Dear Ellie – Puji Eka Lestari

Dear Ellie

Judul: Dear Ellie
Penulis: Puji Eka Lestari
Penerbit: de TEENS
Tebal: 312 halaman

Hidup Ellie sempurna. Dia punya keluarga yang sangat menyayanginya, sahabat baik, dan Elliot, tetangga-teman-masa-kecil sekaligus cinta pertamanya (yang mengajaknya kencan). Musim panas ini pun sempurna bagi Ellie. Selain ajakan kencan Elliot, Ellie juga akan menghabiskan waktu dengan klub membaca, aktivitas yang ditunggu-tunggu Ellie.

Sayang, kesempurnaan itu perlahan retak ketika Ellie menemukan Dean, kakak Julie (sahabatnya), ada di klub tersebut. Bukan cuma hari-hari ke depan Ellie akan hancur karena ada Dean, tapi musim panas sempurna di masa remaja Ellie perlahan juga runtuh.

Dear Ellie ditulis dengan bahasa yang lugas. Membaca novel ini serasa membaca novel YA terjemahan, mana latar tempat Dear Ellie ada di Dublin. Rasanya benar-benar seperti terjemahan. Asyik. Mengalir. Lugas. Sayangnya hanya satu, penulis terlalu banyak memberikan detail.

Bab satu dihabiskan penulis untuk mengatakan “cuaca musim panas di Dublin tidak menentu”. Err, yah, nggak seluruhnya sih, tapi penulis menghabiskan berparagraf-paragraf untuk menceritakan cuaca Dublin. Bukan hanya di bab satu, pada bab-bab berikutnya pun penulis terlalu memberikan detail soal tempat. Detail yang membuat proses membaca jadi tidak menyenangkan dan mulai menjenuhkan. Tentu saja latar perlu dibangun, tapi kan nggak perlu dibangun lewat berhalaman-halaman tulisan, kan?

Bukan hanya soal latar, penulis punya kecenderungan untuk memberikan banyak info kepada pembaca. Misalnya, soal macaroon (yang kata saya nggak terlalu penting), terus soal novel-novel yang dibaca Ellie sama Julie (maksud saya, kan, nggak perlu sampai sedetail itu), atau soal pendidikan di Irlandia (yang saya rasa nggak perlu sampai dibilang soal tingkat pendidikan atau biaya dari pemerintah). atau omongan Dean (yang kadang saya nggak bisa “nyambung” saking banyaknya). Seandainya penulis bisa sedikit meringkas apa saja yang akan disampaikan dalam Dear Ellie tentu kegiatan membaca novel ini akan jauh lebih menyenangkan.

Mari beralih dari gaya bahasa.Seperti yang saya tulis di atas, Dear Ellie bercerita tentang kisah Ellie di satu musim panas. Musim panas yang seharusnya jadi salah satu musim terbaik bagi Ellie ternyata berubah menjadi buruk.

Satu pesanku: hadapi, jangan lari, dan jangan menambah masalah. (h. 129)

Sayang, bukannya menghadapi masalah yang ada, Ellie justru lari darinya. Gadis itu lari dan kehilangan hal-hal berharga dalam hidupnya: sahabatnya, keluarganya, cinta pertamanya. Bisa dibilang karakter Ellie ini memang penakut. Dari awal penulis sudah mengenalkan Ellie sebagai seorang yang introvert. Tapi sebenarnya, selalu ada titik dalam hidup di mana kita akan seperti Ellie. Memilih lari daripada mencoba menghadapi.

“Mengapa semuanya selalu tentangmu? Mengapa kau selalu berpikir bahwa kau adalah orang yang paling malang sedunia dan kau selalu bersikap bahwa dunialah yang memusuhimu?” (h. 220)

Selayaknya novel YA, Dear Ellie ini bisa kita korelasikan dengan kehidupan remaja pada umumnya. Kehidupan yang sedang dialami remaja maupun kehidupan remaja yang penah dialami. Meski demikian, menurut saya, pesan yang disampaikan soal menghadapi masalah dan berusaha menjadi dirimu yang lebih baik itu bisa dihubungkan tanpa perlu melihat usia.

Cerita Dear Ellie ini sendiri sebenarnya sederhana. Tentang persahabatan, kisah segitiga, dan pendewasaan. Meski saya rada nggak nyambung pas bagian Julie benci sama Ellie (habis kan yang nggak menanggapi itu si Ellie bukan Julie, kan?) sih. Secara garis besar, ceritanya tentu bisa kita sambungkan dengan kehidupan kita sendiri.

Lagi pula, sering kali, apa yang terjadi dalam hidup kita itu disebabkan dari apa yang kita lakukan. Seperti segala penyebab kekacauan dalam musim panas Ellie adalah dirinya sendiri.

“Bagaimana jika seseorang menyukai Elliot?”
“Tidak masalah buatku.” (h. 182)

Penulis bisa dibilang cukup sukses mengembangkan karakter Ellie, juga Dean. Cuma saya berharap lebih sih sama Elliot (selain dari namanya itu mengingatkan saya pada seorang karakter, ya ampun itu sikapnya emang charming banget) juga Julie. Yah, kekurangan penulisan dari sudut pandang orang pertama memang “hidupnya” karakter yang lain sih.

“Hanya ikan mati yang mengikuti arus. Dan kau,” kata Julie menunjuk diriku, “kau bukanlah ikan mati. Kau adalah Ellie.” (h. 261)

Secara garis besar, saya menikmati Dear Ellie. Sangat saya rekomendasikan bagi mereka yang suka novel YA. 🙂

Sebelum saya akhiri, saya mau memberikan kutipan yang paling saya suka. Pertama, soal kepergian.

“Ketika ada seseorang yang memutuskan untuk pergi, biarkan saja karena mereka tidak punya alasan lagi untuk tetap bersamamu.” (h. 211)

Dan kedua soal perhatian itu nggak selalu berbentuk kata.

Boys may not tell you how they feel about you, but they always show you. (h. 266)

Selamat membaca!

Advertisements

2 thoughts on “Dear Ellie – Puji Eka Lestari

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s