Cinta Tak Kenal Batas Waktu – Wulan Murti

Cinta Tak Kenal Batas Waktu

Judul: Cinta Tak Kenal Batas Waktu
Penulis: Wulan Murti
Penyunting: Vita Brevis
Penerbit: Senja
Tebal: 212 halaman
Format: paperback

Setahun setelah Fabian meninggal, Candra kembali ke Bandung. Tujuan gadis itu hanya satu, mengenang Fabian. Toh meski satu tahun telah berlalu, Candra belum bisa melupakan sosok Fabian dari hidupnya.

Candra tahu dia tidak boleh menggenggam kenangan bersama Fabian terlalu erat. Candra tahu dia harus segera beranjak dan memulai cinta baru lagi. Namun, Candra tetap saja berdiam dalam bayang-bayang masa lalu.

Namun aku yang mengikat bayangan Bon-bon terlalu erat. Aku menanamkan sugesti “aku butuh Bon-bon” dalam pikiran yang paling dasar. (h. 62)

Mungkin selamanya Candra tidak akan melupakan Fabian jika saja dia tidak menemukan surat peninggalan Fabian, jurnal, dan kertas-kertas dari buku harian seseorang.

Pandangan Pertama

Novel ini akan langsung memberikan kesan “manis” kali pertama melihatnya. Jelas saja, coba lihat desain kovernya dengan jam dan bunga-bunga dan paduan kata yang menjadi judul mengelilingi. Imut.

Warnanya pun manis. Kalau di goodreads (mungkin harusnya gini ya), warnanya terlihat lebih unyu. Rada-rada peach yang pastel sekali. Namun, yang ada di tangan saya warnanya jadi lebih … hijau. Masih manis, tapi tanpa efek warna pastel-manisnya, kadar manisnya sedikit berkurang.

Well, sekali lihat intinya saya langsung naksir. Cakep. Good job Penerbit Diva buat desain kover-kovernya yang makin hari makin cantik.

Tentang Candra dan Fabian

Sekarang, mari kita lanjut ke cerita.

Seperti yang sudah saya tuliskan di awal. Novel ini bercerita tentang kisah cinta Candra dan Fabian. Sebelum ada deskripsi soal Candra pakai jilbab, saya pikir Candra ini cowok. Serius. Nama Candra dan Fabian itu kan sama-sama maskulin ya? Nggak salah sih namain anak maskulin, tapi… kalau di novel ya bahayanya gini, pembaca bisa mengalami salah identifikasi.

Kembali ke cerita. Jadi, Candra ini cinta matilah sama Fabian. Pertemuan awal mereka sekitar 2,5 tahun lalu, saat acara temu karya di kampus Fabian. Setelah berhubungan via SMS dan telepon, akhirnya jadilah mereka sepasang kekasih. Jarak tidak pernah menjadi masalah bagi keduanya. Apalagi perbedaan keyakinan.

Bisa dibilang, tema kisah cinta yang diangkat dalam Cinta Tak Kenal Batas Waktu ini cukup dalam. Ada jarak. Ada perbedaan keyakinan. Tentunya kita bisa mengharapkan banyak konflik-konflik tercipta, kan?

Sayang, jawabannya tidak. Wulan Murti entah kenapa memberikan kisah cinta yang cukup lempeng. Well, hubungan mereka memang ditentang beberapa pihak, tapi orang tua (yang biasanya banget nih sepengetahuan saya di kehidupan orang-orang di sekitar saya) menjadi pihak paling menentang, justru sangat mendukung. Orang tua Fabian bahkan masih menerima Candra meski Fabian telah meninggal.

Ada Joseph

Lepas dari itu semua, ada satu tokoh penting lagi: Joseph. Joseph ini tidak disebut-sebut di sinopsis di bagian kover belakangan. Dia juga munculnya belakangan gitu, di halaman 64. Eh, terus ternyata dia memenang peran cukup penting (dan besar)!

Saya cukup suka karakter Joseph. Dia punya kalimat-kalimat yang makjleb buat Candra yang masih tidak bisa move on dari Fabian. Dari pertama kali muncul pun dia sudah bikin saya gemes sama sindiriannya.

“Sudah satu tahun. Bukankah sudah cukup?”
Aku mengedikkan bahu. Tak tahu.
“Apa Tuhan tak kau hiraukan lagi?” (h. 66)

Sayangnya, karakternya tidak dieksplor dengan maksimal. Seperti juga Fabian, terlalu banyak sisi baiknya yang dibeberkan. Jadi, ya, begitulah, semacam too good to be true. Mungkin ini semua karena cerita ditulis dari sudut pandang orang pertama, dari sisi Candra ya.

Dari Sisi Candra

Nah, berkaitan sama penulisan dari sudut pandangan Candra ini, harus saya akui bahwa Wulan Murti sudah gagal. Candra yang melankolis berlebihan dan entahlah rada aneh gitu membawakan Cinta Tak Kenal Batas Waktu dengan sangaaaaaaat membosankan.

Bukan cuma sekali saya pengin banget menutup buku ini dan tidak ingin melanjutkannya. Tidak ada yang salah dengan alur dan plotnya, saya rasa sudah cukup baik. Namun, gaya menulis yang dipilih pengarang sama sekali tidak baik.

Membaca novel ini serasa membaca catatan harian sangat-sangat melankolis dari Candra. Dengan bahasa Candra yang antara puitis tapi nggak menjadi. Lengkap dengan hobi flashback-nya yang gimana ya, kadang ngebingungin. Cinta Tak Kenal Batas Waktu serius sangat melelahkan. Mari saya berikan contoh:

Kupeluk boneka yang sepakat kami namai BonBin. Beruang lucu berwarna kuning kecokelatan, memakai kaus merah. Boneka yang kami beli dari hasil patungan. Boneka yang kami sayangi. (h. 42)

Nah, coba bayangkan cerita sepanjang 120an halaman yang ditulis dengan gaya bahasa seperti itu ditambah ada bagian-bagian flashback. 😐

Secara keseluruhan, ceritanya punya potensi. Sayangnya, saya tidak berhasil terpikat. Saya bahkan menyelesaikan Cinta Tak Kenal Batas Waktu dengan beberapa kali meloncat-loncat saking gaya bahasannya melelahkan. Mungkin bakal bisa dinikmati mereka yang suka cerita melankolis. Atau mereka yang suka gaya bahasanya.

Selamat membaca!

 

Advertisements

5 thoughts on “Cinta Tak Kenal Batas Waktu – Wulan Murti

  1. Terima kasih sudah mengulas dengan baik. Hehe…saya terima dengan senang hati ulasannya. Jadi boleh kah saya reblog tulisan Anda?

      • Hehe…saya ada dua novel lain yang udah terbit. 😊 Fireworks for Love (2014. de TEENS); Like Brother, Like Sister (2015. Sheila). Yg fireworks masih roman, yg like brother koreaan.
        Saya share ya. Nggak papa. Hihihi…saya haus akan ulasan. πŸ˜…
        Makasih.😊

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s