de TEENS · Drama · Resensi

Garnish – Mashdar Zainal

Garnish - Mashdar ZainalJudul: Garnish
Penulis: Mashdar Zainal
Penyunting: Miz
Penerbit: de TEENs
Tebal: 220 halaman

Buni. Sarjana ekonomi yang lebih senang berada di dapur. Dia bahkan bercita-cita menjadi chef profesional. Sayang, menurut sang mama dapur adalah bukan wilayah yang cocok buat seorang laki-laki seperti Buni. Merasa sangat tidak dihargai sang mama, Buni memilih kabur dan mengejar mimpinya. Buni percaya dia bisa menjadi anak yang berguna dan sukses dengan jalannya sendiri.

Anin. Sang putri dari keluarga kaya raya yang terpenjara dalam rumahnya sendiri. Sejak melihat pameran lukisan bersama mendiang ibunya, Anin ingin menciptakan dunia lewat lukisan-lukisannya. Namun, menurut sang ayah melukis adalah pekerjaan kotor yang tak layak dilakukan anak gadisnya. Anin yang dilarang melukis dan semakin dikekang memutuskan minggat dari istananya. Dia akan menunjukkan pada sang ayah bahwa dia bukan seorang tawanan.

Keduanya bertemu di taman kota. Buni dengan kekecewaan pada sang mama yang ditunjukkan kecap dan saus melumur di tubuhnya dan Anin dengan kemarahan pada sang ayah yang berbentuk coreng cat air di dirinya. Kemiripan cerita dan bentuk mereka yang tidak karuan membawa keduanya terjalin pada takdir baru. Takdir yang mereka usahakan bersama.

“Aku berencana menyewa sebuah tempat yang representatif untuk membuka sebuah kedai, atau kafe, sekaligus galeri, kecil-kecilan.” (h. 101-102)

Si “Aku”

Garnish dituliskan bergantian dari sudut pandang Buni dan Anin, yang sayangnya sampai novel ini habis pun saya nggak tahu nama lengkap mereka siapa. Keduanya menggunakan “aku” untuk menceritakan kisahnya. Keduanya juga menggunakan jenis huruf yang sama sehingga pembaca tidak akan bisa tahu sekali lihat siapa yang tengah bercerita.

Pembaca harus mengandalkan ingatannya, siapa yang bercerita di bab sebelumnya, untuk bisa tahu. Karena, suara Buni dan Anin ini sama. Saya tidak mendapatkan kekhasan dari narasi Buni atau Anin. Keduanya terlalu sama. Bukan hanya takdir mereka yang mirip dan fakta mereka mencoreng tubuh dengan saus kecap atau cat air hari itu, gaya bercerita keduanya pun mirip.

Saya tidak merasakan sudut Buni “cowok banget” atau Anin “cewek banget”. Keduanya terlalu sama, mirip, persis. Kayak siapa pun yang tengah bercerita tidaklah lebih penting dari si “aku”. Ini sebabnya saya nggak bisa menebak siapa yang tengah bercerita begitu sudah membaca separuh awal.

Buni, Anin, dan Orang Tua

Buni dilarang memasak oleh sang mama. Sedangkan Anin dilarang melukis oleh ayahnya. Secara sekilas kita bisa melihat anak-anak yang dipasung mimpinya oleh orang tua sendiri. Tentu saja saya percaya bahwa orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anaknya, tapi sudah cukup banyak kabar-kabar yang sampai ke telinga kita tentang anak-anak yang akhirnya “mati” karena orang tuanya sendiri.

Sekarang, mari melihat alasan yang mendasari sikap kedua orang tua tokoh kita ini.

Kita mulai dari Buni. Menurut sang mama, memasak adalah kegiatan perempuan. Berhubung papa Buni seorang ekonom, sang mama mendoktrin bahwa Buni pun harus menjadi ekonom di perusahaan-perusahaan besar. Lebih jauh lagi, sang mama tidak tanggung-tanggung melakukan kekerasan verbal terhadap Buni, seperti mengatakan Buni tidak berguna.

“Kau tidak memasak sekalipun, Mama dan Papa tetap bisa makan. Yang membuat Mama dan Papa tak bisa makan adalah melihatmu menganggur seperti ini.” (h. 9)

Sedikit banyak saya bisa memahami pola pikir sang mama ini. Mama Buni adalah contoh orang tua masa kini, yang percaya bahwa kesuksesan ditunjukkan dari dapat kerja di perusahaan. Meski demikian, alasan bahwa “memasak adalah pekerjaan perempuan” itu rasanya sedikit nggak banget. Mungkin si mama nggak pernah nonton Master Chef kali ya.

Saya pribadi lebih percaya bahwa alasan sang mama ini adalah faktor sang papa ekonom yang kerja di perusahaan. Juga alasan berupa “memasak tampak tidak berguna dan tidak bisa memberikan masa depan yang cerah”. Terlepas dari apa pun pandangan Buni soal memasak atau dapur.

Aku kerap membayangkan bahwa dapur adalah sebuah tempat di mana cinta dan kedamaian bermula. (h. 5)

Lain lagi dengan Anin. Alasan sang ayah melarang Anin melukis lebih nggak banget lagi.

“Mengapa kau malah melukis? Ayah tak mau cat air itu mengotori rumah dan mengotorimu.” (h. 17)

Padahal sepengetahuan saya, melukis ini termasuk hobi mahal, seperti main musik. Lagi pula, Anin kan hanya melukis ketika cerita ini dimulai. Anin tidak (atau belum) berkata pada sang awah bahwa dia akan menjadi pelukis. Makanya, alasan pelarangan sang ayah ini sangat mengada-ada deh. Toh kalau rumah kotor juga ada si Mimi, pembantu terpercaya.

Jadi, meski kondisi yang dihadapi mereka mirip tetapi sebenarnya beda. Menurut saya pribadi, Buni itu dilarang mamanya menggapai mimpi dan Anin selalu diatur ayahnya. Pada akhirnya juga konfilk orangtua-anak di pihak Anin berakhir lebih cepat daripada Buni. Bahkan menurut saya ayah Anin ini cuma lagi nggak rasinal aja saat melarang Anin melukis. Buktinya beliau sangat bijak.

“Ayah sudah memberimu kepercayaan, artinya kau harus bisa membuktikan pada Ayah bahwa bebas bukan berarti lepas, bahwa kau sudah cukup dewasa untuk memikirkan apa-apa yang terbaik buat dirimu sendiri.” (h. 51)

Terlepas dari itu semua, saya percaya dengan apa yang dikatakan Bli Sutha, lelaki pemilik sanggar tempat Anin dan Buni menginap di malam mereka kabur. Bahwa begitulah cara orang tua menyayangi anaknya. Dan yang dibutuhkan hanya dialog dari hati ke hati.

“Kalian berdua masih terlalu muda, dan mungkin kalian akan menyadarinya setelah usia kalian sama dengan usia orang tua kalian.” (h. 46-47)

Mewujudkan Mimpi

Terlepas dari hal-hal yang saya sampaikan di atas, kisah yang ditulis Mashdar Zainal dalam Garnish ini cocok banget dibaca mereka-mereka yang tengah berusaha menggapai mimpi. Atau mereka-mereka yang mulai putus asa. Meskipun fakta Anin orang kaya sehingga tidak sulit bagi mereka memulai bisnis kafe, tapi perjalanan Buni dan Anin yang ditulis di Garnish ini bakal cukup mengena.

“Jadi, pertanyaan utamanya, adalah, apakah kita yakin untuk terus berjalan maju dan melakukan yang terbaik ataukah kita malah berhenti, mundur, karena mengkhawatirkan sesuatu yang bahkan belum kita ketahui?” (h. 115)

Apalagi cerita ini ditulis dengan asyik. Gaya bahasanya ringgan dan kalimat-kalimatnya rapi. Meskipun pembaca bakal menemukan satu-dua kata yang nggak umum dalam karya populer, misal jenak, atau kau dalam percakapan. Saya baru tahu belakangan bahwa Mashdar Zainal ini seorang penulis cerpen-cerpen sastra. Ini bisa jadi salah satu alasan kenapa Garnish tidak menggunakan “gue-elo” dalam bahasa percakapannya padahal berlatar Jakarta.

Meski Jakarta tidak berhasil dihidupkan penulis (saya justru merasa latar tempat yang cocok itu kota macam Jogja atau Malang kali ya), banyak hal seputar menggapai mimpi yang bisa dipetik oleh pembaca. Juga soal kepercayaan diri.

“Ini bukan masalah nominal berapa atau berapa. Ini masalah kau turut andil atau tidak. Jadi, kusarankan kau menurut dan tidak banyak berkomentar yang merendahkan dirimu sendiri.” (h. 104)

Yang paling saya suka adalah aspek romantis antara Buni dan Anin tidaklah lebih dominan daripada perjuangan mereka menggapai mimpi. Mashdar Zainal berhasil menuliskan novel populer mengenai mimpi tanpa menjadikan karya ini berlabel novel romance.

Selamat membaca!

PS. Sekarang masih berlangsung blogtour Garnish lho! Coba deh cek ke sini.

Advertisements

One thought on “Garnish – Mashdar Zainal

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s