Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah – Sismaya

Sejak Awal Kami Tahu Ini Tak Akan Pernah MudahJudul: Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah
Penulis: Sismaya
Penyunting: Misni
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 268 halaman
Format: paperback

Agus tengah meniti karirnya di ibukota ketika kakak angkatnya, Bayu, memintanya untuk pulang ke kampung. Bayu hendak mendirikan pabrik gula jawa cair di Manggar Wangi, Blitar, dan Bayu butuh bantuan Agus. Sejak kecil Agus sudah berhutang budi pada Bayu, dia jelas sangat ingin membantu sang kakak. Namun, di sisi lain, Agus sudah merencanakan masa depannya di ibukota. Dia bahkan sudah berencana melamar sang kekasih.

“Yang agak susah adalah turun dari puncak gunung dan mulai mendaki lagi dari bawah.” (h. 59)

Di tengah dilema itu, akhirnya hati Agus mantap untuk mengambil keputusan berhenti dari perusahaan dan kembali ke kampung. Semua ini berkat keyakinan yang diberikan sang atasan.

“Soal memulai sesuatu dari nol, tentu ini bukan yang pertama kali kau alami, kan? Kamu bukannya lahir langsung menjadi auditor, kan? Jadi mengapa mesti khawatir?” (h. 78)

Sejak itu, dimulailah jalan Agus membantu Bayu mewujudkan impian. Ditemani Ratna, sang adik angkat, Agus dan Bayu memulai perjuangan mereka.

Sangat Ideal dan Inspiratif

Ketika membaca novel ini, harus saya akui bahwa saya merasa sangat tergerak. Fakta bahwa saya seorang mahasiswa tahun akhir ditambah banyaknya cerita inspirasi yang menyebar di kalangan akademisi, saya bisa merasa dekat dengan Agus. Juga kenyataan bahwa saya cukup dekat dengan bidang sosial sehingga impian Bayu untuk meningkatkan pendapatan penderas nira di Manggar Wangi dan memajukan desanya itu sangatlah … ideal.

Harus saya akui Bayu dan Agus adalah salah satu gambaran anak bangsa ideal dalam tahun-tahun kehidupan saya sebagai mahasiswa.

Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Mudah itu penuh inspirasi dan realistis. Penulis berhasil membuat perjuangan Bayu dan Agus tidak mudah. Meski memang kurang terasa “perjuangan” mereka karena kita hanya membacanya dalam kalimat-kalimat, tapi pembaca jelas tahu bahwa ada yang harus mereka lalui sebelum mencapai impian mereka.

Poin-Poin Mengganggu

Sayangnya, ada beberapa hal yang membuat novel ini tidak bisa benar-benar saya acungi jempol. Memang secara ide dan eksekusi cerita, penulis telah berhasil. Namun, cara penceritaan penulis dari sudut Agus yang berusia 10 tahun di awal-awal novel itu … sangat mengganggu.

Mengapa orang-orang ini berbicara berbelit-belit? Tak sadarkan mereka siapa yang mereka ajak bicara? (h. 19)

Saya nggak bakal protes jika penulis tidak menggunakan sudut pandang orang pertama dari Agus saat itu. Namun, hal ini jelas aneh kan? Bagaimana mungkin gaya bercerita seorang anak kecil desa bisa seperti itu? Belum lagi ketika Agus menceritakan soal proses pembuatan gula jawa dengan istilah dan bahasa ilmiah. Well, duh. Rasanya itu yang bercerita bukan Agus-10-tahun tapi Agus-yang-sudah-dewasa.

Selain itu, penulis juga tidak tanggung-tanggung ketika memberikan penjelasan soal pabrik. Banyak sekali bagian yang menurut saya terlalu detail dan tidak perlu (seperti ketika menjelaskan pembuatan gula jawa itu). Saya jadi kadang bingung ini sebenarnya novel atau buku kuliah.

Lalu, karakter yang ditemui Agus itu … semuanya bisa sebegitu baiknya, ya. Atasan Agus, rekan pemasok nira, rekan kerja sama…. Memang sih perjuangan mereka mengalami hambatan, tapi hambatan itu nggak hadir dalam bentuk orang yang Agus temui. Semua orang yang Agus temui justru punya pengalaman hidup yang menginspirasi. Mungkin penulis harus menahan sedikit keinginannya untuk menyelipkan cerita-cerita inspiratif.

Terakhir, karakter Ratna. Ratna ini terlalu sempurna. Memang dia bisa dibilang catat secara fisik karena polio, tetapi yang lain-lain sempurna! Dia baik hati, cantik, berjiwa besar, keibuan, peduli, dan sederet hal-hal baik lainnya. Dia punya usaha, dia sudah mandiri sejak belia, dia masih 24 tahun, dia pintar nge-blog, dia paham internet marketing, dia bisa masak, dan dia bisa mengatur waktu untuk kegiatan pribadi dan membantu kakak-kakaknya di setiap harinya.

Yang paling aneh adalah ketika dia mengajarkan Agus dan Bayu bikin blog. Well, latar tahun dalam Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Mudah jelas bukan tahun 90an. Jadi, bukankah sanggat aneh jika mereka tidak tahu blog? Jika kita lihat usia mereka di tahun 2016 ini harusnya Agus dan Bayu tidak se-clueless itulah. 😐

Terakhir

Terakhir, secara keseluruhan novel ini bagus. Berhasil menggerakan saya, juga berhasil membuat saya merasa terlibat dalam perjuangan Agus dan Bayu. Lengkap dengan inspirasi yang ditawarkan dan tema yang diangkat, novel ini menjadi sebuah bacaan yang sangat cocok bagi anak muda.

“Oalah, kalau soal modal itu nomor dua, Mas. Yang penting itu ada kemauan.” (h. 175)

Seperti kata pepatah, di mana ada kemauan di situ ada jalan. Selamat membaca!

Advertisements

2 thoughts on “Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah – Sismaya

  1. Hmmm, sudah beberapa kali baca review ini dari post yang ada di blogtour. Tapi penjelasan tentang kekurangannya tidak segamblang seperti ini. Okay, sekarang aku jadi tahu apa saja kekurangannya. 😀

    Btw, tentang karakternya yang clueless soal blog, menurutku itu masih sangat mungkin ada di jaman sekarang. Jangankan blog, ada seorang cowok yang dulu sekampus dengan temanku malah sama sekali nggak tahu cara pakai komputer atau nulis di ms word. Seorang Angelina Jolie bahkan tidak tahu cara menghidupkan komputer. XD

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s