jadi, saya benar-benar merasa jengah dengan novel ini. Alasannya satu: kesalahan penulisan “di”.

Jika hanya satu-dua kali, okelah mungkin bisa saya anggap lalu. Namun, nyaris sepanjang tiga ratus halaman ini saya menemukan kesalahan penulisan yang sama. Duh, rasanya gatal sekali saya mau menutup novel ini karena kesalahan berulang-ulang ini.

Penulis kerap sekali salah menggunakan “di” sebagai awalan. Sumpah saya bingung. Ini kok ada kesalahan sefatal ini dan sebanyak ini tapi bukunya sudah ada di tangan? Duh, rasanya gatel banget. Meski akhirnya saya coba abaikan, refleks saya selalu menandai ketika menemukan kesalahan ini. Alhasil, post-it yang saya tempel mayoritas didominasi kesalahan ini. 😦

Kesalahan ini didominasi dengan kesalahan penulisan “di” sebagai awalan. “Di” sebagai awalan jelas tidak membutuhkan spasi, dia langsung tersambung. Beda dengan “di” sebagai preposisi yang terpisah dari kata setelahnya. Jadi, di telan (h. 11), di beli (h. 20), di suruh (h. 37), di operasi (h. 53, h. 78, h. 87, h. 207), di tanya (h. 107), di bayar (h. 111), di isi (h. 137), di dengar (h. 148), di bicarakan (h. 158), di gelar (h. 161), di panggil (h. 172), di kasih (h. 218), di kenal (h. 252), dan yang lainnya yang mungkin terlewat mata saya, seharusnya ditulis bersambung.

Dih saya gatel banget pokoknya pas baca ini.

Tara-Khazilla

Permintaan Terakhir berfokus pada kisah persahabatan Tara dan Khazilla. Terlepas dari betapa instannya persahabatan mereka terjadi (well, mereka baru bertemu dan lalu Khazilla—yang saat itu telah divonis sakit dan berjanji tidak membuat hubungan akrab dengan orang lain—langsung luluh oleh Tara hanya dalam beberapa (yang bisa dihitung dengan satu tangan) pertemuan?), kedua gadis ini menunjukkan bahwa persahabatan itu jauh lebih berharga dari apa pun.

Betapa Tara rela berkorban untuk Khazilla, betapa Tara tidak pernah menyerah soal penyakit Khazilla, betapa Tara selalu berusaha berbagi semangat dengan Khazilla. Di sisi lain, Khazilla tidak men-judge Tara ketika gadis itu melakukan kesalahan, Khazilla selalu mendukung impian Tara menjadi dokter, Khazilla menyakinkan Tara di kala gadis itu goyah melangkah. Hubungan kedua gadis itu banyak mengajarkan kita soal persahabatan sejati.

“Sahabat sejati tak harus ada di sisi, tapi di hati.” (h. 135)

Alurnya sendiri cukup lambat. Selain itu, kisah ini tergolong selalu berakhir dengan baik dan indah. Tokoh-tokoh kita memang dilanda masalah, mulai dari perihal keuangan hingga masa depan. Namun, mereka selalu saja berhasil melaluinya dengan baik. Seakan hidup mereka bagai berjalan di jalan yang mulus tanpa hambatan. Penulis kurang memperlihatkan bagaimana tokoh-tokoh kita struggling.

Hal itu sangat disayangkan karena penulis sudah berhasil membuat percikan perjuangan itu. Akan tetapi, eksekusinya belum bagus. Padahal perjuangan Khazilla melawan penyakitnya dan Tara yang tidak pernah berhenti berharap mengajarkan kita untuk pantang menyerah. Kedua gadis ini memberitahukan kita bahwa hidup harus diperjuangkan.

“Karena, sebagai manusia yang diberi kesempatan, ya harus digunakan dengan sebaik mungkin.” (h. 33)

Terakhir, ada satu kutipan yang saya suka. Sebuah kutipan sederhana yang patut direnungkan.

“Kita yang menciptakan waktu, bukan waktu yang mengatur kita.” (h. 216)

Selamat membaca!

Advertisements

4 thoughts on “Permintaan Terakhir – Helda Tunkeme Xwp

  1. “Tidak boleh menyia-nyiakan waktu yang kita buat.” Heheheheee Berarti setiap baca kakak kasih garis merah ya? Heheheee Mungkin pendapatku juga setelah baca review kakak, kilas balik perjuangan di antara persahabatan akan lebih mengeksplor alur ceritanya. 🙂

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s