Rust in Pieces – Nel Falisha

Rust in Pieces - Nel FalishaJudul:Β  Rust in Pieces
Penulis: Nel Falisha
Penyunting: Anida Nurrahmi
Penerbit: Ice Cube
Tebal: v + 224 halaman
Format: paperback

Novel karya ini mengisahkan Tiana, seorang gadis dengan monster dalam kepalanya. Monster yang membuat Tiana ingin menggambil barang-barang milik orang lain. Teman-teman SMPnya menghujatnya sebagai maling dan keluarga Tiana tidak tahu-menahu (Tania terlalu malu untuk mengaku). Tiana percaya bahwa monster dalam kepalanya akan pergi suatu hari nanti. Namun, hingga sekarang ia memasuki SMA dan mencoba memulai hidup baru, monster itu justru semakin ganas.

Belum lagi ada Stefan yang kepo setengah mati padanya. Dinda, teman SMP yang masuk SMA sama dengannya. Cowok blak-blakan bernama Ardhan yang duduk di depan Tiana. Juga Sherry, si cewek misterius yang sering mengamatinya.

Lantas, bagaimana nasib Tiana dan monster dalam kepalanya?

Tentang Kleptomania

Rust in Pieces bukan bacaan pertama yang menghadirkan kelptomania. Sebelumnya saya sudah membaca beberapa karya lain dengan tokoh remaja penderita kleptomania. Namun, ini kali pertama saya membaca kleptomania dengan sedalam ini.

Nel Falisha tidak sekadar menghadirkan kleptomania sebagai penyakit yang dialami tokoh utama kita, Tania. Nel Falisha juga menghidupkan kleptomania dalam novel ini, lewat Tiana. Pembaca akan dibuat merasakan bagaimana Tiana menghadapi hari-harinya dengan monster dalam kepalanya.

Tiana perlahan berdiri. Suasana berubah hening di telinga Tiana, hanya bisikan-bisikan si monster yang terdengar. Getaran tangannya semakin hebat, jantungnya berdebar keras seakan ia habis melihat hantu.

Ambil, Ti, ambil! (h. 12)

Bukan hanya menghadirkan bagaimana isi kepala Tiana, Rust in Pieces juga menghadirkan suasana di sekeliling Tiana. Orang tua Tiana yang menganggap pencurian yang dilakukan anaknya adalah pencurian.

“Uang jajanmu kurang atau gimana?”
“Biar kurang sekalipun, Mama pikir anak Mama nggak serendah itu.” (h. 49)

Teman-teman Tiana yang melabeli Tiana dengan sebutan kleptomania tanpa mengerti benar maksud dari kata itu dan berakhir menyamakan kleptonamia dengan pencuri.

“Heh, sekali maling tetap aja maling!” (h. 168)

Hingga diri Tiana sendiri yang merasa bahwa monster dalam kepalanya bukan sebuah penyakit. Dan Tiana percaya bahwa dia tidak butuh bantuan ahli untuk menjadi normal kembali.

Dalam Rust in Pieces kita akan bertemu dengan masyarakat yang menganggap mental illness bukan sebuah penyakit yang harus segera ditanggulangi. Nel Falisha berhasil menghadirkan wujud masyarakat kita, yang masih memiliki pengetahuan minim soal mental illness secara general, baik si pengidap maupun orang-orang di sekitarnya.

Bagi saya pribadi, ini salah satu poin yang membuat Rust in Pieces sangat menarik, juga terasa hidup.

Karakter-karakter yang Lovely

Satu hal lain yang saya suka dari Rust in Pieces adalah karakter-karakternya. Nel Falisha berhasil menghidupkan seorang gadis penderita gangguan kecemasan sosial kleptomania dalam sososk Tiana, yang rendah diri, tidak punya kepercayaan diri, dan penakut.

Yang membuat saya jatuh hati pada karakter-karakter dalam Rust in Pieces ini lebih ke cara Nel Falisha menghancurkan banyak stereotipe. Misalnya, Sherry yang misterius dan jadi bahan gosip itu sebenarnya hanya gadis biasa. Atau Ardhan yang tiap berbicara selalu blak-blakan dan suka bolos itu cuma seorang cowok yang perhatian. Ada juga Dinda yang sangat memperhatian penampilan tapi sebenarnya hanya gadis yang butuh teman.

Lalu, ada Stefan, si cowok cerewet yang kelewat kepo dan muncul di hadapan Tiana sebagai seorang penyelamat. Stefan ini pun sebenarnya bukan seorang penyelamat, dia hanya seorang yang kelewat peduli pada orang-orang di sekitarnya.

Kita akan menemukan karakter-karakter yang manusiawi dalam Rust in Pieces. Kita juga akan belajar untuk tidak menghakimi, termasuk pada karakter orang tua Tiana, juga teman-teman SMP Tiana.

Meski demikian, sejujurnya saya merasa bahwa akhir yang menimpa hubungan Tiana-Dinda itu terlalu menyedihkan. Nel Falisha memberikan kesempatan-kesempatan kedua pada banyak karakternya, tapi tidak bagi Dinda. Atau mungkin belum? Saya nggak tahu. Terlepas dari fakta bahwa Tiana mengerti alasan Dinda, hanya saja saya tetap merasa kasihan pada Dinda.

#BBILagiBaca

Saya mulai membaca Rust in Pieces untuk event posting bareng bulan Maret BBI, #BBILagiBaca. Novel tipis ini saya selesaikan dalam perjalanan Jogja-Solo. Yah, sebenarnya tidak berhasil selesai dalam perjalanan itu, satu jam perjalanan itu menyisakan dua apa tiga bab untuk saya habiskan begitu sampai tempat tujuan.

Rust in Pieces ditulis dengan rapi. Gaya penulisan Nel Falisha enak buat diikuti. Alurnya dan plotnya juga rapi. Saya berhasil menikmati Rust in Pieces dalam sekali duduk. Namun, pembukaannya sendiri … biasa saja.

Saya membaca novel ini tanggal 22 Maret, lalu saya tinggalkan selama dua hari dan saya tidak merasa punya keinginan untuk segera melanjutkannya. Baru ketika saya akan melakukan perjalanan, saya melanjutkan Rust in Pieces. Dan baru ketika saya mencapai sepertiga buku saya merasa novel ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Well, terlepas dari itu semua, saya harus memasukkan bukti bahwa saya membaca novel ini dalam #BBILagiBaca.

Sebelum menutup, saya sangat merekomendasikan Rust in Pieces bagi mereka yang menikmati cerita-cerita young adult. Juga bagi mereka yang menikmati cerita terkait mental illness. Selamat membaca!

Diikutsertakan dalam Posting Bareng BBI bulan Maret 2016. πŸ˜‰

Banner Posbar 2016

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Rust in Pieces – Nel Falisha

  1. Baca beberapa review blog tentang novel Rust in Pieces itu sebenernya bikin aku makin pengen baca buku ini 😦
    soalnya pernah ada seorang temenku yang mengidap penyakit pskilogis yang sama dengan Tiana tapi akhirnya dia menghilang 😦
    seru juga kak reviewnya! thanks πŸ™‚

  2. duh kak, kayaknya buku ini enak dibaca diperjalanan gitu ya, ringan tapi pesannya sangat dapet ke pembaca. aku selalu suka membaca novel yang mengangkat tema tentang mental illness, aku ingin agar orang Indonesia bisa lebih aware perihal penyakit ini, ini penyakit nyata dan bukan penyakit dikarang-karang :”)

    • banget. mana karakternya manis-manis

      iya, setuju banget. untung sekarang makin banyak novel yang ngangkat mental illness ya πŸ™‚

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s