Bentang Pustaka · Random · Resensi · Sains Fiksi

Akar – Dee Lestari

Supernova Akar - Dee Lestari

Judul: Akar
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 316 halaman
Format: papperback

Akar dibuka dengan narasi dari Gio, lewat penulisan dari PoV orang ke-3. Gio, lelaki yang cinta mati pada sungai, baru saja tiba di Vallegrande, Bolivia. Belum cukup dia menghabiskan waktunya di sana, temannya, Paulo memberi kabar bahwa Diva hilang. Gio segera saja terbang ke Cusko.

“Semua orang yang mau pergi selalu berkata hal sama, mereka akn baik-baik saja, padahal tidak ada yang tahu.” (h. 13)

Cerita Gio hanya sampai halaman 16. Selanjutnya, hingga lembar-lembar Akar habis, yang kita temui adalah kisah perjalanan Bodhi. Perjalanan seorang lelaki yang selama delapan belas tahun hidup di Wihara. Perjalanan Bodhi dimulai dari Belawan. Dari sana, Bodhi menyeberang ke negara-negara tetangga. Kata gurunya, Guru Liong, perjalanan itu akan membawakan Bodhi pada kesejatian.

“Satu-satunya cara untuk mengetahui asal usulmu adalah keluar, lalu kembali.” (h. 181)

Perjalanan itu mengantarkan Bodhi pada berbagai orang. Pada Kell, yang menato Bodhi dan menanti tato ke-618 karya Bodhi di tubuhnya, yang juga mengajarkan Bodhi cara menato. Pada Star, gadis penuh pesona yang tidak pernah melunturkan pesona dari diri Bodhi hingga bertahun-tahun berlalu. Juga pada orang-orang lain yang akhirnya membawa Bodhi kembali ke Indonesia dan dikenal sebagai Bodhi Batman.

Terakhir, novel ini ditutup dengan Bodhi yang mendapati surel aneh ditujukan kepada “Akar”. Surel ini yang nantinya menyambungkan pembaca dengan novel selanjutnya.

Gaya Bahasa yang Bikin Nagih

Saya sudah meminjam ini begitu menamatkan Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh di pertengahan tahun 2015 silam. Namun, baru kemarin saya berhasil menamatkan novel ini. Jujur, bab awal yang berisi cerita Gio itu … terasa membosankan. Dee terlalu suka ngalor-ngidul.

Lebih lagi saya nggak bisa naksir sama Gio ini. Saya nggak mendapatkan banyak hal darinya kecuali dua fakta: (1) Gio cinta sungai, dan (2) Gio cinta Diva. Saya masih belum bisa masuk ke kehidupan Gio, makanya saya merasa bosan. Mungkin karena porsi Gio terlalu sedikit, ya.

Kemudian, kemarin, saya memutuskan untuk membaca tanpa henti. Meski begitu masuk ke penceritaan Bodhi saya pun belum bisa nyambung, saya tetap meneruskan. Lalu, lama-lama, saya nggak bisa lepas. Dibanding KPBJ, bisa dibilang saya suka banget sama gaya bahasa Dee di sini. Terasa puitis dan berhasil memainkan seluruh indera saya. Mirip sama pengalaman yang saya dapatkan ketika membaca cerpen-cerpen beliau. Cakep banget.

Ternyata kemurkaan bisa memberi sayap. (h. 219)

Saya suka banget ketika bercerita dari sisi Bodhi, lewat sudut orang pertama. Selain kisah perjalanannya (yang memang terasa terlalu tinggi dan jauh dan sulit dibayangkan, tapi tetap saja seru, yah namanya juga fiksi), gaya bercerita Dee lewat Bodhi ini yang bikin saya nagih.

Bahwasanya setiap kata adalah mantra. Kau kutuk dirimu. Kau kutuk orang lain. Kau berkati neraka. Kau tutup pintu surga. Hanya dengan berkata-kata. (h. 53)

Sains Fiksi?

Saya bisa mengerti kenapa KPBJ dilebel sebagai sains fiksi. Terlepas dari unsur sains di KPBJ yang lebih banyak saya temui lewat percakapan berbahasa alien ilmiah, Akar lepas dari semua itu.

Akar itu seperti … cerita perjalanan dengan banyak unsur spiritual. Membaca Akar di bagian Bodhi, saya seperti diajak masuk ke dalam buku-buku perjalanan macam karya Trinity. Bedanya, Bodhi sering menyoal eksistensi, kesejatian, manusia, dan hal-hal fundamental lain sebagai manusia. Bukan hanya Bodhi, orang-orang yang ditemuinya juga mengajak kita menunduk, merenung, dan berpikir.

Kebenaran akan menelanjangi dirinya sendiri dengan cara tak diduga-duga dan aku sudah imun terhadap beraneka ragam kejutan. (h. 123)

Pengalaman-pengalaman Bodhi sendiri terasa seperti hal-hal gaib, supranatural. Itulah mengapa saya merasa bahwa Akar ini lebih di awang-awang.

Sampai sekarang saya masih bingung unsur sains fiksinya di mana di Akar. Habis ini saya mau coba baca-baca review orang, siapa tahu saya tercerahkan.

Penutup

Di Akar sendiri, saya menemukan banyaaaaak sekali sentilan. Ketika Bodhi bersama dengan komunitas punk-nya. Ketika Bodhi mengobrol dengan Kell. Ketika Bodhi terjebak di Golden Triangle. Ketika Bodhi bertemu Epona. Sentilan-sentilan yang terasa sakit melihat kehidupan kita sendiri sebagai manusia.

“Manusia makin nggak kayak manusia, Bod. Orang miskin ngerampok televisi, ngerampok HP—barang-barang yang mereka nggak butuhkan. Lo tahu kenapa? Karena itulah syarat untuk jadi manusia zaman sekarang. Itu juga yang dikejar-kejar orang kelas menengah biar naik pangkat jadi kelas atas. Dan kemewahan itulah yang dipertahankan orang kelas atas. Kagak peduli kalau sampai ngisap darah manusia lain. Kapitalisme itu kanibalisme.” (h. 37-38)

Tahun dan nama kadang-kadang menyesatkanmu jauh dari esensi. (h. 174)

“Saya saksi hidup bagaimana manusia bisa menghancurkan sesamanya dengan kegilaan yang melewati akal. Dan, saya membereskan sampah-sampahnya setiap hari. ” (h. 247)

Akar mengajarkan kita untuk keluar. Bahwa jati diri kita tidak akan ditemukan jika kita hanya berdiam. Akar juga mengajarkan kita soal manusia itu sejatinya sama, seperti kutipan yang saya ambil dari kisah perjalanan Bodhi ini.

Ia mengingatkanku semua manusia sama, kanvas kosong yang bisa digores amarah atau tawa dengan frantik, berganti-ganti, sewaktu-waktu. (h. 205)

Ingin segera melanjutkan ke Petir. Dan, selamat membaca!

Advertisements

One thought on “Akar – Dee Lestari

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s