PING!!! · Realistic Fiction · Resensi · Romance

Distance Blues – Agustine W.

Distance Blues - Agustine WJudul: Distanace Blues
Penulis: Agustine W.
Penerbit: PING!!!
Tebal: 288 halaman

Elmi. Pekerja bagian general affair di sebuah department store. Selalu dituntut sempurna oleh sang Mama. Dan belakangan punya kecenderungan untuk melakukan hal yang sama berulang-ulang kali sehingga men­­derita OCD. Di saat dia sedang menjalin hubungan LDR dengan Dirga, Rasyad hadir dengan tangan terbuka di sisi Elmi. Apa yang harus Elmi lakukan?

Rasyad. Chef terkenal pemilik restoran baru di department store tempat Elmi bekerja. Tampan dan idola banyak wanita. Sayangnya, dia justru menaruh hati pada Elmi, gadis yang telah punya kekasih. Apakah Rasyad harus memupuskan cintanya atau dia bisa berjuang agar Elmi balik menaruh hati padanya?

Dirga. Laki-laki mapan dari keluarga berada. Meski dulu pernah punya track record kesetiaan yang buruk, dia berjanji lain pada Elmi. Setelah segala urusannya selesai, dia berjanji akan melamar Elmi. Namun, kenapa belakangan Elmi menjauh darinya? Ada apa dengan kekasihnya itu?

Orang Ketiga

Sejujurnya, saya paling menghindari cerita orang ketiga. Rasanya nggak tega banget melihat hati seseorang hancur karena orang lain, meskipun itu tokoh fiksi. Terlebih, orang ketiga itu bagi saya pribadi berarti merusak hubungan orang lain dan rasanya … kayak nggak ada yang namanya kesetiaan dalam cinta.

Saya nggak bisa suka sama Rasyad. Meski dia playful dan baik hati dan manis dan romantic dan, yah loveable deh, saya tetap saja nggak bisa suka pada fakta dia berusaha merebut Elmi dari Dirga. Rasyad jelas saja ujian yang datang akan kesetiaan cinta Elmi dengan Dirga, tapi…. tetap saja sulit suka pada sosok orang ketiga ini.

“Lihat saja, siapa yang akan menyerah lebih dulu, perasaannya ke pacarnya itu, atau perasaanku ke dia.” (h. 101)

Untungnya, Distance Blues ini menghancurkan ketakutan saya. Saya suka bagaimana penulis mengeksekusi masalah demi masalah yang dihadapi Elmi dengan dewasa. Sesuai untuk usianya. Terlebih terkait isu orang ketiga ini.

“Aku nggak mau curiga sama pasangan sendiri. Bukankah sesuatu itu terjadi karena pikiran kita yang mengendalikan? Kalau pikiran kita negatif, ya kejadian yang menimpa kita negatif.” (h. 29-30)

Akhir yang dipilih penulis juga bagi saya pilihan yang baik. Suka sama ekesekusi problema orang ketiga dalma hubungan Elmi ini. Cocok banget buku ini dibaca mereka-mereka yang tengah menjalin LDR. Mungkin hubungan Elmi bakal membantumu. X)

Tentang OCD

Satu hal lagi yang menarik di novel ini itu tentang OCD. Alias obsessive compulsive disorder. Ini bukan kali pertama saya dengan istilah OCD tapi ini kali pertama saya menemukan OCD dalam sebuah novel. Banyak banget info seputar OCD yang bisa didapat dari novel ini. Mulai dari kemungkinan yang jadi penyebab, tanda-tandanya, hingga terapi yang bisa dilakukan untuk mengatasi OCD.

Saya menghargai semua yang dituliskan pengarang terkait OCD ini, tetapi akan lebih baik rasanya jika dibikin lebih padat. Gimana, ya, ketika Elmi bertemu Bu Nurul untuk konsultasi itu… semua info langsung dijejalkan gitu lho. Sampai berhalaman-halaman, yang tentu saja membuat lelah pembaca. Mungkin bisa lebih baik jika dibagi per sesi. Supaya pembaca bisa pelan-pelan mencerna soal OCD ini.

Yang jelas, novel ini akan mencerahkanmu perihal OCD. Agustine W berhasil menghidupkan OCD dalam karakter Elmi. Kebiasaan-kebiasaan yang mungkin bakal bikin pembaca gregetan banget sama Elmi. Dan fakta bahwa OCD itu bisa juga menghancurkan hidup seseorang.

Novel ini juga bakal memberikanmu tips self-therapy terkait OCD.

“Coba kamu lebih rileks ketika mengerjakan pekerjaanmu. Kalau ada kekeliruan yang sudah terlanjur, maafkan dirimu sendiri. Kamu sudah berusaha.” (h. 115)

Terakhir

Distance Blues ini bacaan yang akan memberikan pengalaman berbeda dalam kisah-kisah yang membawa tema orang ketiga. Selain dieksekusi dengan dewasa, masalah keluarga yang diangkat juga bakal membuat pembaca relate dengan keluarganya sendiri. Fakta bahwa orang tua selalu ingin yang terbaik bagi anak meski demikian bukan berarti orang tua selalu benar berhasil disampaikan penulis dengan sangat baik lewat keluarga Elmi.

Sayangnya, sejak awal baca nama Elmi tuh tanpa sadar saya langsung inget sama telmi. Duh, gimana ya, habis Elmi sih namanya. Padahal nama lengkapnya kan Elmira. Kenapa nggak ditulis Elmira aja dalam narasi dan dipanggil “Elmi” atau “El” di percakapan, ya? Atau ini persepsi saya aja ya?

Yah, yang jelas saya cukup suka karakter Elmi. Meski dia mengidap OCD, suka memikirkan berlebihan, dan senang memendam perasaan sendiri, dia tetap menyelesaikan masalahnya dengan kepala dingin. 🙂

Untuk menutup ulasan ini, saya akan memberikan kutipan yang saya setuju banget!

Persetan dengan banyak pertanyaan basi yang selalu dilontarkan orang saat usia seorang perempuan mencapai 25 tahun, sebut saja seperti kerja di mana? Kapan menikah? Bahkan ketika sudah menikah ditanya kapan punya momongan dan blab la bla. (h. 173)

Selamat membaca!

PS. Sekarang sedang berlangsung giveaway novel ini, lho. Informasinya bisa kamu cek di sini. Selain itu, kamu juga punya kesempatan membawa novel ini dengan mengikuti giveaway hop saya di sini. Yuk ikutan! 😀

Advertisements

One thought on “Distance Blues – Agustine W.

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s