Reruntuhan Musim Dingin – Sungging Raga

Reruntuhan Musim Dingin - Sungging Raga

Judul: Reruntuhan Musim Dingin
Penulis: Sungging Raga
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 204 halaman
Format: paperback

Dan inilah alasan kami menyebut pekerjaan membela karya sastra ini sebagai “Sastra Perjuangan”. Perjuangan merawat puing-puing kesunyatan di antara ketergesaan dan keberisikan jagat cilik melalui dokumentasi-dokumentasi yang boleh jadi hanya akan dilirik dan dikenang oleh segelintir kepala; kini atau nanti. (h. 5)

Begitulah saya disambut dengan kata pengantar dari kurator di Reruntuhan Musim Dingin ini. Sebelum membaca pengantar ini, saya belum benar-benar paham maksud dari sastra perjuangan. Sekarang, saya dibuat mengerti apa yang ingin dibawa oleh karya-karya berlabel sastra perjuangan dari penerbit ini.

Cerita Pendek yang Pendek

Hal pertama yang membuat cerpen-cerpen Sungging Raga berbeda di mata saya adalah panjangnya. Biasanya, cerpen-cepen yang saya baca dalam antalogi itu sekitar 7-8 lembar A5, alias 14an halaman. Nah, cerpen dalam Reruntuhan Musim Dingin ini justru sekitar setengahnya. Setiap cerpen panjangnya 8an halaman, sudah lengkap dengan ilustrasi.

Pantas saja bisa ada 22 cerpen dalam buku setebal 204 halaman ini. Cerpen-cerpen Sungging Raga tidak sepanjang cerpen biasa.

Meski demikian, cerpen-cerpennya tetap memberi hentakan yang sama. Hentakan yang biasa saya terima ketika membaca karya sastra. Gimana mendefinisikannya ya… yah, rasa berbeda yang membuat kita sadar bahwa ini sastra. Semoga kalian paham. u_u

Senja, Kereta, Terminal, Perjalanan, dan Cinta

Unsur yang paling sering saya dapati dari cerpen-cerpen di Reruntuhan Musim Dingin adalah senja. Saya nggak menghitung, tapi cerpen-cerpen di awal itu rasanya serupa. Menyoal senja dan ada kereta, terminal, lalu perjalanan. Jujur, saya baru merasa ‘kena’ dengan cerpen-cerpen Sungging Raga di paruh akhir.

Mari saya coba jelaskan kenapa saya merasa cerpen-cerpen Sungging Raga di paruh awal terasa serupa.

Cerpen pertama yang akan kita temui contohnya, Selebrasi Perpisahan. Berkisah tentang seorang lelaki dan perempuan yang harus berpisah. Berlatar senja dan terminal. Dengan unsur hubungan cinta yang kandas.

Setelah kebersamaan yang begitu panjang, mengapa kini hanya tersisa setengah jam? Apakah cinta tidak bisa diisi ulang? (h. 29)

Lalu, cerpen kedua, Dermaga Patah Hati. Berkisah tentang seorang gadis yang menunggu di dermaga. Ada senja dan cinta. Meski cerpen ketiga, Melankolia Laba-laba, tidak mengandung senja, kereta, atau perjalanan; aspek cinta masih terasa nyata. Cerpen keempat, Serayu, Sepanjang Angin Akan Berhembus, ini yang memuncakkan rasa jemu saya pada paruh awal cerpen Sungging Raga.

Serayu, Sepanjang Angin Akan Berhembus berkisah tentang sepasang muda-mudi yang tengah melihat senja dari sungai Serayu. Dalam cerpen ini, lengkap sudah Sungging Raga menyuguhkan senja, kereta, perjalanan, dan cinta dalam satu kesatuan cerpen. Ketika mencapai cerpen ini saya merasa … cerpen-cerpen Sungging Raga menjelma jadi repetisi yang menjemukkan.

Lalu, sampailah saya pada cerpen selanjutnya, Untuk Seseorang yang Kepadanya Rembulan Menangis. Nah, cerpen ini langsung menjungkir-balikkan perasaan jemu saya. Alih-alih merasa datar dan biasa saja seperti saat membaca empat cerpen sebelumnya, di cerpen ini saya merasakan unsur absurd!

Rembulan terus menangis sepanjang malam ini, bahkan ia juga sesenggukan, suara sesenggukan itu pun bisa terdengar kalau kita naik ke tempat tinggi yang cukup sepi, di bukit St. Andrews misalnya. (h. 57)

Cerpen ini membawa saya pada pengalaman yang berbeda dengan cerpen-cerpen sebelumnya. Meski absurd, Sungging Raga mengisahkan dengan biasa saja. Seperti rembulan yang menangis itu bukan hal besar. Maksudnya, dalam cerpen memang dianggap hal besar, tapi gaya menulis dan pilihan kata Sungging Raga membuat hal itu terasa lebih biasa dari seharusnya.

Alam yang Hidup

Sungging Raga menciptakan alam yang hidup. Benar-benar hidup.

Bayangkan seandainya ada sebuah sungai yang tiba-tiba menjelma manusia karena merasa jenuh menjadi sungai, merasa bosan dan lelah mengalirkan air dari pegununggan ke muaranya di lautan lepas. (h. 80)

Lihat kutipan dari Rayuan Sungai Serayu di atas. Sungging Raga mentransformasikan alam menjadi manusia dalam cerpennya. Dan seperti dalam cerpen Untuk Seseorang yang Kepadanya Rembulan Menangis, hal ini tidak dianggap besar. Memang dalam Rayuan Sungai Serayu itu, Serayu dicari, tapi hal itu tidak benar-benar dianggap besar.

Selain Rayuan Sungai Serayu, ada juga bunga edelweis yang menjadi manusia dalam cerpen Sihir Edelweis.

“Aku benar-benar perempuan edelweis, aku terbentuk dari sebuknya yang putih, dari kabut yang turun di malam hari, dan dari garis merah pertama ketika matahari merancang pagi.” (h. 117)

Lagi, kita akan menemukan cerpen absurd ala Sungging Raga yang terasa datar tapi entah kenapa … ajaib sekaligus menarik. Begitulah yang saya rasakan ketika membaca cerpen berisi transformasi alam di Reruntuhan Musim Dingin. Pengalaman yang menyenangkan!

Cerpen Favorit

Jika ditanya cerpen apa yang paling saya suka, saya dengan lantang menjawab Suatu Hari, Semua Wanita Akan Berwarna Ungu. Saya suka cerpen ini karena judul dan isi cerita langsung bersambung. Begitu kita selesai membaca judul Suatu Hari, Semua Wanita Akan Berwarna Ungu, kita akan menjumpai kalimat:

Dan itu terjadi hari ini. (h. 130)

Rasanya … ajaib banget! Saya baru kali pertama ini membaca cerpen yang seperti ini. Ceritanya sendiri sederhana dan lagi-lagi masih terasa datar. Tapi, tetap saja saya tidak bisa tidak menikmati Suatu Hari, Semua Wanita Akan Berwarna Ungu.

Cerpen selanjutnya yang saya suka adalah Abnormaphobia. Cerpen ini berkisah tentang seorang psikiater dan kliennya. Sang klien mengeluh soal rasa takutnya tidak akan lagi merasa takut. Ceritanya masih terasa ajaib. Dengan alur cepat dan akhir yang mencengangkan. Tentunya nggak bisa saya kutip di sini. Nanti bakal menghancurkan kejutannya haha. XD

Lalu, ada Tak Ada Kematian di Alaska yang juga membuat saya tercengang dengan turn of event-nya. Sudah sedikit menebak sih, tapi, gimana, ya pembawaan cerpen Sungging Raga tuh gitu sih.

“Pasti ada satu tempat di dunia ini yang bisa membuatku selamat dari kematian,” ujarnya. “Suatu tempat yang bahkan Tuhan pun tidak akan mengira aku berada di sana.” (h. 173)

Terakhir, saya suka Ole Fislip Sudah Mati. Cerpen ini mengisahkan tentang kematian Ole Fislip, persis dengan judulnya. Yang membuat saya suka cerpen ini justru adalah sentilan-sentilan yang saya terima ketika membacanya.

“Hasil autopsi sementara, kami menemukan tanda-tanda kekerasan yang kemungkinan besar dilakukan oleh kehidupan kota ini di tubuh Ole Fislip.”
“Apakah itu artinya ada dugaan kalau Ole Fislip sengaja dibunuh oleh kerasnya kehidupan kota ini?”
“Mungkin saja. Tapi akan sangat sulit menjadikan kehidupan sebagai tersangka.” (h. 180)

Juga paragraf penutup cerpen ini membuat saya terdiam, lalu termenung dan berpikir.

…. mereka semua adalah Ole Fislip, dan mereka terlalu sibuk untuk menyadari kematiannya sendiri. (h. 188)

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati cerpen-cerpen Sungging Raga ini. Rasanya datar tapi anehnya ajaib. Meski memang banyak yang mengangkat tema cinta, tapi gaya bercerita Sungging Raga ini akan membuat cerpennya berasa beda.

Selamat membaca!

Advertisements

5 thoughts on “Reruntuhan Musim Dingin – Sungging Raga

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s