Take Off My Red Shoes – Nay Sharaya

Judul: Take Off My Red Shoes
Penulis: Nay Sharaya
Penerbit: Grasindo
Format: ebook (via iJak)

Atha dan Alia adalah saudara kembar. Meski fisik mereka berbeda, sejak kecil mereka tak terpisahkan. Hingga suatu hari Alia akan diadopsi sepasang suami-istri yang baru saja kehilangan anak perempuannya. Meski pada awalnya keluarga itu hanya memilih Alia, Atha akhirnya ikut diadopsi.

Sayangnya, perilaku keluaga tersebut terhadap Atha berbeda dengan Alia. Mama selalu mengajak Alia berbelanja, memasakkan makanan kesukaannya, merapikan kamar gadis itu, menyayangi Alia. Tapi Atha tidak. Ares, sang kakak angkat, tidak segan mengantar Alia pergi, selalu mengajak Alia jalan-jalan, rela menunggu Alia, selalu ada untuk Alia. Tapi tidak untuk Atha.

Selain perilaku yang diterima Atha berbeda, Atha sendiri punya kecenderungan aneh. Sejak ketika dia mendapatkan buku cerita berisi gadis penari bersepatu merah dan Alia mendapatkan sepatu merah yang cantik (yang juga dia inginkan), Atha terobsesi dengan sepatu merah. Obsesi Atha ini mengingatkan dengan dongeng soal gadis penari bersepatu merah. Bagi Atha, sepatu merah adalah keberuntungan.

Konflik yang Sulit Ditebak

Alasan pertama saya membaca Take Off My Red Shoes adalah fakta bahwa novel ini didaskan pada sebuah dongeng. Saya pribadi sudah lupa sama dongengnya, meski sepertinya dulu pernah saya baca sih. Namun, cerita yang terinspirasi dari sebuah dongeng itu selalu punya daya tarik sendiri.

Sayangnya, penulisan Nay Sharaya dalam novel ini tidak cukup luwes. Saya sering membaca paragraf yang membulat dan membingungkan. Belum lagi tokohnya yang cukup banyak serta ada tokoh-tokoh dari masa lalu (juga tokoh yang tidak diceritakan dengan cukup). Jadi, sering kali saya meloncat-loncat paragraf karena gaya penulisan ini. Padahal saya menikmati Me(Mories).

Begitu mulai membaca, kita akan langsung disuguhkan kehidupan yang dilihat Atha. Bagaimana sikap ibu mereka yang berbeda terhadapnya atau Alia. Bagaimana Ares sangat luwes dan memanjakan Alia. Bagaimana Atha punya cara tersendiri buat mencari perhatian Ares. Bagaimana keluarga kecil mereka diliputi banyak misteri.

Selama membaca, saya selalu menebak-nebak. Penulis selalu membuat saya menebak-nebak. Juga membuat saya sebal sama Ares karena pilih kasih. Juga membuat saya berspekulasi atas perasaan Atha. Juga soal Kegan, si tetangga mereka dan sahabat Ares. Banyak sekali hal yang misterius di novel ini.

Pada awalnya, saya pikir novel ini akan berakhir standar. Roman segitiga, kisah keluarga yang pilih kasih, saudara kembar yang tidak merasakan kasih sayang yang sama, dll. Namun, ternyata tidak. Saya memang pada awalnya membenci karakter Ares dan Mama, juga tidak bisa simpati sama Alia. Namun, pada akhirnya saya tidak bisa membenci mereka. Banyak hal penuh misteri yang bergulung-gulung di novel ini dan baru terjawab di akhir. Ada banyak kebohongan di novel ini.

“Tapi kebohongan Atha beda.”
“Beda apanya? Yang namanya bohong di mana-mana sama aja.”
“Nggak, Ega. Atha berbeda, dia percaya dengan kebohongannya.” (h. 166)

Inilah kenapa saya bisa bilang bahwa Take Off My Red Shoes punya konflik yang tidak bisa ditebak. Saya yakin bahwa pembaca akan mengalami hal yang sama. Nay Sharaya berhasil meruntuhkan ekspektasi saya soal novel ini yang saya-pikir-bakal-standar.

Kejanggalan

Terlepas dari konfliknya, ada kejanggalan yang saya rasakan ketika membaca novel ini. Kejanggalan yang baru saya sadari ketika semua misteri telah terungkap. Kenapa baru sekarang, ketika banyak kejadian buruk yang terjadi, keluarga mereka baru mengambil sikap?

Saya sedikit tidak bisa memahami alasan “ingin membiarkan tumbuh normal” yang diterapkan di keluarga itu, padahal di sisi lain, kita bukannya sadar bahwa “normal” yang diharapkan itu harus melalui proses telebih dahulu. Kan jadi merasa semacam terlambat.

Tapi, yah, kalau nggak ditunda Take Off My Red Shoes memang tidak akan menjadi cerita seperti ini sih.

Cheers dan Kegan (yang bikin jatuh hati)

Konfliknya, saya rasa dimulai ketika Atha ingin begabung dengan tim cheers. Suatu hari, Atha melihat latihan tim cheers di sekolah mereka. Tim dengan sepatu merah yang menari penuh energik. Seperti penari dalam dongeng kesukaan Atha. Sejak saat itu, Atha bertekad menjadi bagian dari tim.

Kata Atha, tim cheers itu memiliki aura putri yang tak kenal lelah. Mereka menari dengan lincah dan penuh semangat. Kegan tidak paham, putri macam apa yang menari seagresif itu? (h. 87)

Atha yang tidak terbiasa meregangkan tubuhnya, belajar mati-matian agar bisa diterima. Dia menonton banyak video cheerleaders, melatih berbagai gerakan, hingga memaksa Kegan untuk menemaninya. Pada akhirnya, Atha berhasil diterima di tim cheers.

Satu hal lain yang berpengaruh banyak pada novel ini adalah Kegan. Lewat Kegan, kita akan semakin merasakan kejanggalan yang ada di keluarga Atha. Kita akan melihat berbagai perbedaan sikap yang diterima Atha atau Alia. Kita juga akan tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah Kegan terhadap Atha. Jujur, sulit banget buat nggak jatuh hati sama Kegan.

“Apa menurut lo gue mesti balik merhatiin Alia? Kenapa, Res? Supaya nggak ada lagi yang tersisa buat Atha?” (h. 213)

Sayang, Kegan itu terlalu nyata buat ada. Haha.

Yah, saya merekomendasikan novel ini bagi yang suka cerita yang didasari pada dongeng. Juga bagi mereka yang suka kejutan. Selamat membaca!

 

Advertisements

2 thoughts on “Take Off My Red Shoes – Nay Sharaya

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s