Dijual: Keajaiban

Dijual Keajaiban Judul: Dijual: Keajaiban
Penulis:  Gao Xingjian, Orhan Pamuk, Salman Rushdie, dkk.
Penerjemah: Tia Setiadi
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 228 halaman

Dalam buku setebal 228 halaman ini, ada 9 cerpen yang disajikan. Sesuai dengan tulisan di kover, cerpen dalam buku ini ditulis oleh pengarang Asia. Kebanyakan nama-namanya belum pernah saya dengar. Yang paling familiar tentu saja Orhan Pamuk. Tapi ternyata begitu saya baca, ke-9 penulis ini memang terkenal. Beberapa di antaranya pernah mendapat hadiah Nobel.

Ke-9 cerpen di buku ini, menurut saya dihubungkan dengan satu benang merah: kebahagiaan. Tentunya dengan cara pengisahan yang berbeda.

Cerpen pertama berjudul “Di Sebuah Taman”, karya Gao Xingjian, bercerita tentang kisah di sebuah taman. Dalam cerpen ini pembaca akan disuguhkan deretan percakapan dua orang yang baru bertemu setelah sekian lama serta seorang gadis yang tengah menunggu di taman.

“Gadis itu sedang menunggu seseorang.”
“Menunggu seseorang itu mengerikan. Agaknya sekarang pria muda-lah yang tak menepati janjinya untuk kencan.” (h. 19)

Saya mengharapkan sesuatu yang menendang di akhir cerpen ini. Karena percakapan yang terjalin di cerpen ini cukup dalam, cukup menguras perasaan. Tapi, ternyata saya tidak mendapatkannya. Menurut saya, cerpen pertama ini terasa sangat biasa.

Lain lagi pada cerpen kedua, “Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai” ini menceritakan seorang gadis yang dipaksa pulang ke rumah dari tempat belajarnya untuk dijodohkan.

Tak kusangka bahwa dia hanya mempersiapkanku untuk dikorbankan, bak si penggembala yang merawat dan menggemukkan kambingnya untuk dijual. (h. 37)

Ditulis dari sudut pandang pertama, cerpen ini berhasil menguras emosi saya. Khayriyah Ibrahim as-Saqqaf berhasil membuat saya menjadi Raha. Sang tokoh utama kita yang kebebasannya direnggut paksa kedua orang tuanya.

Selanjutnya, ada karya Naguib Mahfouz di “Qismati dan Nasibi”. Cerpen ini berkisah tentang kembar siam, yang harus melewati hari berada dalam tubuh yang sama padahal mereka adalah dua orang yang berbeda.

“Cobalah untuk hidup bersama dengan harmonis lagi; itulah satu-satunya jalan!” (h. 61)

Meski dikisahkan kembar siam, bagi saya pribadi kedua tokoh utama kita, Qismati dan Nasibi ini mencerminkan diri manusia pada umumnya. Qismati yang memilih diam bersama buku pengetahuan dan Nasibi yang lebih senang bergerak. Akhir yang disajikannya pun begitu menyentak. Kita dibuat ingat oleh Naguib Mahfouz tentang kematian.

“Kenapa kau tak menghibur dirimu sendiri dan melakukan sesuatu?”
“Aku hanya melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan, yaitu menunggu maut.” (h. 63-64)

Kemudian, kita akan berjumpa dengan “Memandang ke Luar Jendela”, buah karya Orhan Pamuk. Bisa dibilang, cerpen ini adalah yang terpanjang dibandingkan dengan delapan cerpen lainnya. Cerpen ini ditulis dalam tiga bagian. Ditulis dengan bahasanya yang detail sehingga tidak heran jika pembaca akan merasa bosan ketika memulai.

Memandang ke luar jendela adalah sebuah hiburan penting sehingga tatkala televisi pada akhirnya datang ke Turki, orang-orang bertindak sama di depan kotak ajaib itu dengan yang mereka lakukan di depan jendela-jendela mereka. (h. 66)

Sesuai judulnya, cerpen ini bercerita tentang hal-hal yang disaksikan tokoh utama kita lewat jendelanya. Sangat menyenangkan dibaca.

Di “Anjing Buta” karya R.K. Narayan, kita berjumpa dengan seekor anjing dan seorang pengemis. Dalam cerpen ini, yang buta adalah si pengemis, bukan si anjing. Namun semakin lama kita membaca, kita akan sadar mengapa penulis memberi judul “Anjing Buta”.

“Apa yang bisa kita lakukan dengan sesosok makhluk yang kembali kepada hukumannya dengan begitu sukarela?” (h. 116)

Cerpen ke-6 adalah karya Salman Rushdie dengan judul “Di Selatan Dua Lelaki Tua India”. Cerpen ini berkisah mengenai dua lelaki tua yang dipanggil Senior dan Junior. Cerpen ini ditulis dengan detail. Penulis mengungkapkan kedua tokoh kita dengan cukup menyeluruh, mulai dari asalnya hingga keluarganya yang sekarang telah beranak-pinak.

“Di mata Tuhan, waktu itu abadi. Terhadap hal ini bahkan binatang dan pepohonan pun mengerti. Hanya manusia yang punya ilusi bahwa waktu itu bergerak.” (h. 133)

Cerpen ini termasuk salah satu yang saya sukai. Saya suka bagaiman penulis memberikan ironi pada kehidupan tokoh kita. Bagaimana seringkali apa yang kita harapkan justru tidak pernah terjadi kepada kita, tidak menjadi takdir kita.

Dia, Senior, adalah seseorang yang telah meminta untuk mati. Tapi, Kematian telah meninggalkannya dalam keadaan hidup…. (h. 141)

Taufiq el-Hakim adalah penulis cerpen ke-7 yang sekaligus menjadi judul buku ini, “Dijual: Keajaiban”. Membaca cerpen ini saya jadi mengerti kenapa judul cerpen ini yang digunakan sebagai judul kumpulan cerpen pengarang Asia ini. Cerpen ini singkat, ditulis dengan cukup lugas, tapi berhasil menyentil siapa pun yang membacanya.

“Apa yang mereka lakukan kepadamu?”
“Mereka membuatku melakukan banyak keajaiban.” (h. 153-154)

Cerita ke-8 akan melemparkan kita ke Jepang. Dalam cerpen berjudul “Tujuh Jembatan” karangan Yukio Mishima, kita akan mendapati empat orang gadis berusaha menyeberangi tujuh jembatan demi membuat permohonan mereka terkabul.

Masako tak pernah menyadari betapa menjengkelkannya tak mengetahui apa yang diinginkan orang lain. (h. 179)

Sekarang sampailah kita pada cerpen terakhir, “Nampan dari Surga” karya Yusuf Idris. Cerpen ini berkisah tentang Syaikh Ali, yang senang mengutuk dan memiliki kemiskinan sebagai musuh besar dalam hidupnya.

“Yang kuinginkan adalah meja makan yang sarat dengan makanan, hai kalian manusia tanpa guna….” (h. 198)

Ke-9 cerpen ini ditutup oleh pidato Nobel yang diberikan Gao Xingjian. Pidato yang diberikannya ketika menerima hadiah Nobel.

Tatkala hukum-hukum bersar sejarah tak dipergunakan untuk menjelaskan umat manusia maka akan sangat mungkin ntuk orang tinggal di balik suara-suara mereka sendiri. (h. 223)

Selamat membaca!

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s