Drama · Family · PING!!! · Resensi

Interval – Diasya Kurnia

Judul: Interval
Penulis: Diasya Kurnia
Penerbit: PING!!!
Tebal: 176 halaman
Format: paperback

Kinanti adalah gadis penari jathil keliling yang tinggal berdua dengan kakeknya, sang pengrajin topeng Bujang Ganong. Meski masih SMA Kinanti harus sering-sering tampil sebagai penari untuk mendapatkan uang. Kakek yang selama ini membesarkannya sedang sakit. Kinanti memang suka menari, dia menggantungkan hidup pada menari. Namun, sampai kapan pun Kinanti tidak pernah bisa menikmati bisik-bisik negatif soal aktivitas menarinya. Untungnya ada Rey, sahabat baik Kinanti yang selalu bersamanya.

Akan tetapi, kehidupan Kinanti tidak selalu berjalan baik-baik saja. Ada Ratih yang mengintimidasinya di kelas ekstakurikuler tari. Ada Dimas yang membuat hati Kinanti berdetak cepat. Juga ada Carl, guru baru yang mengajar bahasa Inggris, yang mengantarkan Kinanti pada kenyataan lain dalam hidupnya.

Ketika mulai membaca, saya pikir Interval akan berisi perjuangan Kinanti sebagai seorang penari. Tentunya dengan bumbu roman dan cerita mengenai orang tuayang pergi meninggalkannya. Terlebih penulis mengekspresikan cukup banyak perihal gosip buruk yang beredar di sekitar Kinanti sebagai penari jathil keliling.

Hanya saja, tuntutan profesi memaksaku untuk berdandan sedikit menor, sehingga lekat dengan status perempuan penggoda…. (h. 16)

Lalu, pembaca akan menemukan lebih banyak kisah Kinanti di sekolah. Kisah cintanya, kisah perjuangannya di ekstrakurikuler, dan kisah kegiatan belajarnya. Saya masih menanti soal perjuangan-menjai-penarinya-Kinanti, atau soal orang tua Kinanti. Tapi, kemudian …. Interval maju begitu cepat dan tahu-tahu Kinanti sudah dewasa dan dia sedang dalam perjalanan ke New York.

Ketika mencapai bagian itu serta-merta saya bertanya: sebenarnya cerita ini mau dibawa ke mana?

Terlebih ketika di New York, Kinanti bukan lagi seorang penari. Dan hal-hal yang di hadapinya selama di New York itu bertubi-tubi. Runtut, memang. Segala kegiatan terjalin satu per satu. Tapi begitu cepat. Ibarat paket ekspres. Kayak kita pesan makanan di retoran fast food, tahu-tahu ayam sudah terhidang di piring kita. 😐

Mulai dari pertemuan dengan Carl lagi, lalu kenyataan soal Rey, disusul pertemuan dengan orang tua Kinanti, terus ada Seth. Cepet banget. Cepet dan kilat. Saya nggak berhasil menangkap apa pun emosi yang dirasakan Kinanti, tidak seperti ketika cerita ini masih berlatar Kinanti masa SMA. Saya nggak tahu kenapa, tapi penulis seperti kehilangan jalan di tengah-tengah saat menulis Interval. Saya jadi tidak bisa menikmati Interval.

Sayang sekali. Padahal saya cukup suka dengan latar penari jathil yang diangkat. Saya juga cukup suka dengan konflik keluarga Kinanti, seandainya tidak diceritakan tergesa dan dengan cara seperti itu.

Sejak kepulanganku dari New York, aku mengerti satu hal bahwa apa yang telah kita miliki, seberapa besar dan berharganya, tak begitu setimpal dibandingkan dengan keluarga, tempat kembali yang damai. (h. 159)

Saya juga cukup suka dengan usaha penulis menyinggung perihal kebudayaan kita yang mulai punah.

Kata Pak Rengga, mencintai seni itu harus dari hati. (h. 16)

Terakhir, kovernya cakep. Separuh awalnya juga nggak buruk. Secara keseluruhan saya cukup bisa menikmati. Saya akan lebih bisa menikmati jika penulis memilih ingin mengeksplor salah satu saja bagian kehidupan dari Kinanti.

Sebagai penutup, saya mau mengutip sedikit.

“Dalam hidup, kita belum tentu mendapatkan segalanya, Rey.” (h. 25)

Selamat membaca!

Advertisements

One thought on “Interval – Diasya Kurnia

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s