Assassination Classroom – Matsui Yuusei

Judul:  Assassination Classroom
Pengarang: Matsui Yuusei

Suatu hari bulan meledak dan menyisakan bentuk sabit saja. Sebuah monster gurita kuning mengaku menjadi pelakunya. Tentu saja manusia berusaha membunuh monster yang mengancam jiwa itu. Sayangnya, sang gurita terlalu hebat bagi manusia. Gurita kuning itu mengaku akan menghancurkan bumi, seperti dia menghancurkan bulan, di bulan Maret tahun mendatang.

Gurita itu berjanji tidak akan kabur dan melakukan apa pun jika dibolehkan mengajar kelas 3-E SMP Kunugigaoka. Kelas drop out di SMP Kunugigaoka dalam sekejap setelah kedatangan sang gurita (yang akhirnya dipanggil Koro-sensei atau Pak Koro) berubah menjadi assassination classroom.

Artwork

Pertama, biarkan saya mengomentari artwork komik ini. Dari sekian banyak komik shounen jump yang saya baca, Assasination Classroom ini yang biasa. Sekilas saya nggak mendapatkan ‘gaya’ shounen dari manga ini. Malah saya ingat pada shoujo-shoujo, tentu tanpa mata besar berkilau.

Namun, Matsui Yuusei-sensei justru berhasil memberikan gaya yang unik. Dengan tipe gambarnya yang kurus, sedikit pendek (eh tapi kan mereka anak SMP ya), sederhana, Assassination Classroom menjadi sangat rapi untuk ukuran shounen manga berisi percobaan pembunuhan!

Terlebih lagi beliau berhasil membuat karakter Koro-sensei yang …. gimana ya, kuning, gurita, bertentakel lengket-lengket, pecinta makanan manis, hentai, panikan, tapi sangat peduli pada murid-muridnya, dan berwajah emoticon smile.

Perkembangan Cerita dan Karakter-Karakter

Resensi ini saya tunjukkan bagi serial Assassination Classroom secara keseluruhan.

Perkembangan ceritanya sendiri bisa dibilang naik turun. Beberapa chapter bisa dibaca sendiri, tetapi beberapa yang lain berkaitan tergantung dari percobaan pembunuhan apa yang sedang terjadi. Di saat kita menghadapi chapter-chapter berkelanjutan, pembaca akan dibuat tegang. Namun, ketika kita berada di chapter-chapter yang beridiri sendiri, kita akan dibawa mengenal lebih dekat dengan satu demi satu murid di kelas 3-E, juga guru-guru kelas 3-E.

Banyak percobaan pembuhunan yang ajaib banget (pakai puding gegara Koro-sensei suka puding misalnya), tetapi banyak juga yang bikin khawatir apakah mereka akan berhasil atau tidak. Namun, secara keseluruhan semua kejadian yang terjadi itu berhasil membuat karakter-karakter dalam Assassination Classroom berkembang.

Dan saya salut sama pengarangnya! Siswa kelas 3-E bukan cuma satu-dua. Memang sih beberapa yang menonjol dan selalu muncul tiap chapter (misalnya Nagisa dan Karma), tetapi pengarang juga mempedulikan karakter-karakter yang lain. Semua siswa punya background, semua siswa berkembang, dan semua siswa diperhatikan. Salut banget!

Isu Pendidikan

Nah, satu hal lagi yang bikin saya salut adalah isu pendidikan yang dibawa oleh pengarang. Assassination Classroom ini alih-alih menjadi shounen manga yang kelam dan gelap justru berubah menjadi cerah-ceria dan sarat akan isu pendidikan.

Karakter Koro-sensei yang ajaib serta kepeduliannya pada semua siswa berhasil menciptakan kelas pembunuhan yang heartwarming. Terlebih ketika kita menyadari bahwa kelas 3-E sebenarnya adalah kelas buangan, tapi berkat keberadaan Koro-sensei kelas 3-E justru melejit! Dalam serial ini kita akan mendapati banyak persaingan yang dilakukan kelas 3-E dengan kelas unggulan, kelas 3-A.

Serunya lagi, sang kepala sekolah itu juga ikut bersaing! Sang kepala sekolah dan Koro-sensei bersaing untuk menunjukkan cara mengajar siapa yang lebih baik. Banyak sekali adegan yang bisa kita relate dengan kehidupan pendidikan kita sendiri.

Assassination Classroom Tanpa Pembunuh

Lalu, yang paling saya suka di serial ini adalah bagaimana pengarang membungkus pesannya lewat karakter Koro-sensei dan Nagisa (juga murid-murid lainnya).

Nagisa, cowok cantik yang bertubuh kecil, bisa dibilang punya bakat menjadi assassin. Ketika dalam arc panduan karir, Nagisa yang menyadari bakatnya berkata kepada Koro-sensei bahwa dia punya bakat jadi sebaiknya dia menjadi pembunuh. Namun, alih-alih, mengiyakan, Koro-sensei justru berkata bahwa bakat Nagisa bisa digunakan untuk menolong orang lain. Bukannya menghilangkan nyawa orang lain.

Saat saya sampai di bagian itu, meski saya kecewa tidak bisa melihat aksi Nagisa (gimana, ya, namanya shounen manga yang sering ditunggu ya ketika karakter-karakternya beraksi gitu kan ya), lebih banyak, saya paham maksud yang ingin disampaikan Koro-sensei.

Sejak awal pun Koro-sensei sudah mengajarkan bahwa mereka kekuatan yang mereka miliki (dari pelatihan untuk berhasil membunuh Koro-sensei) bukan digunakan untuk menyakiti atau bahkan membunuh. Satu-satunya target mereka hanya Koro-sensei. Satu-satunya yang mereka boleh bunuh adalah Koro-sensei.

Selain memberikan tujuan ‘membunuh’ agar kelas 3-E hidup, Koro-sensei tak lupa memberikan bekal kepada mereka agar bisa bertahan hidup jika Koro-sensei akhirnya mati. Jadi, terlepas dari bentuknya yang aneh dan seleranya pada dada besar, Koro-sensei ini guru yang sangat luar biasa!

Dia bukan hanya memberikan tujuan, tapi juga memberikan jalan. Juga mengajarkan tentang kesempatan kedua pada orang-orang di sekitarnya.

Assassination Classroom adalah bacaan lucu yang akan membuat hati hangat (kadang hingga mengharu biru) dan penuh dengan hal-hal yang bisa kita relate dalam kehidupan. Selamat membaca!

Advertisements

2 thoughts on “Assassination Classroom – Matsui Yuusei

  1. Punya Filmnya tapi belum nonton.. 😀

    eh.. Tiba2 liat reviewnya, jdi penasaran, seperti apa sih Koro sensei itu? Maksud dri “membunuh” it apa? Apa unsur pendidikan difilmnya sebagus komiknya?

    • Saya nggak nonton live action-nya jadi nggak tahu. Tapi anime season 1-nya mirip sama manga.

      Ya membunuh beneran membunuh si Koro-sensei ini.

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s