Event · Random

HUT BBI Ke-5: Halo, Mbak Prisca

Halo, Mbak Prisca.

Salam kenal. Saya Wardah, satu dari sekian banyak penggemar tulisan Mbak Prisca.

Saya juga seorang anggota BBI. Hari ini dalam rangka HUT BBI ke-5, anggota BBI diminta menuliskan surat untuk penulis favoritnya. Iya, inilah mengapa saya me-mention surat ini ke akun twitter Mbak. Harapan saya sederhana, saya pengen surat ini dibaca Mbak Prisca sampai habis.

Jadi, saya mengenal Mbak Prisca lewat Éclair: Pagi Terakhir di Rusia sekitar lima tahun lalu. Saya-lima-tahun-lalu adalah seorang pembaca yang skeptis pada novel-novel lokal. Sebabnya mungkin saya-enam-tujuh-delapan-sembilan-tahun-lalu sudah kebanyakan direcokin teenlit. Memang ada cukup banyak yang berkesan, tetapi menginjak lima tahun lalu, teenlit jadi bacaan membosankan yang gitu-gitu doang bagi saya. Faktornya mungkin karena usia saya.

Nah, sekitar lima tahun lalu, saya diajak seorang teman penulis fanfiksi untuk kopdar. Itu kopdar pertama saya bertemu orang-orang yang selama ini saya kenal hanya di dunia maya. Teman saya ini saya panggil Sa atau Sacchan. Nama bekennya sih Sanich Iyonni. Mbak Prisca mengenalnya, kan?

Sebelum kopdar, Sa mengajak saya ke toko buku dan menunjukkan Éclair: Pagi Terakhir di Rusia Mbak Prisca. Dia berkata, “Mbak Prisca ini penulis fanfiksi juga, lho.”

Kalimat itu membuat saya tertarik. Sa kemudian bercerita lebih lanjut soal tulisan-tulisan Mbak Prisca yang sudah dia baca. Sa juga berkata bahwa Éclair: Pagi Terakhir di Rusia juga bagus. Meski, menurut pengakuan Sa sendiri dia lebih suka tulisan-tulisan Mbak Prisca pas masih fanfiksi.

Tak butuh waktu lama bagi saya menghabiskan Éclair: Pagi Terakhir di Rusia dan begitu menyelesaikannya saya … speechless  dan jatuh cinta secinta-cintanya. KENAPA SAYA BARU TAHU KALAU PENULIS LOKAL ADA YANG SEBAGUS INI?

Éclair: Pagi Terakhir di Rusia langsung memberikan warna berbeda pada karya lokal dalam hidup saya. Sejak membaca novel Mbak Prisca itu pemikiran “karya lokal isinya cuma teenlit langsung terhapus dari benak saya”. (Iya, saya serius. Sampai lima tahun lalu saya pikir kalau novel-novel popular lokal itu ya cuma teenlit padahal ternyata ada banyak! Saya aja yang kudet.)

Efek Éclair: Pagi Terakhir di Rusia sangat besar dalam hidup saya.

Tulisan Mbak Prisca itu membuat saya berburu karya-karya Mbak Prisca yang lain. Sayangnya, nggak banyak yang bisa saya dapatkan karena ternyata sudah berjarak cukup lama. Meski saya kecewa, ternyata nggak lama kemudian Mbak Prisca mengeluarkan karya lain, Beautiful Mistake.

Dari Beautiful Mistake, saya masih menjadi penunggu kisah racikan Mbak Prisca yang lain. Saat itu saya masih cukup skeptis pada karya lokal, jadi saya menunggu yang sudah terpercaya saja. Nah, ternyata nggak lama kemudian Mbak Prisca mengeluarkan Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa. Saya ingat saat itu tahun 2012.

Di tahun 2013, seorang teman yang tahu saya menyukai tulisan Mbak Prisca memberikan saya buku terbaru Mbak Prisca: Paris; Aline. Nah, Paris; Aline ini lalu membuka bagian otak saya yang lain. Untuk kedua kalinya dalam hidup saya, Mbak Prisca telah mengubah pandangan saya.

Entah kenapa, sejak membaca Paris; Aline saya mulai memiliki hasrat membaca lebih banyak karya-karya lokal! Saya pun tidak mengerti kenapa. Bisa jadi karena tema yang diangkat Mbak Prisca sesuai sama kondisi jiwa saya saat itu atau memang takdir membawa saya supaya tidak buta pada karya-karya lokal.

Yang jelas, paska membaca Paris; Aline saya mulai berburu tulisan-tulisan penulis penerbit itu yang lain. Tulisan Mbak Prisca kemudian mengantarkan saya pada karya-karya Mbak Windry Ramadhina, yang seperti tulisan Mbak Prisca langsung masuk wishlist saya. Juga pada karya Mbak WInna Effendi, yang ketika tokohnya bukan remaja berhasil sangat-sangat saya sukai. Atau Mbak Morra Quatro, yang selalu membawa ide nggak biasa. Serta berpuluh-puluh penulis lokal lain yang sebelumnya keberadaannya nggak saya sadari sebelumnya.

Tanpa membaca Éclair: Pagi Terakhir di Rusia saya yakin saya masih akan menganggap novel lokal itu sebatas teenlit. Dan tanpa membaca Paris; Aline saya nggak bakal menemukan puluhan karya lokal yang luar biasa!

Saya bersyukur telah dipertemukan dengan karya Mbak Prisca. Terima kasih telah menulis dan membuka mata saya. Terima kasih telah menulis dan menumbuhkan kecintaan saya pada karya-karya lokal.

Mesk demikian, ketika menulis ini saya sedikit merasa bersalah. Bukan hanya karena saya belum membaca karya terbaru Mbak Prisca, Love Theft, saya yang ngaku-ngaku sebagai penggemar ini nyatanya belum mengulas karya beliau di blog ini! Iya sih ada, tapi itu saya ulas duluuu sekali ketika belum bergabung BBI. Maafkan saya, Mbak. 😦

Sejujurnya, berkaitan dengan kenyataan ini, saya sejak akhir tahun lalu kepikiran mau mengadakan reading challenge buku-buku Mbak Prisca. Selain supaya saya bisa mengulas tulisan-tulisan Mbak Prisca, tetapi supaya saya juga punya teman! Ehe.

Sayangnya, saya nggak sempat buat menghubungi Mbak Prisca untuk meminta kesediaan. Nah, momen ini sekalian saja saya manfaatkan buat menyampaikan keinginan ini. XD

Tentu saja nantinya saya bakal menghubungi Mbak Prisca secara pribadi nanti, tetapi saya ingin menyampaikan ide ini kepada Mbak Prisca sekalian lewat fan letter ini. Mungkin kalau Mbak Prisca nggak keberatan tahun 2017 bisa jadi waktu pilihan. Semoga saja harapan ini berbuah nyata. :”

Terakhir, saya sangat-sangat menunggu karya terbaru Mbak Prisca! Sejak Purple Eyes mulai hadir di medsos, saya sudah langsung penasaran (meski saya sedikit kecewa karena kovernya nggak secantik harapan saya tapi ya nggak apa, masih cantik kok).

Mbak Prisca seoranglah yang baru saya temukan menggunakan tell tanpa membuat saya bosan, tapi justru membuai. Tulisan-tulisan Mbak Prisca seperti dongeng yang punya kadar manis pas. Selalu apik! Selalu berhasil bikin saya makin dan makin jatuh cinta pada karya Mbak Prisca.

Semoga ke depannya saya bisa menuliskan ulasan novel-novel karya Mbak Prisca di Melukis Bianglala. :”

Salam penuh kekaguman dari penggemarmu,
Wardah

Advertisements

4 thoughts on “HUT BBI Ke-5: Halo, Mbak Prisca

  1. Ternyata mbak Prisca penulis fanfic, baru tahu aku. Aku juga suka banget Eclair, buku yang membuat aku menyukai karya mbak Prisca, tulisannya beda dan dark, cocok banget dengan seleraku 🙂

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s