PING!!! · Resensi · Young Adult

Kasta, Kita, Kata-kata – Ardila Chaka

Kasta Kita Kata-kata.jpeg

Judul: Kasta, Kita, Kata-kata
Penulis: Ardila Chaka
Penyunting: Avifah Ve
Penerbit: PING!!!
Tebal: 188 halaman
Format: paperback

Blurb
Berawal dari hati yang terusik. Galih memperjuangkan sesuatu yang bukan kewajibannya untuk meyakinkan seorang gadis bahwa hidup bisa lebih indah dari senja di Kalibiru. Berawal dari rasa terima kasih, sang gadis penikmat senja berhasil merobohkan dinding keterbatasan. Melalui pena, ia merangkai kata dan menggores cerita dalam lukisan. Sehingga, surat-suratnya menjadi pelecut semangat bagi Galih untuk mengoyak segala ketidaksempurnaan. Dari sebuah dataran tinggi di Yogyakarta, kisah ini bermula.
Cinta ialah tentang bagaimana kekurangan bisa menjadi sumber kekuatan.

Begitu ungkap blurb pada bagian belakang sampul Kasta, Kita, Kata-Kata ini. Sayangnya, blurb ini terasa kurang tepat.

Ajeng tidak bisa berbicara dengan normal sejak demam di masa kecil dulu. Dia kesulitan mengungapkan apa yang ada di pikirannya dalam percakapan, itulah kenapa dia berbicara dengan gagap. Karena kelainannya itu, Ajeng dipandang sebelah mata. Dia juga tidak mendapat pendidikan seperti adiknya dan lebih sering menghabiskan waktu membatu orang tuanya yang buruh tani. Juga menatap kejauhan dari Kalibiru.

Galih sebentar lagi akan lulus SMA. Pemuda desa ini bercita-cita melanjutkan pendidikan di kota. Namun, ayahnya yang juragan sawah menolak. Menurut sang ayah, kuliah hanya menghabiskan uang sementara Galih bisa mengembangkan usahanya menjadi lebih besar dan maju. Di sisi lain, Galih menaruh perhatian pada Ajeng, yang selalu disepelekan orang lain.

Lihat, ada yang kurang pada blurb-nya, kan?

Hubungan Latar dan Tokoh

Novel ini ditulis dengan gaya bahasa yang lugas. Dengan tokoh remaja-menuju-kedewasaan, jelas saya tema keterbatasan ini baru kali ini saya jumpai dalam sebuah novel young adult. Tema-tema keterbatasan bukan lagi hal baru jika kita dihadapkan pada buku-buku berlabel sastra atau yang mengangkat kata “inspiratif”. Nah, ini hal yang cukup baru bagi saya dalam dunia young adult.

Bisa dibilang saya cukup menikmati Kata, Kita, Kata-kata. Saya bisa cukup membedakan narasi dari Ajeng dan Galih (novel ini ditulis bergantian dari sudut pandang mereka). Latar tempatnya pun cukup terbangun. Desa kecil di pegunungan yang masih konservatif.

Sayangnya, beberapa bagian dari narasi dari sudut Ajeng semacam menghancurkan latar yang sudah dibangun ini. Ajeng kan tidak mengenyam pendidikan dari kecil. Dia juga diceritakan selalu dianggap sepele sehingga tidak ada tanda-tanda banyak yang bergaul dengannya. Namun, kenapa kok ini pemikiran Ajeng sungguh modern, ya? Saya nggak habis pikir.

Ya, beginilah kondisi kehidupan di pegunungan. Zaman sudah maju, tetapi masyarakat masih tertinggal. Pernikahan menjadi tolok ukur nilai seorang wanita. (h. 14)

Saya nggak akan protes pemikiran Ajeng jika saja dia bersekolah, yang artinya keluar dari lingkungan desanya. Namun, melihat latar yang dibangun penulis soal karakter Ajeng … rasanya pemikiran itu terlalu modern. Bukankah lebih logis jika Ajeng ikut kolot?

Tentang Keterbatasan

Pada awalnya, saya pikir Ajeng itu tunawicara. Well, saya sudah sangat bersemangat dengan spekulasi novel bertokoh difabel. Maklumlah jarang banget novel setipe young adult mengangkat keterbatasan fisik sebagai salah satu aspek penting dalam cerita. Terlebih sekarang lebih banyak yang mengeksplorasi mental illness (bukannya saya nggak suka ya, ini bagus sih jadi semacam penyadaran terkait mental illness).

Sayangnya, ternyata Ajeng bukan tunawicara. Ajeng hanya menderita kelainan berbahasa. Tentu saja ini menambah pengetahuan saya, tapi saya sedikit kecewa, haha. Meski demikain, saya masih patutlah mengacungi jempol kepada Ardila Chaka yang memilih heroine tidak sempurna secara fisik dalam ceritanya.

Ardila Chaka juga berhasil dengan baik membangun lingkungan desa mengenai keterbatasan Ajeng. Masyarakat desa yang menanggap remeh Ajeng. Hal-hal semacam teluhlah yang menjadi penyebab kelainan Ajeng. Stigma bahwa keterbatasan itu tidak akan membuat Ajeng (atau orang lain yang nantinya melamarnya) bisa hidup seperti pasangan tanpa keterbatasan. Bahkan sikap tidak suka keluarga terhadap keterbatasan yang dimiliki Ajeng. Ironis memang, tapi nyatanya masyarakat kita masih menganggap bahwa difable itu … semacam tidak punya hak hidup. 😦

“Oalah, Kang, secantik dan rajin apa pun Ajeng, kalau ndak normal, ya, susah laku.” (h. 13)

“Kamu tahu Nak Galih siapa, kan, Nduk? Anak Pak Drajat. Yang punya lading tempat Bapak nggarap. Jangan dekat-dekat sama Nak Galih! Nanti jadi omongan orang.” (h. 27)

Turn of Event yang Dipaksakan

Tahap demi tahap yang terjadi di sekitar Galih dan Ajeng terasa cukup natural. Kedatangan mahasiswa KKN yang akhirnya mencerahkan Galih bahwa Ajeng tetap bisa membaca maupun menulis juga baik-baik saja. Kasta, Kita, Kata-Kata jelas bukan novel young adult yang cuma fokus pada hal-hal berbau cinta. Novel ini juga mengangkat isu yang kekinian.

Banyak hal yang bisa dipelajari dari Kasta, Kita, Kata-Kata. Bisa dibilang novel ini semacam menjelma kisah inspiratif dengan gaya bahasa lugas.

Saya menikmati Kasta, Kita, Kata-Kata sampai bab 12 datang. Bab ketika Galih berangkat ke Yogyakarta dan berakhir, yah begitulah. Silakan dibaca sendiri untuk tahu lebih jauh. Maklum, nanti berakhir spoiler. Intinya, saya kecewa pada apa yang terjadi. Ketika mencapai bab ini saya langsung merasa déjà vu pada beratus-ratus (iya lebay) skenario sinetron dalam negeri. 😐

Menurut saya pribadi, akan lebih baik jika, yah, tidak perlu terjadi hal seperti itu. Namun, sepertinya penaulis menganggap lain. Yah, tidak masalah. Novel ini masih sangat layak dibaca. Saya merekomendasikannya pada mereka yang ingin mencoba sesuatu yang baru, misalnya tokoh seperti Ajeng ini.

Terakhir, sebagai penutup, biarkan saya memberikan sebaris kutipan.

Kau tahu sumber cinta itu apa? Kekurangan. (h. 187)

Selamat membaca!

Advertisements

3 thoughts on “Kasta, Kita, Kata-kata – Ardila Chaka

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s