Putri Kunang-Kunang – Titi Setiyoningsih

Judul: Putri Kunang-Kunang
Penulis: Titi Setiyoningsih
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 192 halaman

Dari tempat mereka berdiri, mereka bisa melihat matahari terbenam di ufuk barat. Kabel-kabel hitam dan burung-burung berterbangan menghiasi langit kemerahan.

Sanding mulai bisa merelakan pantainya. (h. 18)

Selama hidupnya, Sanding tinggal di kafe bersama ayahnya di pinggir pantai. Namun, segalanya berubah ketika dia harus pindah ke Kota Nusa di masa SMA. Kata ayah, mendiang ibu memintanya masuk ke SMA di kota.

Meski pada awalnya enggan, lambat lain Sanding mulai mencintai rumah barunya. Sebuah ruko yang dulu pernah menjadi kafe terkenal di masa jayanya. Dia mulai sibuk dengan sekolah, kelas drama, dan kafe baru ayah sehingga tidak lagi memikirkan pantai.

Di sekolah barunya, Sanding bertemu dengan Kala, cowok populer anak hartawan terkenal yang dihukum masuk kelas drama karena ketahuan berantem di pub. Di sana juga Kala bertemu Ragan, cowok yang menjahilinya sejak pertama bertemu.

Bagaimanakah kehidupan SMA Sanding setelah berkenalan dengan geng paling populer di SMA?

Khas Teenlit

Saya membaca novel ini murni karena judulnya. Entah kenapa terasa sangat unik. Saya penasaran. Dalam bayangan saya, novel ini akan mengandung unsur fantasi. Eh ternyata tidak sama sekali.

Putri Kunang-Kunang murni novel teenlit. Novel ini memiliki segala aspek yang sepatutnya ada dalam teenlit. Mari kita coba list.

Heroine yang biasa-biasa saja tapi terus jadi istimewa? Ada. Karakter cowok yang keren, populer, idola sekolah, belum lagi ganteng dan kaya raya? Ada. Karakter cewek menyebalkan yang jadi saingan heroin, biasanya populer dan cantik? Ada. Setting sekolah lengkap dengan acara bully-an? Ada. Apa lagi?

Yah, pokoknya ketika membaca novel ini saya langsung merasa kembali ke masa SMA, di mana teenlit sedang populer.

Walaupun begitu, saya tidak bisa memungkiri bahwa saya menikmati novel ini. Putri Kunang-Kunang ditulis dengan luwes. Saya cukup suka diksi pilihan pengarang. Rasanya kayak penuh nuansa sihir gitu (menurut saya, dan mungkin karena efek judul sih ya).

Gedung teater itu kini seperti puri tua peninggalan para raja dari negeri dongeng. Kusam dan berdebu. (h. 43)

Meski seringkali penulis memberikan penjelasan yang tidak perlu (sekaligus membosankan), semisal saat menjelaskan cerita Ramayana, pada akhirnya saya tidak banyak meloncati novel iniβ€”yah saya jelas melompati ketika penulis bercerita tentang Ramayaha yang udah saya tahu sih.

Secara keseluruhan, saya menikmati tulisan Kak Titi yang asyik ini. πŸ™‚

Soal Cerita

Sayangnya, saya nggak bisa terlalu menikmati ceritanya. Sampai sebelum bab Putri Kunang-Kunang, saya pikir novel ini memang teenlit biasa. Namun, di bab delapan itu segala keyakinan saya seakan digoyahkan.

Penulis mengenalkan kita pada Putri Kunang-Kunang. Si putri cahaya yang turun ke bumi dan menjelma jadi kunang-kunang. (Semacam) Dongeng yang mengisahkan hubungan kekeluargaan dua karakter utama cowok kita (Kala dan Ragan). Dongeng yang lebih mirip kalau saya sebut ramalan.

Iya, saya serius. Dongeng ini kayak denger ramalan sang terpilihnya Harry Potter. Atau ramalan yang menceritakan Percy Jackson. Atau ramalan yang mengatakan bahwa Eragon nggak akan tinggal di Alaegesia. Atau ramalan-ramalan yang lain.

Sayangnya, dongeng ini cuma diceritakan selewat lalu. Setelah itu, Putri Kunang-Kunang kembali menjadi novel teenlit dengan karakter remaja yang saling berintrik. Kala yang berusaha mendapatkan hati Sanding, Ragan yang masih jahil pada Sanding, dan masalah remaja khas di teenlit lainnya.

Lebih lagi akhir yang … tidak utuh. Serius deh ini kok menggantung. Tipe-tipe menggantung yang menyebalkan. Saya nggak terlalu masalah sama akhir yang gantung. Tapi saya jelas masalah sama akhir yang menggantung tanpa ada konklusi. Bikin saya jadi sebel sama Sanding atas pilihannya. 😐

Satu lagi yang sedikit saya permasalahkan itu soal nama. Serius nama “Kala” saya pikir pertama kali itu seorang cewek. Nama “Afro” itu saya pikir punya cowok (tapi ternyata Afrodit namanya). Nama Sanding sendiri cukup aneh. Kalau dipikir kata “Sanding” dan “Kala” itu kan “kata” dalam bahasa Indonesia ya?

Sama … sebenarnya Pulau Nusa yang jadi latar ini di mana sih? Itu aja sih yang bikin penasaran lainnya. Yang kebayang begitu mulai baca ini habisnya bukan Indonesia (meski namanya Indonesia banget, Jawa banget pula). Yang kebayang dalam pikiran saya itu latar Jepangβ€”entah kenapa.

Yah secara keseluruhan saya menikmati novel ini. Bacaan yang menyenangkan di Ijak. πŸ˜€

Advertisements

3 thoughts on “Putri Kunang-Kunang – Titi Setiyoningsih

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s