Complicated Thing Called Love – Irene Dyah

complicated things called love - irene dyah
Judul:
Complicated Thing Called Love
Penulis: Irene Dyah
Penyunting: Dini Novita Sari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 256 halaman

Sedari kecil hidup Nabila diatur ibunya. Mulai dari urusan pakaian, aktivitas, hobi, sekolah, pendidikan lanjutan, hingga pasangan hidup. Adalah Bagas, pria baik hati, mapan, tampan, serba sempurna yang menjadi pilihan sang ibu. Meski Nabila menikmati kedekatannya dengan Bagas, Nabila belum yakin untuk melangkah menuju sesuatu yang lebih pasti, pernikahan. Masih ada seorang bernama Bayu yang tidak pernah pergi dari hati Nabila sejak dia remaja berseragam putih-abu.

Apa yang harus Nabila lakukan?

Pilihan Ibu vs Pilihan Sendiri

Isu yang diangkat dalam Complicated Things Called Love ini terasa dekat bagi pembaca, yaitu pertentangan pilihan orang tua dengan pilihan sendiri. Di cerita Nabila, pertentangan itu berwujud pasangan hidup. Nabila dihadapkan pada dua pilihan, lelaki pilihan sang ibu atau lelaki yang dipilihnya sendiri dulu. Meski isu pasangan hidup ini masih terasa jauh dari saya, saya berhasil merasa terhubung dengan Nabila dengan kenyataan: Ibu Nabila senantiasa meminta Nabila ini dan itu.

Kadang Nabila curiga, Ibu meyakini bahwa dirinya adalah perpanjangan tangan Tuhan bagi putrinya. Memegang takdir, mempertimbangkan kelayakan Nabila mendapatkan pahala atau dosa berdasarkan tabiat dan perilakunya.
Bahkan Tuhan pun lebih pengampun daripada Ibu. (h. 99-100)

Sebagai seorang anak, saya tahu bahwa orang tua hanya ingin yang terbaik bagi sang anak. Namun, di sisi lain, siapa pun pasti jengah jika sedari kecil segala hal dalam kehidupannya ditentukan oleh orang tua. Seperti Nabila ini.

Sayangnya saya belum pernah jadi orang tua, jadi saya tidak bisa memberikan pandangan dari sudut orang tua. Hehe.

Dalam Complicated Things Called Love ini, Nabila mengajarkan kepada kita bahwa di antara dua pilihan itu, selalu ada jalan tengah, yaitu kompromi. Sebab orang tua selalu ingin yang terbaik bagi anak dan anak pun berhak memilih untuk dirinya sendiri. Kuncinya hanya kompromi.

Penulis berhasil menyajikan konflik Nabila-Ibu yang terasa dekat dengan pembaca.

Meski saya sedikit kecewa karena akhirnya penulis menunjukkan secara gamblang mana yang benar dan mana yang salah dalam kehidupan percintaan Nabila ini. Bukannya apa, saya berharap tidak ada yang benar atau salah antara pendapat Nabila dan Ibu. Karena, menurut saya, orang tua tidak selalu benar dan anak tidak selalu salah. Yang penting adalah komunikasi dalam hubungan orang tua-anak.

“Kamu sudah mengambil langkah benar untuk mengejar apa yang kamu inginkan. Bisa jadi akhirnya kamu bahagia, bisa pula akhirnya kamu kecewa. Selalu seperti itu.” (h. 216)

Intro-Intro yang Ajaib

Yang terasa sangat berbeda ketika membaca Complicated Things Called Love karya Irene Dyah ini adalah bab intro-nya yang banyak! Dari 256 halaman ini, ada satu prolog dan lima bab intro. Setiap bab intro ini akan membawa pembaca pada Nabila dan keempat temannya.

Ada pertemuan ajaib Sora dengan Langit, dua manusia berbeda kutub yang memiliki nama serupa.

“Ooh, jadi kamu sengaja nabrak saya tadi?”
“Sengaja sedikit, sih. Maaf, ya.” Lagi-lagi pria itu tertawa. Kali ini tanpa rasa bersalah. (h. 12)

Ada Aalika yang merasakan percikan cinta pada Rain, pria yang seharusnya tidak dia cintai.

“Tidak ada yang boleh kita simpan kecuali yang ada di sini dan di sini, Rain,” Aalika mengingatkan, menyentuh kepala dan dadanya. (h. 51)

Ada liburan semalam Dania dari rumah dan keluarganya, liburan yang membuat Dania teringat fakta bahwa suaminya tidak pernah sekalipun memujinya cantik.

You don’t need any plastic surgery at all!”
“Kamu belum melihat semuanya, Casp. Jangan terburu menghakimi.” (h. 63)

Ada bulan madu kedua yang dilewatkan Dewi dengan sang suami yang hendak diceraikannya, Dewa.

“Dewi… kkta ini pasangan sejajar. Tidak ada kalah atau menang!” (h. 75)

Terakhir, ada Nabila yang dilamar di tempat romantis, di atas bianglala yang tengah berputar, oleh Bagas.

Mengulas senyum bahagoa dan memasang mata berbinar-binar, seperti yang selalu dia lihat pada setiap film-film romantis di mana akhirnya sang pria akan menundukkan kepala, merengkuh tubuh wanitanya, kemudian mendaratkan ciuman panjang yang mengesankan. Kemudian tulisan The End. Selesai.
Sayang episode Nabila tampaknya tidak sesederhana itu. (h. 44)

Nah, keempat intro yang berisi cerita empat teman Nabila itu memang tidak nyambung dengan cerita utama sang tokoh utama kita. Keempat intro itu bisa dibilang benar-benar episode terpisah dari empat orang yang berada di dekat Nabila. Meski awalnya sempat bingung, tapi toh akhirnya saya sangat menikmati keempat intro itu. Apalagi cerita pertemuan Sora dan liburan malam Dania. Rasanya pengin banget baca versi utuh cerita Sora dan Dania.

Pada akhirnya, semakin jauh saya membaca, keempat intro itu bukannya ‘tidak nyambung’ dengan cerita Nabila dalam Complicated Things Called Love. Keempat intro itu dan keempat sahabat Nabila itu justru berperan besar dalam pergolakan Nabila tentang calon pasangan hidup.

“Pasangan menikah tidak bisa ditukar dan diganti semudah baju baru yang ternyata tidak kamu sukai.” (h. 138)

Keempat intro itu melengkapi judul ‘complicated’ yang tertera dalam novel ini. Seru juga baca novel dengan eksplorasi karakter-karakter pendukung yang cukup lebar (lewat satu bab tersendiri untuk tiap tokohnya) kayak gini.

Sayangnya, ketika Nabila sudah kembali ke Jogja, keempat karakter ini kurang muncul. Memang sih, jarak telah terbentang di antara mereka. Namun, empat intro tentang mereka di awal seharusnya memberikan mereka ruang yang cukup dalam kehidupan Nabila setelahnya, kan?

Terakhir

Secara keseluruhan, saya menikmati tulisan Irene Dyah ini. Penulisannya rapi dan asyik banget buat diikuti. Belum lagi ada foto-foto yang bikin novel ini makin cantik. ❤

Kurangnya itu justru para timeline waktu. Ketika Nabila sudah kembali ke Jogja dan bertemu lagi dengan Bayu maupun Bagas itu, saya bingung dengan pembagian waktunya. Penulis tidak memberikan keterangan waktu yang jelas antara kepulangan Nabila, reuni SMA, hingga kerja Nabila di ibukota. Terus, rasanya ya terlalu cepat saja. Mungkin memang terbatas halaman sih, tapi saya menangkap kesan buru-buru pascareuni SMA Nabila itu.

Nah, seperti biasa, saya mau memberikan kutipa favorit. Yang pertama ini dari Sora, yang saya harap banget bisa dituliskan novelnya sendiri hihi.

“Masalahnya adalah sekarang kamu ragu-ragu. Dan orang yang ragu-ragu tidak bisa berpikir jernih.” (h. 144)

Terakhir, dari sang ibu kepada Nabila. Kutipan ini saya rasa perlu dipahami oleh semua orang yang hendak, bukan hanya mereka yang hendak menikah. Jangan sampai sebuah ‘jabatan’ menghapus jati diri kita.

“Kamu berhak bahagia dengan cara yang kamu pilih sendiri. Camkan itu, Nduk. Ibu akan sangat sedih bila nanti Nabila ‘menghilang’, berganti wujud menjadi semata-mata seorang istri dan ibu.” (h. 202)

Selamat membaca!

Advertisements

One thought on “Complicated Thing Called Love – Irene Dyah

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s