Random

‘Romance’ dalam Karya Sastra

…….. abaikan judulnya yang berat. Tulisan ini bukan esai serius di program studi sastra, kok. Serius. Tulisan ini semata berisi omongan melantur saya menyoal romance.

Cerita-cerita romantis bisa dibilang tidak pernah mati. Tema cinta dan kasih sayang selalu bisa menyelip di setiap buku dengan label genre apa pun. Petualangan penyihir terkenal berkacamata mengandung kisah cinta ibu yang tak lekang oleh waktu. Dalam personal literature-nya, Raditya Dika selalu mengulas percintaannya yang kandas. Bahkan kisah hidup Dorian Gray berisi kecintaan Dorian pada dunia yang berlebihan. Cinta dan kasih sayang selalu punya cara sendiri untuk hidup dan bertahan dalam dunia sastra.

Sebelum kita maju lebih jauh, ada baiknya kita mencoba memahami si ‘romance‘ ini terlebih dahulu.

Sejarahnya, kata romance dalam bahasa Inggris ini berasal dari dialek bahasa Prancis, romanz yang berarti: ucapan orang-orang. Kata itu berawal dari ungakapan bahasa Latin lingua romana, yang menunjukkan ditulis dalam bahasa lisah, bahasa sehari-hari, dan dimaksudkan untuk semua karya sastra dari golongan rakyat biasa.

Ketika saya mengecek KBBI, roman sendiri berarti karangan prosa yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing, 2 (cerita) percintaan. Pengertian ini saya rasa nggak lepas dari perkembangan kata ‘romance’. Dan kata ini sedari awal tidak pernah lepas dari sastra, literature.

Membahas roman pasti nggak bakal lepas dari istilah ‘novel roman’. Padahal, jika kita coba memahami, ‘roman’ dan ‘novel’ ini berbeda. Roman digunakan untuk menyebut karya sastra yang bersifat fiksi, alias khayalan yang panjang-lebar. Roman merupakan bentuk prosa yang mengisahkan kehidupan pelaku utamanya dengan segala suka dukanya dari masa kanak-kanak hingga mati. Sedangkan novel (berasal dari bahasa Itali novella) itu prosa yang melukiskan sebagian kehidupan pelaku utamanya yang terpenting, paling menarik, dan yang mengandung konflik. Nah, beda, kan?

Duh, kayaknya tiga paragraf di atas itu berat banget deh. Haha, iya saya juga ngerasa beratDan berhubung pengetahuan saya ini didapat dari internet semata, kalau ada pembaca yang lebih paham, silakan tegur saya kalau ada yang salah. 😉

Inti tulisan saya bukan ingin memberitahukan bahwa ‘novel’ dan ‘roman’ itu berbeda. Biar gimana pun roman identik dengan romantis, jadilah istilah novel roman itu untuk menyebut cerita tentang hubungan dan percintaan. Habis kata ‘romance’ bisa diartikan roman, romantik, hingga percintaan dalam bahasa Indonesia. Mari kita ambil segala arti ‘romance’ dalam bahasa kita untuk kalimat-kalimat yang saya tuliskan selanjutnya.

Baik, mari kita kembali ke bahasan utama.

Karya sastra di tanah air, terlebih yang populer, tidak pernah lepas dari unsur ‘romance’ ini. Romance yang didefinisikan sebagai percintaan. Mbak Ren dalam blognya telah mengulik cukup dalam tentang novel romance. Mbak Ren menggambarkan bahwa romance bisa hadir dalam berbagai macam bentuk genre. Pada dasarnya, saya yakin sebuah buku itu tidak bisa kita label dengan satu genre saja.

Novel-novel berlabel novel romance yang membawa unsur cinta dan kasih sayang secara gamblang. Hubungan percintaan dua orang dalam nove romance-lah yang akhirnya membuat mayoritas orang (baca: dari kritikus hingga orang yang nggak suka baca) mengasosiasikan ‘romance’ sebagai sesuatu yang … bagaimana ya bahasannya, bacaan kelas dua…? Yah, nggak bisa dipungkiri bahwa novel romance sering dipandang sebelah mata dalam dunia sastra. Padahal novel romance ini yang paling banyak membuat pundi-pundi emas.

Novel romance bakal selalu identik dengan novel menye-menye, novel nggak realistis, novel penjual banyak mimpi, dan lain-lain. Saya pernah sedang membaca novel romance dan seorang teman saya (yang jelas-jelas nggak suka baca, bahkan saya ragu dia pernah baca karya sastra sebelumnya) mendiskreditkan keberadaan novel tersebut. Sedih.

Padahal, sejatinya, sebuah buku tidak boleh dinilai dari genre-nya saja. Mirip seperti don’t judge a book by its cover. Kita ngak bakal pernah tahu ada harta dan keajaiban apa dalam sebuah buku. Btw, akhirnya teman saya yang itu justru seneng baca novel romance-nya Winna Effendi gegara pacarnya demen dan dia ngaku salah sama saya. Karma banget kan?  Haha.

Bisa kita bilang karya populer, mulai dari yang berlatar dunia ini hinga dunia khayalan senantiasa menyelipkan ‘romance’ dalam ceritanya. Bahkan sering kali cinta dan kasih sayang ini menjadi tiang utama perkembangan cerita dalam karya-karya populer. Mulai dari cinta pada pasangan (yang paling umum), cinta pada keluarga (hal yang menggerakkan Thomas di novel Negeri Para Bedebah), cinta pada umat manusia (contohnya pada kehidupan Raizel dalam manhwa Noblesse), hingga cinta pada kebenaran (ingat Shinichi Kudo di manga Detective Conan?). ‘Romance’ punya banyak bentuk untuk hadir di karya-karya populer.

Bagaimana dengan hubungan ‘romance’ dan sastra?

Hubungan mereka baik-baik saja.

Malahan, tidak jarang saya menemukan ‘romance’ hadir sebagai tiang utama cerita di karya sastra. Cerpen-cerpen koran Minggu tidak jarang berisi pergulatan kisah percintaan. Cerpen-cerpen dalam antologi sastra tidak jarang menyoal patah hati dan ditinggalkan. Cerpen-cerpen ini mengambil makna percintaan dalam ‘romance’ yang sama seperti pada karya populer.

‘Romance’ yang menggambarkan hubungan dua orang sudah hadir dalam sejarah karya-karya sastra sejak zaman dulu. Ingat Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck? Ingat Siti Nurbaya? Pada karya sastra masa sekarang? Saya nggak ingat persis berapa kali ‘romance’ diangkat oleh Aan Mansyur. Cerpen-cerpen Eka Kurniawan yang saya baca pun masih menyoal cinta. Belum yang lain-lain.

Ini baru cinta dan kasih sayang yang ditujukan pada seseorang lain atau pasangan. Belum pada hal-hal lain. Kayak cinta pada dunia si Dorian Gray dalam The Picture of Dorian Gray. Atau cinta pada ilmu pengetahuan macam tokoh utama Frankenstein. Dan masih banyak lagi.

Yang masih sering membuat saya heran itu, kenapa ‘romance’ di karya sastra bisa diapresiasi berbeda dengan ‘romance’ dalam karya populer? Hmm. Mari bertanya pada rumput yang bergoyang~

Errr… jadi sebenarnya apa yang ingin saya sampaikan ya? Haha. Yah nggak tahu juga sih, namanya omongan melantur. Lihat tuh kategorinya saja ‘random‘. :))

Tulisan ini ditulis dalam rangka Posting Bareng BBI 2016 bulan Februari dengan tema Valentine’s Day.

Banner Posbar 2016

Sumber:

  1. https://en.wikipedia.org/wiki/Romance_(love)
  2. http://www.britannica.com/art/romance-literature-and-performance
  3. http://jprstudies.org/wp-content/uploads/2014/10/RRTHOAG_Priest.pdf
Advertisements

6 thoughts on “‘Romance’ dalam Karya Sastra

  1. kenapa ‘romance’ di karya sastra bisa diapresiasi berbeda dengan ‘romance’ dalam karya populer?

    Jawabanku, karena yg dinilai memang bukan romance nya :))
    Dan biasanya posisi dan peran romance di situ beda, itu menurutku

  2. kenapa ‘romance’ di karya sastra bisa diapresiasi berbeda dengan ‘romance’ dalam karya populer?

    Nah…ini kenapa ya? Padahal karya populer unsur ‘romance’nya tak kalah menarik dengan ‘romance’nya karya sastra karena masing-masing merupakan fenomena sosial manusia. Apa jangan-jangan gegara ‘romance’ populer itu dianggap sebagai budaya komoditas sehingga kepikiran bahwa ‘romance’ itu hendaknya bersifat elit dan ke-elitan bahasa biasanya tercermin dari karya sastra (yang njelimet dan mendayu-dayu)?
    Tanya pada rumput yang bergoyang :mrgreen:

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s