Dear Miss Tuddels – Ginger Elyse Shelley

Judul: Dear Miss Tuddels
Penulis: Ginger Elyse Shelley
Penyunting: Misni
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 224 halaman


Kimberley Tuddels. Pada usia 12 tahun dia kehilangan ayahnya, anggota keluarga satu-satunya. Bibinya, Agatha, lalu membawa gadis itu ke kediaman Macgregor. Sejak saat itu, Kimberley Tuddels menjadi pengasuh Tuan Muda Macgregor bersama Mrs. DiBeneditto.

Matteus Magregor. Tuan Muda keluarga Macgregor pecinta anjing. Sejak kecil diasuh oleh Mrs. DiBeneditto, yang lebih akrab dipanggilnya Granny. Granny sudah seperti neneknya sendiri. Bahkan Granny jauh lebih sering ditemuinya ketimbang kedua orang tua kandung Matthew. Pada suatu hari, Agatha Springer membawa seorang gadis menjadi asisten untuk Granny.

“Miss Tuddels, pria yang baik memperlakukan wanita sebagaimana dia harus diperlakukan.” (h. 11)

Sejak pertemuan pertama, Matthew memperlakukan Kimberley dengan sangat baik. Semua itu terjadi berkat didikan Granny. Kimberley tidak pernah menyangka bahwa majikan bangsawannya sebaik Matthew.

Pertemuan keduanya terjadi pada tahun 1802. Pertemuan yang tanpa keduanya sadari membawa mereka pada suatu hubungan yang berbeda. Hubungan yang tidak seharusnya ada pada majikan dan pelayan.

Kisah Cinta Zaman Victoria

Sejak membaca Dear Miss Tuddels, saya langsung teringat pada sebuah manga yang dulu saya baca. Judulnya Emma, bercerita tentang hal yang sama: kisah cinta bangsawan dan pelayan di era Victoria. Meskipun pada manga tersebut pelayan yang bersangkutan bukanlah pelayan di rumah sang bangsawan.

Saya tidak tahu apakah Ginger Elyse Shelley membaca manga tersebut atau tidak, tapi feel yang saya rasakan ketika membaca Dear Miss Tuddels dan Emma sangat mirip. Jadi, saya merekomendasikan manga tersebut bagi siapa pun yang menikmati novel ini. 🙂

“Memangnya seperti apa bangsawan dalam bayanganmu?”
“Entahlah. Sombong. Dingin. Keras. Seperti itu.”
“Oh, kurasa kau tidak salah-salah amat.”
“Oh, ya? Kurasa keluarga Anda baik.”
“Hmm, bisa jadi. Makanya, kami susah tambah kaya. Jadi orang baik di tengah-tengah lautan orang picik itu susah, tahu?” (h. 39)

Lewat hubungan Kimberley dan Matthew, kita dikenalkan pada zaman Victoria. Bagi saya, penulis cukup berhasil menghadirkan “nuansa Victoria” dalam novel ini. Lewat penulisan latar belakang dan percakapan yang ada penulis berhasil menghadirkan Inggris pada masa itu. Sayangnya, saya tidak merasakan kehidupan bangsawan yang seharusnya dijalani Matthew.

Dalam Dear Miss Tuddels, saya tidak mendapati Matthew banyak bergaul dengan kalangan atas. Yang ada dalam novel tersebut hanyalah kegiatan bersama Matthew dan Kimberley. Saya tidak menemukan Matthew yang sibuk memenuhi undangan pesta, mengadakan jamuan, atau berkegiatan layaknya bangsawan masa itu. Bahkan saya tidak mendapati Matthew mulai sibuk membantu ayahnya bekerja—well, pada akhirnya Matthew yang akan menjadi penggantinya kan?

Di sisi Kimberley juga saya tidak meraskaan nuansa pelayan zaman Victoria banyak diungkapkan. Dear Miss Tuddels benar-benar fokus pada hubungan Matthew dan Kimberley. Itulah mengapa saya merasa kurang greget. Ceritanya mengalir begitu saja dan fokus pada keduanya. Ginger Elyse Shelley kurang mengeskplor kehidupan bangsawan dan pelayan kedua tokoh utamanya.

Meski demikian, penulis berhasil menghadirkan kegalauan akan perbedaan status Kimberley dan Matthew dalam novel ini. Saya cukup ikut merasa terombang-ambing ketika membaca

“Oh, Matthew, kita tidak seharusnya melakukan ini. Ini salah, kan?”
“Tidak. Kenapa harus salah? Kenapa harus takut? Apa yang akan hilang darimu, Kimberley? Masyarakat tidak berarti apa-apa bagi kita, seperti kita tidak berarti apa-apa bagi masyarakat.” (h. 104)

Ide yang Tidak Pernah Mati

Hubungan cinta yang penuh perbedaan merupakan ide yang tidak akan pernah mati. Novel ini pun mengangkat perbedaan tersebut dalam kisah cinta yang terjalin di antara kedua tokohnya. Saya menikmati ide cerita beda status sosial yang disajikan.

“Cinta bukan alasan untuk menghalalkan segala cara.” (h. 170)

Bagi saya, penulisan Dear Miss Tuddels rapi, mengalir, enak dibaca. Tidak salah setelah mengetahui bahwa Ginger Elyse adalah pseudo dari seorang penulis yang cukup terkenal. Hubungan karakternya juga berhasil membuat saya jatuh hati. Luar biasa sekali penulis yang satu ini ternyata, ya. :’)

Yah kembali ke ceritanya, saya cukup sebal sama Matthew, yang terlalu lemah. Matthew itu seperti tidak punya keahlian (atau mungkin ini hanya perasaan saya ya haha). Kimberley sendiri juga naif sih. Saya rasa kisah cinta mereka itu terlalu … naif. Keduanya masih sangat muda juga. Meski demikian, anehnya, saya menikmati. Mungkin karena penulisannya yang enak ya. Ending-nya juga sangat memuaskan.

Meski demikian lagi, saya suka bagaimana penulis menghasilkan kutipan lewat karakter Matthew.

“Nama saya, gelar saya; rumah, pikiran, seluruh bagian dari kehidupan saya adalah milik keluarga saya, Bahkan wanita yang saya cintai adalah milik keluarga saya. Satu-satunya ruang yang hanya saya sendiri miliki adalah hati saya, Sir. Saya tidak ingin dipenjara dalam istana saya sendiri.” (h. 171-172)

Duh, rasanya pas sampai bagian itu tuh nyes banget. :”)

Dear Miss Tuddles saya rekomendasikan bagi mereka yang mencintai historical romance. Juga bagi mereka yang suka membaca cerita romantis dengan gaya bahasa sangat mengalir.

Terakhir, saya berikan sebuah kutipan lain yang saya suka:

“Mana mungkin aku bisa mengingatmu sebagai kenangan? Kau tak akan pernah meninggalkan hatiku.” (h. 176)

Selamat membaca!

Advertisements

5 thoughts on “Dear Miss Tuddels – Ginger Elyse Shelley

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s