Siever – Winda Reksa

Siever - Winda Reksa
Judul:
Siever, Guardian of Victory
Penulis: Winda Reksa
Tebal: 294 halaman

Vance Peregrine pindah ke Mircea di tahun kedua. Setelah ditentang ayahnya, Vance akhirnya diperbolehkan mengembangkan kekuatan spesialnya—pneuma—di sekolah impiannya itu. Malang, seminggu sebelum Vance masuk sekolah, dia kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan pesawat. Selain karena waktu pindah sekolahnya yang tidak pas, kehilangan tersebut membuat Vance tidak mudah akrab dengan teman-temannya.

Untungnya di sana Vance bertemu Lee. Teman sekamar sekaligus sekelas yang ceria. Berkat Lee, Vance mengenal lebih banyak orang di Mircea.

Sebenarnya, Vance seharusnya ditemani oleh seorang kakak pembimbingnya. Setiap siswa baru Mircea selalu punya kakak pembimbing. Sayangnya, sosok kakak pembimbing itu tidak juga muncul meski kegiatan sekolah telah dimulai. Vance baru bertemu pembimbingnya dalam kelas pneuma di Trial Forest. Sang kakak pembimbing ternyata Avera Peregrine, ketua Siever—organisasi elit sekolah yang terdiri dari lima murid berbakat—yang memiliki nama belakang sama dengan Vance. Avera baru hadir di hadapan Vance karena sebelumnya dia sedang melakukan misi di luar.

Bersamaan dengan Vance yang semakin terbiasa dengan Mircea, dia melakukan sebuah kesalahan. Vance melahirkan monster dari kegelapan yang ada di hatinya.

“Setiap manusia lahir dari kegelapan.” (h.30)

Cerita yang Padat

Siever sangatlah padat. Begitu menerima buku ini dari pengarangnya, saya langsung dibuat kaget dengan tebalnya yang cukup tinggi dan jarak antarhurufnya yang relatif sempit. Sepertinya novel ini akan menjadi bacaan yang cukup panjang. Begitu pikir saya pertama kali.

Di bab-bab awal, saya merasa bosan. Meskipun tingkah laku Lee itu bikin senyum-senyum sendiri. Alasan saya bosan itu karena penulis terlalu banyak mencecar pembaca dengan detail. Detail yang sekiranya tidak perlu. Saya yakin penulis ingin membagi sebanyak mungkin dunia dalam Siever ini kepada pembacanya, tapi sayang, saya justru merasa tidak nyaman. Habis, kan penulis tidak perlu berusaha memberikan dengan sangat detail kegiatan piket Mircea, atau gedung apa saja yang ada di Mircea, atau warna baju yang kemarin dipakai seseorang, atau atau-atau yang lain.

Seandainya penulis mau sedikit mengurangi detail-detail ini, saya yakin Siever akan terasa lebih lincah.

Meski demikian, Siever ini jelas sangat padat. Penulis benar-benar tidak ingin kehilangan kesempatan menceritakan setiap detail kehidupan satu tahun seorang Vance Peregrine (yep, detail lagi). Yah mirip-mirip sama novel Harry Potter yang berisi satu tahun masa sekolah Harry gitu.

“Sekolah ini punya banyak gedung, lho. Tiap gedung diberi nama sesuai warnanya, maksudku, warna pelipitnya. Gedung Azure untuk asrama putra, Crimson untuk asrama putri, Indigo untuk asrama guru….” (h. 27)

Benar-benar padat yang padat, Awalnya pembaca bakal merasa bosan, tapi begitu mulai terbiasa dengan pace Winda, pembaca pasti bakal enjoy. Itu yang terjadi pada saya. Sangat recommended bagi mereka yang cinta cerita fantasi.

Fantasi Lokal Rasa Luar Negeri

Yep. Siever ini fantasi lokal dengan rasa luar negeri. Mulai dari nama karakter hingga latar tempat, semuanya serba luar negeri. Buat catatan, ada baiknya sejak awal Vance langsung dikatakan seorang laki-laki, habis biar gimana pun saya rasa nama Vance itu feminim. Saya awalnya mikir Vance itu perempuan dan novel ini bakal ada hubungan roman Vance dan Avera. ^^;;

Sayangnya, saya nggak bisa membayangkan Mircea ini sebenarnya ada di bumi bagian mana. Bisa dibilang Siever ini rada high fantasy, tapi banyak hal di sekitarnya yang mengingatkan pada dunia kita sendiri. Reminds me so much with Harry PotterTapi sampai akhir juga saya nggak punya bayangan soal setting Siever. Dan yang terbayang di kepala saya begitu membaca novel ini itu setting ala manga Vampire Knight.

Saya sempat membaca soal sekolah lama Vance, tapi sayangnya nggak saya tandai deh. Padahal mungkin sekolah itu bisa menjadi petunjuk soal latar tempat Siever ini. Tapi mungkin akan lebih baik jika penulis dari awal langsung mengatakan di mana Siever berlangsung sih.

Btw, tapi saya menemukan fakta yang cukup lucu. Terlepas dari latarnya yang khas luar negeri, penulis kadang menyelipkan hal-hal yang menurut saya cuma umum di negeri kita ini. Misalnya es buah kesukaan Vance. Nggak tahu sih di luar negeri tepatnya gimana, tapi kayaknya paduan jus itu yang lebih umum kan ya.

Soal Kematian dan Kesalahan

Ada banyak hal dari kehidupan Vance yang bisa kita petik pelajaran. Terlebih setelah Vance melahirkan monster dari kegelapan di dirinya. Sumber kegelapan dalam diri Vance tak lain akibat kematian sang orang tua. Vance tidak bisa berhenti berpikir bahwa kematian orang taunya ada hubungan dengan pneuma miliknya.

“Kematian orang tuamu tidak ada hubunganya dengan pneuma. Ada kedaulatan yang nggak bisa kita tolak  di dunia ini, salah satunya kematian.” (h.90)

Selain itu, ada juga soal kesalahan. Vance mengajarkan kita untuk tidak larut dalam kesalahan yang kita buat. Karena larut dalam penyesalan bukanlah cara menangani kesalahan yang tepat.

“Itu wajar, ‘kan. Manusia nggak mungkin lepas dari kesalahan.” (h. 206)

Terakhir, Siever mengajarkan kita bahwa kita tidak akan bisa menjadi orang lain. Betapa inginnya kita menjadi seperti seseorang lain, seseorang yang kita banggakan, kita elukan, kita idolakan, pada akhirnya kita hanya bisa jadi diri kita sendiri. Diri kita yang jauh lebih baik.

“Sayangnya, aku tahu nggak akan bisa jadi kakak, jadi aku akan tetap jadi Vance. Hanya kita yang bisa jadi diri sendiri, kan.” (h. 293)

Siever merupakan bacaan yang menyenangkan. Saya nggak pernah menyangka bakal sebegini menikmati Siever. Buat yang mau membaca bisa cek di sini.

Selamat membaca!

Advertisements

2 thoughts on “Siever – Winda Reksa

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s