Klasik · Resensi

The Black Arrow – Robert Louis Stevenson

Judul: The Black Arrow
Penulis: Robert Louis Stevenson

The Black Arrow bercerita tentang petualangan Richard Shelton. Richard atau yang lebih sering disapa Dick (sebenarnya saya tuh bingung ini Dick dari mana ya ;;) kehilangan orang tuanya sehingga diasuh oleh Sir Daniel Brackley.

An arrow sang in the air, like a huge hornet; it struck old Appleyard between the shoulder-blades, and pierced him clean through, and he fell forward on his face among the cabbages.

Kisah ini dimulai ketika mereka mendapati panah hitam telah membuhuh Appleyard, salah seorang rekan Sir Daniel. Setelah kematian Appleyard dengan panah hitam, Dick mendapati tulisan soal

I had four black arrows under my belt,
Four for the greefs that I have felt,
Four for the nomber of ill menne
That have opressid me now and then.

Dalam tulisan selanjutnya, Dick mendapati bahwa Bennet Hatch, Sir Oliver, dan Sir Daniel adalah nama yang selanjutnya akan menjadi korban. Panah-panah hitam inilah yang nantinya membuat Dick mencurigai Sir Daniel dan rekan-rekannya terlibat dalam kematian ayahnya, Harry Shelton.

Dalam perjalan Dick menuju Tunstall Moat dari Kettley, Dick bertemu the Black Arrow (orang-orang yang membunuh Appleyard). Dari anggota the Black Arrow, kecurigaan Dick tentang keterlibatan sir Daniel atas meninggalnya sang ayah semakin meningkat. Kepada Bennet Hatch yang sekarat setelah rombongan Sir Daniel dicegat the Black Arrow, Dick bertanya soal kematian sang ayah. Pertanyaan yang sama sekali tidak dijawab.

“Had his hands been clean, he would have spoken. His silence did confess the secret louder that words.”

Kecurigaan Dick menjadi pasti ketika dia hendak dibunuh oleh Sir Daniel. Akhirnya, Dick melarikan diri dari wilayah kekuasaan Sir Daniel dan bergabung dengan the Black Arrow.

Historical Fiction

Saya mulai membaca novel ini karena tantangan dari Mba Bzee. Saya tidak tahu alasan beliau memilihkan buku ini, mungkin karena saya memasukan Treasure Island RLS dalam rak “to-read” di GR. Mungkin juga karena saya pernah membaca karya RLS lain yang berjudul Strange Cases of Dr. Jekyll and Mrs. Hyde. Atau mungkin juga karena alasan lain. Ketika saya sempat bertanya, Mba Bzee menjawab: “Buku ini ada unsur sejarahnya juga.”

Saya mengunduh novel ini dari Gutenberg sebelum tantangan Mba Bzee diresmikan. Tapi, saya baru membukanya pada tanggal 7 Desember. Hari itu, saya mencoba membaca The Black Arrow, disela IRF. Sayang, tak lama kemudian saya langsung menyerah. Lalu, saya mulai benar-benar membaca novel ini sepulang dari IRF. Tanggal 12 lalu saya akhirnya berhasil menyelesaikan karya ini.

Begitu memulai baca, saya harus sepakat dengan genre yang tercantum pada GR soal novel ini. The Black Arrow memang cocok dikategorikan sebagai historcial fiction. Selain dari latar waktunya yang bertepatan dengan masa kematian King Henry VI, novel ini berdekatan dengan War of Roses. Pantas saja jika ada kata “A tale of the two Roses”.

Hal lain yang membuat saya merasakan suasana historical-nya (tentu selain deskripsi latar dan waktu yang diberikan penulis) adalah perihal budaya dan kebiasaan.

“… was burned for a witch and the wearing of men’s clothing in spite of nature.”

Historical Romance

Memasuki bagian kedua, setelah Dick bertemu John Matcham, saya baru menyadari bahwa The Black Arrow juga sebuah cerita roman. Pertemuan Dick dengan John terjadi pada perjalanan di Holywood. Pada awal pertemuan, John mengenalkan dirinya sebagai seorang yang melarikan diri dari Sir Daniel. Belakangan, sebelum Richard kabur dari kediaman Brakley, Dick baru tahu identitas asli John. John Matcham adalah seorang gadis bernama Joanna Sedley, ahli waris di bawah wali Lord Foxham.

Dari John-lah, Dick tahu bahwa Sir Daniel telah merancang pernikahannya. Pernikahan yang diharap Sir Daniel memperkuat kedudukannya di atas Dick.

“Well! marriage is like death, it comes to all,” said Dick.

Memasuki bagian ketiga, saya mulai menyadari bahwa aspek roman dalam The Black Arrow ini cukup kental. Ketika identitas asli Joanna sudah diketahui Dick, percakapan yang terjadi di antara mereka itu … membuat saya teringat tulisan-tulisan Shakespeare. Dengan gaya penulisan RLS di novel ini yang zaman dahulu itu, percakapan Dick dan Joanna itu terasa penuh bunga.

“‘Tis like despair; but while there’s life, Joanna, there is hope.”

Tentang The Black Arrow

Hal yang paling menyulitkan dari The Black Arrow itu bahasa percakapannya. Sumpah. Saya sering gagal paham ketika tokoh-tokohnya mulai bercakap. Bahasanya itu berbunga banget gitu, ala-ala karyanya Shakespear gitu lho yang nggak langsung to the point.

Misalnya aja nih, ketika Lawless (salah satu kawanan the Black Arrow) mencoba menjelaskan panah hitam kepada tokoh utama kita.

“A black arrow, Master Dick, is the seal of our abbey; it showeth you who writ the bill.”

Sampai sekarang saya masih bingung dengan yang dimaksudkan. Yang saya tahu pasti hanyalah panah hitam itu berarti “seal of our abbey”, kalimat selanjutnya saya nggak paham. ;;;;

Itu baru satu. Selanjutnya, ada lebih banyak lagi kalimat yang saya nggak paham benar maksudnya. Pada awalnya, saya mencoba memahami semuanya. Namun, lama-kelamaan ada semakin banyak dan banyak dan banyak kalimat serupa. Akhirnya, saya baca bablas saja haha. Yang penting saya cukup paham dengan maksud ceritanya.

Beberapa hal yang saya highlight ketika membaca The Black Arrow adalah perihal Sir Daniel. Karakter Sir Daniel ini kuat. Dia licik, rakus. Oportunis sejati. Sir Daniel tidak segan berganti kesetiaan antara York dan Lancaster demi kepentingannya. Dia dengan mudah mengorbankan orang lain demi dirinya. Karakter yang juga tergambar pada bawahannya.

It was not Sir Daniel alone who was a mark for hatred. His men, conscious of impunity, had carried themselves cruelly through all the country. Harsh commands had been harshly executed.

Hal lain yang paling saya ingat adalah petuah Will Lawless kepada Dick.

“But, fool, child, I am a thief by trade and birth and habit. If my bottle were empty and my mouth dry, I would rob you, dear child, as sure as I love, honour, and admire your parts and person.”

Lawless membuat Dick (juga pembaca, mungkin) bahwa kita tetap harus waspada meski berada di antara teman-teman terpercaya kita.

Terakhir, The Black Arrow pasti saya kategorikan sebagai salah satu buku paling berkesan yang saya baca di 2015. Dengan segala perjuangan yang saya lalui untuk menamatkannya meski sebagian besar disebabkan keinginan saya menjadi salah satu yang tercepat menyelesaikan tantangan ini.

The Black Arrow saya rekomendasikan bagi mereka yang ingin membaca sebuah karya dengan unsur sejarah, yang dilengkapi kisah romannya.

Selamat membaca!

Advertisements

5 thoughts on “The Black Arrow – Robert Louis Stevenson

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s