Beautiful Disaster – Jamie McGuire

Judul: Beautiful Disaster
Penulis: Jamie McGuire
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 480 halaman
Format: ebook (via iJak)

Blurb:
Abby Abernathy gadis baik-baik. Dia tak suka mabuk-mabukan dan tak pernah mengumpat. Pakaiannya selalu rapi, dan dia yakin dia sudah melarikan diri cukup jauh dari masa lalunya yang suram. Tapi ketika tiba di Eastern University bersama sahabatnya, lembaran baru yang dimulainya langsung menghadapi tantangan.

Travis Maddox yang tampan dan bertato adalah laki-laki yang ingin Abby hindari––harus dihindari. Travis mendapatkan uang dengan bertarung di pertarungan ilegal dan terkenal sebagai playboy kampus. Namun, karena tergoda oleh Abby, Travis menantang gadis itu dalam taruhan sederhana. Jika Travis kalah, dia akan hidup selibat selama sebulan. Tapi jika Abby kalah, gadis itu harus tinggal di apartemen Travis selama sebulan. Bagaimanapun, Travis tak tahu siapa yang dia hadapi.


Abby pergi dari Wichita demi memulai hidup yang baru. Hidup tanpa ada seorang pun yang mengetahui perihal keluarganya. Sayang kedatangannya ke The Circle menghancurkan rencana hidup-baru-yang-baik-baik di agenda Abby. Sebab, The Circle membawa Travis, petarung bertato seksi di The Circle, dalam hidup-baru-yang-baik-baik milik Abby.

Travis dikenal banyak mahasiswa. Bukan hanya karena dia petarung andalan di The Circle, tetapi juga karena kebiasannya tidur dengan cewek mana pun tanpa pernah berusaha membangun komitmen. Abby berusaha menjalin hubungan pertemanan platonic dengan Travis. Dia tidak mau bergabung dalam barisan cewek-yang-hanya-ditiduri-satu-malam-lalu-dilupakan milik Travis.

Kedekatan mereka mengundang banyak gosip. Gosip itu menjadi semakin panas ketika Abby kalah taruhan dan terpaksa harus tinggal bersama Travis di apartemennya. Sejak itu, batas pertemanan mereka semakin kabur.

Si Bad Boy

Saya mulai membaca novel ini untuk mendapat referensi cerita dengan karakter bad boy. Yep, itulah si Travis. Berandalan, bertato, tidak punya komitmen, dan, yah, brengsek. Namun, karakter-karakter bad boy begini selalu punya daya tarik bagi pembaca perempuan. Susah menjelaskannya, yang pasti, ya, saya akui, saya tertarik pada karakter Travis.

Begitu membaca Beautiful Disaster saya langsung saya berpikir kejutan apa yang akan saya terima terkait karakter Travis. Dan tak lama saya langsung diberikan sebuah fakta yang refleks membuat saya tersenyum geli.

“Kaupikir cowok yang tubuhnya penuh tato dan bertinju sebagai mata pencaharian tidak bisa mendapat nilai bagus?” (h. 26)

Rasanya seperti mimpi ya ada cowok macam Travis ini. Seandainya saja dia lebih hormat pada perempuan (meski bisa dibilang bukan salahnya juga soal campak-mencapkkan itu sebab ya dia memang sudah bilang hubungan itu tanpa komitmen, yah si cewek juga salahlah), dia bakal lebih memesona. Bisa dibilang, Travis di hadapan Abby (yang tidak berusaha menggoda Travis) itu cowok cool dalam buku yang cocok dijadikan objek fangirling-an. /karenakanyakitanggaktahusoalkarekterginididunianyata /lah

Sayangnya, saya nggak bisa jadi suka lagi pada karakter Travis di menjelang akhir, setelah dia berantem dengan Abby. Gimana, ya, rasanya gimana gitu membaca kalimat-kalimat seberapa “bergantungnya” hidup seorang cowok macam Travis pada seorang gadis doang.

Well, bukan “doang” sih. Saya nggak bisa bilang salah. Cinta jelas membutakan. Dan nggak ada yang salah dengan punya sebegitu besar rasa cinta pada pasangan. Tetapiiiiiiiiii entahlah, saya rasanya nggak suka bagaimana Travis mengungkapkannya dalam kata-kata. 😐

Tentang Kejahatan Manusia

Aha, iya, judul subbab (serasa nulis makalah aja) ini emang terlalu gimana gitu. Tapi, serius. Baca novel-novel yang punya karakter bad boy selalu berujung pada banyaknya gosip yang akan melanda tokoh-tokoh kita.

“Apa yang terjadi dengan Abby yang mudah gugup, misterius, dan selalu waspada, yang kukenal dan kucintai?”
“Dia mati karena tertekan oleh semua gosip dan asumsi orang.” (h. 191)

Inilah yang saya namakan kejahatan manusia. Memang, mengurusi hidup orang lain itu selaluuuu lebih mudah. Begitu juga dengan orang-orang di luar lingkaran pertemanan Abby dan Travis. Abby yang terjebak tinggal bersama Travis karena taruhan harus terkena imbas berbagai omongan buruk di belakang punggungnya.

Novel ini menunjukkan dengan sangat nyata juga bagaimana orang-orang membedakan perlakukan kepada Abby dan Travis karena gender mereka. Atau bagaimana orang-orang mengeneralisir seseorang juga karena gender mereka.

“Aku tidak bilang kau orang jahat. Aku Cuma tidak suka kau menganggapku sama dengan cewek lain hanya karena jenis kelamin kami sama.” (h. 31)

Tentang Komitmen dan Keluarga

Jatuh-bangunnya kisah percintaan Abby dan Travis cukup bisa ditebak. Meski demikian, bisa dibilang saya cukup menikmatinya. Saya menikmati bagaimana keduanya berubah karena satu sama lain. Namun, yang paling penting saya menikmati bagaimana penulis berusaha membangun komitmen di antara mereka.

“Masalahnya, tak satu pun dari kalian mau mengatakannya dengan blakblakan. Kalian berdua terlalu takut menghadapi apa yang mungkin terjadi sehingga kalian melawannya mati-matian.” (h. 156)

Lalu, saat saya pikir masalah komitmen di antara mereka sudah berakhir (tapi saya baru mencapai separuh tebal buku), saya lantas berpikir apa lagi ini yang akan ditulis di separuh akhir. Dan ternyata sesuatu yang tidak saya sangka muncul! Masa lalu Abby yang berusaha ditinggalkannya datang! Masa lalu yang membawa hubungan Abby dan Travis diterjang badai. Oho, buat yang penasaran silakan baca sendiri.

Cerita keluarga memang selalu punya pesona sendiri di mata saya. Saya suka banget pada sikap keluarga Travis terhadap Abby. Manis dan hangat. Selain itu, saya juga suka hubungan kekeluargaan Shepley dan Travis. Juga hubungan Abby dan America (btw, rasanya aneh nemu karakter namanya America atau Brazil haha).

Penutup

Beautiful Disaster punya karakter yang lovely (meski saya jadi biasa saja sama Travis diparuh akhir dan nggak terlalu suka sifat Abby, tapi saya suka sama America dan Shep, juga Finch). Juga kisah cinta yang jatuh-bangun penuh perjuangan. Juga sisi lain dari pergaulan yang jauh dari budaya timur (pertarungan, perjudian, seks bebas, dll).

Saya akan lebih suka jika pace-nya sedikit lambat. Gimana ya, kadang baru saja di A, eh penulis langsung membawa ke E. Rasanya rentang waktunya terlalu singkat gitu.

Saya juga akan lebih suka jika bisa sedikit merasakan seperti Abby atau Travis. Saya cukup suka kedekatan mereka, tapi saya rasanya nggak bisa relate dengan betapa jungkir-baliknya hubungan mereka dan… impulsifnya keputusan yang mereka ambil di akhir. Kalau saja akhirnya lebih realistis, mungkin saya bakal lebih menikmati. Ah, tapi akhir yang realistis jelas bukan akhir yang dicari dalam novel-novel roman macam ini ya? ^^;;

Sangat direkomendasikan bagi mereka yang suka karakter bad boy. Juga bagi mereka yang suka novel romantis terjemahan tanpa banyak perlu berkipas-kipas.

Selamat membaca!

Advertisements

One thought on “Beautiful Disaster – Jamie McGuire

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s