Bentang Pustaka · Resensi · Romance

My Wedding Dress – Dy Lunaly

wp-1456901888759.jpeg

Judul: My Wedding Dress
Penulis: Dy Lunaly
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: vi + 270 halaman
Format: paperback

Sering mendengar seorang perempuan travelling seorang diri? Sepertinya tidak. Travelling seorang diri dan perempuan seperti bukan pasangan serasi. Perempuan mana pun yang melakukannya jelas sangat berani atau justru kelewat nekat.

Lalu, apa kata yang tepat untuk menggambarkan Abby? Abby, si perempuan rumahan yang memutuskan travelling seorang diri dengan gaun pengantin. Berani? Nekat? Gila?

Setahun setelah ditinggalkan Andre di depan altar pernikahan, Abby memutuskan untuk kabur dari kehidupannya di Jakarta. Berbekal tabungan masa depan, petuah dari Gigi, dan gaun pengantin, Abby menjejakkan kaki di Penang.

β€œKemarin kamu nanya kenapa aku travelling pakai gaun pengantin, kan? Ini jawabannya, dalam pikiranku gaun ini bakal menyerap semua kesedihanku dan berubah menjadi hitam.” (h. 75)

Abby berharap perjalanannya ke Penang akan menghilangkan kesedihannya. Namun, ternyata takdir membawa Abby pada Wira, lelaki supel berkacamata yang mengajaknya menjadi travelmate. Takdir juga memaksa Abby menghadapi kenangan menyakitkan, masa lalu yang membuat trauma, dan pernikahan. Takdir memaksa Abby menghadapi masalahnya dengan kepala tegak.

Pandangan Pertama

Belakangan ada berjuta-juta (iya lebay ini) novel yang mengusung pernikahan hadir di jagat pernovelan Indonesia. Saya sendiri nggak pernah benar-benar minat. Selain dari tema pernikahan terasa jauh (dan saya masih nggak mau memikirkan hal-hal berbau itu), saya sering kali skeptis. Ah, paling gitu-gitu doang.

Lalu, saya menemukan novel ini, My Wedding Dress. Impresi pertama saya begitu lihat kovernya, cantik. Suka sama latar hitam dan paduan benda-benda yang bertebaran di sana. Juga pada pilihan warna pastel yang digunakan buat menyusun judul dan nama penulis.

Kemudian, mulailah saya membaca sinopsis di bagian belakang novel ini. Dan… WOW! Kok kayaknya novel ini nggak bakal “gitu-gitu” aja ya. Travelling sendirian dengan gaun pengantin? Terdengar unik!

Wira, si Prince Charming

Selayaknya novel romance lain, My Wedding Dress bercerita tentang kehidupan cinta Abby. Abby yang ditinggalkan Andre di hari pernikahannya belum bisa bangkit meski satu tahun telah berlalu. Itulah sebabnya dia pergi ke Penang seorang diri, berharap bisa move on.

“Kadang kita melakukan itu karena memori, kenangan, atau apa pun namanya adalah satu-satunya yang nggak berubah, sementara orang berubah.” (h. 73-74)

Di Penang Abby bertemu dengan Wira. Pertemuan awal mereka terjadi dengan tidak sengaja. Setelah pertemuan itu, mereka kerap bertemu untuk menjadi rekan dalam menikmati keindahan Penang. Awalnya tentu saja mereka hanya dua orang yang tidak saling kenal, lalu lama-kelamaan keduanya mulai berbagi kegelapan yang mereka sembunyikan.

“Aku selalu percaya cinta itu sama dengan luka. Kita mungkin ngira waktu bakal nyembuhin atau ngilangin bekasnya, tapi sebenarnya nggak. Bekasnya cuma menipis. Sama kayak cinta. ” (h. 110)

Pertama kali Wira muncul saya langsung merasa Wira sebagai prince charming yang nyaris sempurna. Dia gentleman, baik hati, tinggi, tampan, supel, bule pula, yah intinya sempurna. Untung, di bab 8 saya mulai melihat “ketidaksempurnaan” Wira. Wira juga manusia yang punya masa lalu dan luka. Kalau saja bab ini nggak ada, mungkin saya udah jengah sama Wira.

Terlepas dari kesempurnaan dan ketidaksempurnaan Wira, susah buat nggak jatuh cinta sama karakter satu ini. Dia punya pandangan hidup yang sudah sepatutnya diikuti sama manusia-manusia sekarang.

“Ngobrol sama orang asing selalu jadi pengalaman yang luar biasa karena kita nggak pernah tahu siapa yang kita ajak ngobrol, gimana kehidupan yang mereka jalani, cerita apa yang mereka punya. Itu ngajarin aku buat nggak cepat menghakimi, dan itu nyenengin.” (h. 65)

Tentang Cinta, Tentang Hidup

Saya selalu tidak setuju pada orang yang menganggap remeh sebuah novel karena novel ini novel romantis. Saya selalu percaya bahwa ada lebih dari sekadar “kisah romantis” yang bisa dipetik dari sebuah novel. Dan Dy Lunaly membuktikannya lewat My Wedding Dress.

Peningkatan hubungan Abby dan Wira ini bisa dibilang terasa. Kita bisa menyaksikan bagaimana dua orang tidak saling kenal lantas berubah menjadi kenalan, rekan, teman, dst. Sayangnya cuma satu, kurang banyak gejolaknya jadi perjalanan Abby-Wira di Penang ini terkesan datar buat saya. Jadi di pertengahan itu saya bosan. Baru merasa kembali seru ketika mereka ke Singapura.

Namun, secara garis besar, kisah cinta yang disajikan dalam My Wedding Dress ini manis. Nggak terlalu buru-buru dan sopan. Meski latarnya luar negeri atau Wira itu bule.

Lalu, bisa dibilang novel ini juga mengandung latar tempat yang bikin ngiler, juga memberikan kita hikmah. Kehidupan Abby mungkin nggak pernah terbanyangkan dalam benak kita, tapi hal itu bisa saja terjadi. Yang jadi masalah adalah, bukan apa yang terjadi pada kita, tapi apa yang kita perbuat.

“Karena aku memilih untuk bahagia, By. Aku memilih untuk berhenti mengeluh dan mulai mensyukuri hidupku, apa pun kondisinya.” (h. 131)

Selain itu, Addy dan Wira mengajarkan kita untuk menatap masa depan semenyakitkan dan seburuk apa pun masa lalu kita.

Bukan karena cemburu melihat kebersamaan mereka, melainkan karena aku merasa ditinggalkan. Aku masih menatap masa lalu, sedangkan Andre sudah menata masa depannya. (h. 225)

Serta soal berbagi. Dan saya harus setuju banget. Bahagia itu kalau ada yang dibagi, kalau nggak ada yang dibagi, rasanya belum bisa bahagia. Tapi, berbagi dan pamer itu harus dibedaiin juga ya.

Because happiness is like a kiss, you must share it to enjoy it.” (h. 133)

Terakhir

Secara keseluruhan saya sangat menikmati My Wedding Dress. Ceritanya cukup gampang ditebak, tapi penulisannya sangaaaat rapi. Karakternya juga dapat. Latar tempatnya cukup terbangun. Dan pembaca berhasil dibikin penasaran pakai banget sama alasan Andre meninggalkan Abby. Misteri ini yang membuat saya betah duduk sampai larut buat menamatkan langsung My Wedding Dress.

Novel ini bakal lebih bagus kalau perjalanan Abby-Wira di Penang lebih … bergejolak? Gimana ya, si Wira ini sopan banget sih. Mungkin kalau Wira lebih playful bakal lebih asyik.

Seperti biasa, sebagai penutup saya akan menyertakan kutipan favorit.

“Kata siapa kamu nyasar? Kamu tadi cuma belum nemu jalan yang tepat.” (h. 239)

Selamat membaca! Selamat tersesat dan menemukan!

 

Advertisements

3 thoughts on “My Wedding Dress – Dy Lunaly

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s