Gramedia Pustaka Utama · Resensi · Young Adult

Finding Audrey – Sophie Kinsella

Judul: Finding Audrey – Aku, Audrey
Penulis: Sophie Kinsella
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Audrey menderita ganguan kecemasan. Itu sebabnya Audrey tidak pernah melepas kacamata hitamnya bahkan ketika di dalam rumah. Sayangnya konsultasi dengan Dr. Sarah belum juga memberikan kemajuan yang signifikan. Hingga Linus, teman Frank (kakak Audrey), datang dan menyapa Audrey bersama seberkas senyum. Sejak saat itu, perlahan Audrey mulai berusaha menjalin kontak dengan orang-oang di luar keluarga.

Di sisi lain, Frank dan Mum terlibat perkelahian sengit. Perkelahian yang dimulai dari artikel Daily Mail soal kecanduan game komputer. Situasi tegang hadir di tengah-tengah salah satu proses terapi Audrey dari Dr. Sarah: Mum menghancurkan komputer Frank.

Lovely Family

Finding Audrey dibuka dengan kejadian pelemparan komputer Frank dari jendela. Kemudian, pembaca akan dikembalikan pada waktu satu bulan sebelum kejadian itu. Gaya penulisannya jangan ditanya, enak sekali buat dibaca. Terjemahannya juga luwes.

Meski memang kadang Audrey (sebagai pembaca cerita) suka mulai menceritakan hal-hal yang tidak bekaitan dengan apa yang sebelumnya dia ceritakan, pada akhirnya akan kembali ke garis lurus. Alurnya sendiri juga maju.

Membaca Finding Audrey seperti diajak masuk dalam kepala Audrey, di mana dia bergumul dengan kecemasan-kecemasan yang hadir pascaperistiwa yang dialaminya di sekolah. Bagaimana dia melihat keluarganya: Mum, Dad, Frank, dan si kecil Felix (yang ngengemesin). Bagaimana Audrey berjuang memulai kontak dengan orang-orang lain. Bagaimana kehidupan berganti lewat matanya yang tertutup kacamata.

Selain itu, keluarga Audrey ini benar-benar lovely. Saya nggak bisa berhenti ketawa ketika Mum mengajak Frank berolah raga dan justru yang berakhir menjadi pihak kelelahan (h. 66). Saya bisa membayangkan ekspresi Felix ketika mengantarkan kertas pesan dari Audrey ke Linus lalu kembali lagi (h. 75). Atau ketika Dad lupa usia Mum sebab terlalu fokus mengerjakan laporan keuangan untuk tahun depan (h. 82). Kehidupan keluarga Audrey ini benar-benar asyik buat diikuti.

Bukan hanya asyik, keluarga mereka itu terasa sangat dekat. Frank yang suka bermain game contohnya. Dan Mum yang merasa bahwa game itu membawa pengaruh buruk. Hal-hal seperti ini kan sempat booming (dan masih terus booming sebab hidup kita sekarang di era digital).

Para orangtualah yang bertanggung jawab dalam semua hal seperti teknologi di rumah dan lama menonton dan durasi di sosial media, tapi kemudian komputer mereka berulah dan seperti bayi, mereka merengek…. (h. 168)

Bagaimana kepercayaan di antara Mum dan Frank hancur lalu mulai dibenahi, karena keduanya memang sama-sama salah.

“Kalian orang dewasa. Kalian menganggap para remaja berbohong,. Kalian mengasumsikan para remaja berbohong. Itu awal mulanya. Itu jelas membuat depresi.” (h. 89)

Saya juga suka bagaimana Frank melindungi Audrey ketika gadis itu berhadapan dengan salah satu hantu masa lalunya. Atau bagaimana Felix dengan polosnya selalu berhasil menghancurkan suasana (sekaligus memberi tawa). Keluarga ini manis sekali.

Keluar dari Kegelapan

Tema gangguan kecemasan sendiri bisa dibilang cukup nggak biasa. Awalnya memang dimulai dari bullying, tapi Finding Audrey tidak memulai cerita dari kejadian bullying tersebut, melainkan menceritakan proses Audrey melewati “kegelapan” yang mengurungnya di balik kacamata hitam.

Tidak akan selamanya, kok. Kau akan berada dalam kegelapan selama yang dibutuhkan dan kemudian kau keluar. (h. 105)

Sesi konsultasi dengan Dr. Sarah pun akan membiarkan kita ikut merenung. Termasuk ketika membaca bagaimana benak Audrey bekerja. Bagaimana gadis itu menjalani terapinya dan mulai meninggalkan dunia kecilnya. Karena, pada dasarnya kita pun selalu dibayangi kecemasan.

“Kau akan menyaksikan bahwa dunia adalah tempat sangat sibuk dan bervariasi dan kebanyakan orang memiliki rentang perhatian seperti agas. Mereka sudah melupakan apa yang terjadi. Mereka tidak memikirkannya.” (h. 111)

Ah, tentu saja ini semua tidak akan terasa sangat manis jika tidak ada Linus. Serius karakter Linus itu adorable banget. Saya yakin semua pembaca bakal dengan mudah menyukai Linus. Dia termasuk karakter yang menjalankan plot Finding Audrey. Linus yang tidak canggung di depan adik perempuan temannya. Linus yang tidak ragu memulai kontak dengan Audrey. Linus yang bukan hanya masuk dalam hidup Frank atau Audrey, tapi juga dalam hidup seluruh anggota keluarga. Linus yang ingin tetap bermain game bersama Frank, meski Frank telah dijatuhi hukuman tidak bisa bermain selamanya—sampai Frank dewasa lebih tepatnya. I bet you’ll love him.

Tentu saja, soal Audrey keluar dari kegelapan ini pada akhirnya bukan cuma soal Audrey. Bukan hanya Audrey yang harus keluar. Karena sejak Audrey menderita gangguan kecemasan, seluruh keluarganya pun ikut berubah. Ketika saya mencapai bagian ini, saat Audrey dan Mum duduk bersama menonton Little Women, air mata saya mulai susut, hiks.

“Mum, tak ada gunanya aku membaik kalau keadaan tak ikut membaik bagi kia semua.” (h. 331)

Membaca Finding Audrey sangat menyenangkan. Keadaannya terasa sangat dekat, meski saya tidak pernah merasakan gangguan kecemasan, tapi keluarga Audrey terasa sangat familiar dan akrab. Sangat menyenangkan!

Terakhir, saya berikan sebuah kutipan penutup:

Menurutku, apa yang kusadari adalah, kehidupan memang tentang mendaki, tergelincir dan bangkit lagi. (h. 355)

Selamat membaca!

Advertisements

2 thoughts on “Finding Audrey – Sophie Kinsella

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s