Fesyenisheeza – Nita Lana Faera

Fesyenisheeza

Judul: Fesyenisheeza
Penerbit: PING!!!
Tebal: 188 halaman
Format: paperback

Setelah melihat rancangan kebaya di majalah mama, Sheeza memutuskan untuk kembali menekuni hobi menggambar bajunya ketika kecil. Sheeza bertekad menjadi desainer suatu hari nanti. Dia membeli buku-buku mode, panduan mendesain, dan melihat karya-karya desainer lainnya. Meski sekarang gambarnya belum dikenal banyak orang atau menghasilkan uang, Sheeza tetap semangat menggambar.

“Ya, kalo buat gue sih, apa yang gue jalanin sekarang ini kan passion gue, ya walau emang gue berharap banget suatu hari nanti passion gue ini bisa menghasilkan duit. Jadi nggak perlu nyesel juga kan kalo apa yang gue harapkan nggak jadi kenyataan.” (h. 27)

Novel Komedi

Saya langsung naksir begitu melihat kover Fesyenisheeza. Pasalnya, warna putih dan gambarnya itu cakep banget. Serius cakep banget. Bisa dibilang ini kover tercakep yang saya punya di … tahun 2016 ini. XD

Ketika saya membaca sinopsis di kover belakang, saya pikir Fesyenisheeza itu novel remaja yang penuh dengan perjuangan meraih mimpi. Yah, mungkin semacam fiksi inspiratif gitu. Habis penulis menekankan pada bagian “meraih mimpi”. Namun, ketika saya mulai membaca, saya justru menangkap aspek komedi dalam novel ini lebih kental.

“Lo kenapa, sih?”
“Saking seriusnya dengeri lo ngomong, gue jadi keterusan angguk-angguk.”
“Ah, nyebelin lo. Jangan-jangan dari tadi lo nggak serius ya dengerin gue ngomong?” omel Sheeza.
“Dengerin, kok, Sheez,” sambung Ratu.
“Lo juga, kenapa ikutan angguk-angguk uga?” tanya Sheeza.
“Ya, lo kan tahu kalo gue ini orangnya latahan. Ngelihat Vonny angguk-angguk, gue jadi ikutan,” jelas Ratu. (h. 27)

Nah itu saya berikan salah satu cuplikan yang membuat novel ini kehilangan kadar seriusnya. Membaca novel ini saya jadi mengingat personal literature nya Raditya Dika. Bedanya, Fesyenisheeza itu sepenuhnya fiksi. Tapi, ada saja adegan yang sejujurnya nggak cukup nalar buat kehidupan sebenarnya dan sangat dramatis untuk menciptakan efek lucu. Seperti ketika Sheeza rebutan majalah dengan sang mama atau ketika ada Bianca and the gank.

Inilah kenapa saya nggak bisa terlalu menikmati Fesyenisheeza. Terlalu banyak adegan komedi yang terkesan dipaksakan (dan sama sekali tidak membuat saya tertawa). Sinopsis yang dikisahkan soal Sheeza membuat blog dengan nama Fesyenisheeza sendiri juga tidak pas. Novel ini lebih menunjukkan soal Sheeza yang kembali menekuni mimpinya dan mulai berjuang menjadi desainer. Perihal Sheeza membuat blog justru hanya ada secuil.

Kritik Sosial

Meski demikian, Fesyenisheeza cukup banyak memberikan kritik sosial. Kritik sosial yang bisa dibilang sesuai dengan kondisi di masa kini. Misalnya soal pacaran. Bisa dibilang Fesyenisheeza itu novel teenlit murni soal persahabatan, tanpa ada romansanya (meski memang ada karakter cowoknya sih).

“Pacaran murah meriah? Kalau ngak pengin duit abis, kenapa juga harus pacaran? Udah tahu jadi anak sekolah yang duit jajannya masih dikasih bokap-nyokap, pas-pasan pula.” (h. 21)

Juga soal persahabatan.

“Sahabat sejati adalah orang yang selalu mengingatkan bila sahabatnya berbuat salah.” (h. 136-137)

 

Yang bikin saya lucu, itu justru ada sentilan buat kebiasaan manusia pada umumnya. Kebiasaan yang menyangkut soal rahasia. Pas membaca bagian ini tuh saya nggak bisa menahan ketawa.

Ya, Bu Lidya juga seperti manusia pada umumnya yang selalu bilang, “Eeeh, ini rahasia, ya”, tapi nyatanya dia sendiri yang nyebar-nyebarin rahasia itu sendiri. (h. 70)

Terakhir, soal karya. Selain megajarkan bahwa kita harus berani bermimpi sedari kecil, pantang menyerah meraih mimpi, dan tidak ragu melangkah, Fesyenisheeza mengingatkan bahwa kita harus menghargai karya seni orang lain. Karya-karya seni yang terkesan “cuma gitu doang” tapi sebenarnya butuh banyak perjuangan untuk diciptakan.

“Ibu nggak usah pikirin bayarannya deh. Ini hadiah buat ibu.”
“Eh, jangan gitu. Nanti dikirain Ibu nggak menghargai karya orang lain, apalagi muridnya sendiri.” (h. 33)

Atau soal plagiasi karya.

“Plagiat itu hal biasa. Jangan kapoklah cuma gara-gara itu.” (h. 182)

Saya rekomendasikan novel ini bagi yang ingin membaca novel remaja tentang mimpi. Atau bagi mereka yang menikmati komedi ala-ala Raditya Dika. Selamat membaca! 😉

Advertisements

One thought on “Fesyenisheeza – Nita Lana Faera

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s