de TEENS · Resensi · Young Adult

Harmoni – Heruka

Harmoni by HerukaJudul: Harmoni
Penulis: Heruka
Penyunting: Diara Oso
Penerbit: de TEENsTebal: 240 halaman

Paras. Penulis teenlit best-seller. Sedang menggarap novel ketiganya ketika editornya selama ini, Ellan, diganti dengan Prita. Prita meminta Paras melakukan revisi besar-besaran agar karya ketiga Paras menjadi the breathtaking one.

Rafal. Penggemar karya sastra yang sedang menulis. Sayang, dia senantiasa menghapus, menyunting, dan membandingkan tulisannya dengan karya-karya sastra dunia. Kecintaannya pada sastra membuat Rafal menyepelekan karya lain, termasuk karya Paras.

“Tapi aku hanya membahas buku-buku sastra saja dalam blogku.”
“Kenapa?”
“Aku nggak suka dengan teelit. Dan nggak minat.” (h. 17-18)

Pertemuan keduanya berakhir dengan sinis. Keduanya yakin mereka tidak akan cocok satu sama lain. Namun, apa yang terjadi setelah Rafal membaca novel Paras dan pemuda itu menemukan Paras sebagai salah satu pemateri di Writing Clinic? Apa juga yang akan terjadi ketika Paras mencoba membaca dan menulis karya sastra?

Kisah Cinta di antara Isu Sastra-Bukan Sastra

Harmoni bercerita tentang Paras dan Rafal. Kedua orang yang punya prefensi membaca berbeda. Paras dengan karya-karya populer dan Rafal dengan karya sastra.

Sebagai penikmat keduanya, isu yang diangkat menjadi latar belakang dalam Harmoni ini menarik. Bagaimana karakter Rafal yang arogan dibuat sadar dengan keberadaan karya populer. Juga bagaimana Paras yang buta sastra mulai memperhatikan karya-karya sastra (meski rasanya aneh banget kalau Paras nggak pernah dengar nama Hemingway, Oscar Wilde, atau Murakami (h. 19), sebagai penulis yang udah best-seller rasanya terlalu mustahil buat sebuta itu dalam dunia sastra).

Yang lebih menarik, penulis memilih kedua karakternya sebagai penulis. Pada akhirnya, penulis tidak memihak mana pun dan lebih menekankan soal kegiatan ‘menulis’ itu sendiri. Semua ini disampaikan ketika Writing Clinic sedang berlangsung.

“Bukan berarti membaur sama dengan menyerahkan hasrat kita demi pekerjaan. Bukan lho. Intinya itu kan menulis itu sendiri.” (h. 111)

Sayangnya, kegiatan Writing Clinic ini … gitu doang. Sesi-sesi yang diikuti Rafal sebelum sesi Paras, cuma diceritakan sekilas. Sedangkan sesi Paras diisi dialog yang puanjang kayak ceramah. Minim sekali narasi dan deskripsi latar, tempat, waktu, orang-orang dalam Writing Clinic. Ketika sesi pertanyaan pun isinya cuma Paras sama Rafal berbalas-balas dialog berisi argumentasi. Jadi kayak debat dituliskan tok, bukan lagi novel.

Padahal event ini punya potensi yang besar untuk mengeksekusi isu sastra-bukan sastra. Sayang.

Ah, satu lagi, di Writing Clinic, Paras berkata soal perlu membaca buku genre apa pun, tapi kok di halaman-halaman lain si Paras ini buta banget soal sastra sih? Kalau dia sekadar pembaca, saya nggak bakal protes. Namun, Paras ini penulis lho. PENULIS. Udah best-seller dan sampai jadi pembicara event kayak Wrting Clinic.

Kembali lagi ke cerita. Di separuh akhir, ketika keduanya mencapai pemahaman, isu sastra-bukan sastra ini langsung hangus dan digantikan konflik percintaan. Ah, nggak cuma di separuh akhir sih, sedari awal pun kisah romance sudah mengisi Harmoni.

Saya nggak terlalu mempermasalahkan hubungan yang dibangun penulis antara Rafal dan Paras. Yang saya permasalahkan itu romance lain, seperti kemunculan Firli (namanya feminim banget, saya pikir ini perempuan) atau fakta soal Venus dan orientasi seksualnya, juga perihal kedua orang tua Rafal.

Ketika membaca Harmoni, mau nggak mau saya membatin, ini kok banyak banget sih konfliknya. Banyak yang akhirnya nggak diselesaikan lagi (misal kemunculan Firli). Bukan cuma nggak diselesaikan, penulis juga tidak memberi ruang buat konflik-konflik dan kisah-kisah cinta lain itu berkembang. Jadinya, mau nggak mau saya merasa semuanya terlalu maksa buat dimasuk-masukan dalam novel setebal 240 halaman ini.

Tentang Rafal

…. Saya belum pernah benar-benar nggak suka pada seorang karakter. Sebel-sebel iya pernah, tapi sebel yang keterlaluan sampai jadi nggak suka hanya kejadian di karakter dalam Harmoni ini. Yup, si Rafal.

Saya cukup mengerti alasan penulis membuat Rafal sebagai sosok yang mendiskreditkan karya-karya populer. Namun, saya tetap nggak bisa nggak suka pada Rafal.

“Kalau begini, tulisanku bahkan nggak lebih baik dari para penulis romance di novel-novel teenlit itu.” (h. 8)

Well, what’s so wrong with romance and teenlit? Wong dia aja nggak selesai nulis ya kok ngeremehin penulis lain yang jelas udah punya karya. Rasanya pengen nonjok Rafal!

Meski akhirnya, seiring setelah pertemuannya dengan Paras, si Rafal ini menjadi semakin sadar diri, saya tetap nggak bisa simpati para Rafal. Yah, cuma bisa sampai pada tahap biasa saja.

Sayangnya, saya pribadi kurang merasakan pergolakan Rafal ketika dia menyadari bahwa karya yang selama ini dianggapnya ‘sampah’ tidak berisi ‘sampah’ seperti anggapannya. Padahal saya pikir, ketika Rafal selesai membaca karya Paras, pemuda itu bakal … lebih frustrasi danΒ in denial. Makanya ketika membaca halaman 66 dan 67 itu, saya merasa karakter arogan Rafal langsung hilang dalam sekejap, bukan perlahan-lahan.

Btw, soal Rafal, di halaman 17 ketika Paras nanya blognya itu, si Rafal jawab “BBI” kan? Maksudnya BBI apa ya? Blogger Buku Indonesia? Atau BBI yang lain?

Kalau maksudnya Blogger Buku Indonesia, sebagai member BBI, saya rasa nggak ada deh yang pernah ngaku blognya itu BBI pas ditanya. Ngaku member sih banyak. Nggak bakal aneh kalau Rafal jawab, blog buku. Atau penulis ngasih nama blog Rafal dan membuat Rafal sebagi salah satu blogger buku terkenal di Indonesia. Ketimbang membuat Rafal menjawab “BBI” dan nggak memberikan latar belakang yang dalam soal fakta Rafal seorang blogger.

Terakhir

Selain hal-hal seputar sastra-bukan sastra dan menulis, ada hal-hal lain yang bisa kita petik dalam Harmoni. Salah satunya adalah tentang mewujudkan mimpi jelas tidak bisa dicapai secara instan.

“Apalah artinya mengejar sesuatu kalau ternyata kamu juga meninggalkan sesuatu yang lain, yang dulu kamu perjuangkan?” (h. 135)

Meski demikian, satu pelajaran yang paling membekas bagi saya itu soal kebahagiaan dalam hubungan manusia. Bagaimana Rafal (juga pembaca) harus menjadi lebih dewasa dan semakin dewasa dengan kisah hidup kedua orang tua Rafal. (Namun, sampai akhir pun Rafal ini terlalu kekanak-kanakan, eh.)

“Ini bukan rumus matematika. Bukan satu tambah satu jadi dua. Bukan Dad bersatu dengan ibumu, lalu jadi bahagia.” (h. 150)

Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa adalah sebuah pilihan.

Selamat membaca!

Advertisements

8 thoughts on “Harmoni – Heruka

  1. Believe me, orang-orang kayak Rafal itu ada! Bahkan nggak harus pecinta sastra. Dan tiap kali karya mereka ditolak penerbit, mereka nyalahin genre romance yang lebih populer. Sick kan :v

  2. Dibaca dari resensi ini, sepertinya emang banyak banget konflik yang dimasukan penulis. Perbedaan pendapat kedua tokoh yang menjadi problem masing-masing karakter, Masalah ortu Rafal, Venus, Firli.

    Menurutku ide pertemuan lumayan menarik. Tapi kalau eksekusi alurnya jadi berantakan wah, sangat disayangkan. Jadi seperti cerita yang belum selesai digarap.

    Tapi tetep pengen baca, cover dan blurb/sinopsisnya memikat haha

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s