Antologi · Fantasi · Gramedia Pustaka Utama · Resensi

Orang-Orang Tanah – Poppy D. Chusfani

Judul: Orang-Orang Tanah
Penulis: Poppy D. Chusfani
Penyunting: C. Donna Widjajanto
Penerbit: Gramedia Pustaka  Utama
Tebal:  200 halaman
Format: ebook via iJak

Orang-Orang Tanah merupakan kumpulan cerpen bertema fantasi. Buku ini menjadi buku kumcer pertama yang saya baca dengan tema fantasi. Sekaligus karya pertama dari penerjemah favorit saya, Mbak Poppy meski Mbak Poppy nggak kenal saya hiks, tapi saya selalu suka buku yang diterjemahkan beliau.

Dalam buku setebal 200 halaman ini ada sembilan karya. Favorit saya adalah “Lelaki Tua dan Tikus” dan “Orang-Orang Tanah”. Belakangan, ketika saya buka GR dan nyalin url kover yang saya cantumkan di sini saya baru sadar bahwa ada banyaaaaak orang yang juga suka kedua cerpen ini.

Jadi, cerpen-cerpen dalam buku ini didominasi dark fantasy. Gelap, mencekam, dan penuh dendam. Dibuka dengan Jendela, cerita tentang Dinah yang hidup menyedihkan karena status kemiskinannya. Jujur, Jendela merupakan salah satu cerpen yang membosankan bagi saya. Ini kenapa saya sempat membaca buku ini lama karena cerpen-cerpen di awal itu membosankan. Meski tentu saja ada banyak realita sosial yang bisa kita temukan dalam Jendela.

Ia tidak iri melihat anak-anak sepanjang gang berjalan menuju sekolah setiap pagi, sementara ia sendiri baru hendak tidur sehabis terjaga semalaman menunggu Ibu pulang. Ia hanya ingin ibunya, tidak ingin apa-apa lagi. (h. 13)

Lalu, ada Pelarian. Cerpen ini tergolong high fantasy, dengan si tokoh “aku” gadis perempuan yang dibenci banyak anak-anak seusianya karena berbagai macam hal. Belakangan kita bakal dikenalkan pada “kaum laut” yang menyebabkan “aku” begitu berbeda dengan yang lain. Cerpen ini sendiri menarik, dengan potensi dikembangkan menjadi lebih panjang karena ada twist yang nggak saya sangka.

Anak-anak lelaki menganggapku pengganggu, seorang perempuan di antara kelompok elite mereka. Sementara anak-anak perempuan tidak lagi mau bergaul denganku karena aku dianggap jorok, kasar, dan tidak pantas bermain boneka. (h. 32)

Lalu, ada Pondok Paling Ujung. Nah, cerpen satu ini lebih ke horor. Saya sendiri nggak terlalu menikmati karena genre-nya horor. Gimana, ya, pas baca seram. Baca cerpen ini saya jadi ingat komik serial horornya Yoko Matsumoto! Mirip-mirip gitu.

Kemudian ada Bulan Merah. Cerpen ini termasuk yang lama saya baca, habis bikin bingung. Saya butuh baca cerpen ini dua kali sebelum paham sebenarnya apa yang terjadi pada tokoh aku di cerpen ini.

Dewa Kematian adalah cerpen yang berikutnya. Bercerita dengan sudut pandang orang kedua dan seseorang yang bernama Venus yang tengah bercerita. Idenya sendiri sebenarnya biasa, tapi cara penulis menuliskannya membuat cerpen ini terasa berbeda. Saya jadi suka. Cerpen ini sendiri juga mengisahkan sisi manusia yang tidak akan pernah merasa puas.

“Dulu aku berkata pada diri sendiri: terus, terus mendaki, sedikit lagi, begitu sampai di atas kau bisa menghela napas dan berbaring puas. Bohong besar. Jangankan berbaring, aku bahkan tidak bisa duduk.” (h. 98)

Lalu ada Pintu Kembali. Cerpen ini mengingatkan pada novel John Connolly, The Book of Lost Things. Kikan adalah seorang gadis yang disuruh mengikuti jalan untuk bisa pulang ke rumah. Ada misteri yang langsung menggantung sejak awal cerpen ini dimulai, misteri yang akhirnya bisa dipecahkan begitu pembaca menyelesaikan cerpen ini. Yang paling menarik dari cerpen ini adalah akhirnya yang nggak sesuram cerpen lain.

“Kenyataan tergantung di mana kau berada.” (h. 123)

Sekarang, sampailah pembaca paca Lelaki Tua dan Tikus. Bercerita tentang Sari, si “aku” yang punya masa lalu kelam dan tetangga dalam satu rusunnya. Sari ini menggambarkan bahwa bagaimanapun masa lalu kita, masa lalu tetaplah masa lalu. Semua orang berhak punya masa depan.

Segala hal yang terjadi dalam hidupku, noda yang sudah kutorehkan dalam lembaran hari-hariku, semua itu takkan bisa kuhapus lagi. Noda itu akan selalu ada di sana, di masa laluku, mengotori. (h. 143)

Tetangga sebelah kamar sari adalah lelaki tua kita, lelaki tua dengan tikus-tikus yang jadi peliharaannya. Setiap Sari mulai bercerita tentang lelaki tua dan tikus, saya langsung merinding! Ada banyak imajinasi yang muncul di benak saya ketika lelaki tua dan tikus diceritakan Sari, tetapi tidak ada yang seperti imajinasi penulis! Di titik inilah saya merasa sangat-sangat “wow” pada cerpen ini. Penulis berhasil mempengaruhi saya untuk berpikir seperti “ini” padahal ternyata yang benar seperti “itu”.

Lalu ada Sang Penyihir. Cerpen ini bercerita tentang seorang gadis yang terlahir berambut hitam. Karena rambutnya itu, gadis ini disebut gadis yang dikutuk, penyihir. Cerita ini penuh dengan dendam sampai pada akhir cerpen. Saya sempat berharap akan ada secercah harapan, tetapi ternyata tidak. Sang Penyihir berakhir dengan kelam, sekelam takdir gadis yang disebut penyihir.

Terakhir adalah Orang-Orang Tanah. Cerpen yang menjadi judul buku ini termasuk cerpen favorit saya. Meski favorit utama saya tetap Lelaki Tua dan Tikus. Bercerita tentang Alia yang membenci ibu tirinya, karena banyak alasan. Berkat sang ibu tiri inilah Alia berakhir sendirian, kesepian, dan membenci banyak hal.

“Kau suka binatang?”
“Lebih suka binatang daripada manusia.” (h. 188)

Membaca kumcer ini adalah pengalaman yang menarik dan berbeda bagi saya. Kebanyakan tokohnya adalah perempuan, dan mayoritas cerpen-cerpennya gelap. Saya baru kali ini membaca cerpen dark fantasy.

Saya sangat merekomendasikan kumcer ini kepada mereka yang menggemari fantasi, apalagi mereka yang ingin merasakan fantasi yang berbeda. Juga kepada mereka yang menikmati cerita yang kelam, gelap, maupun menakutkan.

Selamat membaca!

Advertisements

One thought on “Orang-Orang Tanah – Poppy D. Chusfani

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s