Gramedia Pustaka Utama · Remaja · Resensi · Young Adult

Starlight – Dya Ragil

Starlight - Dya RagilJudul: Starlight
Penulis: Dya Ragil
Penyunting: Tri Saputra Sakti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 264 halaman


Starlight tersedia di Bukupedia


Blurb
“Bakal kusedot semua cahaya dari bintang-bintang yang kelewat dekat. Hati-hati, bisa aja kamu salah satunya.”

Gimana rasanya satu kelompok belajar sama murid-murid berbeda kepribadian? Harusnya sih seru, tapi Wulan merasa kebalikannya. Dia bete mesti sekelompok sama Lintang—saudara kembarnya—yang lebih disayang sang ayah, Bagas si jenius bermulut besar, Nindi yang galak dan dingin, juga Teguh si biang onar. Hubungan kelimanya makin kacau waktu sekolah mengadakan seleksi perwakilan olimpiade sains.

Di tengah persiapan olimpiade, Wulan harus menghadapi sang ayah yang selalu meragukan dirinya, mantan pacar yang kerap menindas saudaranya, juga mantan gebetan yang terus mengganggu konsentrasinya.

Akankan kehidupan SMA Wulan berjalan mulus? Atau dia gagal membuktikan kemampuannya?

Karakter-karakter yang Bikin Pengin Meluk

Begitulah blurb pada bagian belakang novel Starlight karya Dya Ragil ini. Namun, begitu saya mulai membaca, Starlight lebih dari itu. Starlight bukan hanya bercerita tentang Wulan yang lelah diragukan sang ayah.

Kata orang, impian seharusnya digantungkan setinggi bintang di langit. Tapi… bahkan bintang pun bisa jatuh, kan? (h. 12)

Ada Lintang yang terbelenggu oleh ekspektasi sang ayah. Si ketua kelas yang skeptis pada guru dan sering berbicara ceplas-ceplos. Juga pemuda dengan masa lalu yang tak seindah bayangan.

“Kamu pernah punya sahabat, Nin? Aku pernah punya. Tapi aku melarikan diri waktu kami berdua kena masalah.” (h. 158)

Ada Bagas, si jenius arogan yang begitu bicara selalu bikin orang lain sakit hati. Namun, dia pun menyimpan cerita dari masa silam.

“Alasan selalu sederhana. Yang jadi pembeda kan gimana kita bisa bikin hal sederhana itu jadi sesuatu yang nyata dan berarti besar.” (h. 64)

Ada Teguh, si tipikal murid berandalan. Bolos, merokok, cari gara-gara, dan banyak lagi. Namun, siapa yang tahu bahwa dia punya cerita meyakitkan yang tidak pernah diketahui orang lain?

“Kalau kamu nggak tahu apa-apa soal gimana hidupnya, tutup mulut kamu!” (h. 101)

Juga ada Nindi, si gadis dingin yang kerjanya belajar, belajar, dan belajar. Tentunya dia tidak melakukan itu tanpa alasan, kan?

“Sekolah itu seperti masyarakat kecil. Selain urusan nilai-nilaii berwujud angka, kamu juga bisa belajar bersosialisasi. Punya teman, misalnya?”
“Apa itu berguna bagi saya?” (h. 169)

Kelima karakter dalam Starlight ini sukses banget membuat saya pengin memeluk mereka satu-satu. Semua karakternya terasa nyata, dan dekat, dan berhasil menarik simpati saya. Mereka semua punya alasan kenapa sikap mereka seperti itu. Perlahan, pembaca akan tahu alasan Lintang tidak berani menentang Teguh. Atau alasan Nindi selalu serius belajar. Atau alasan Bagas selalu nyelekit ketika berbicara ke Teguh. Karakter-karakter remaja kita ini sangat-sangat manusiawi. Kelimanya berhasil dieksplor dengan sangat sukses oleh Dya Ragil.

Sayangnya, karakter gurunya, terlebih Pak Hadi, justru kurang dieksplorasi. Memang sih ini cerita remaja, tapi karakter Pak Hadi ini punya peran penting. Pak Hadi hanya dieksplor masa lalunya dari sisi Lintang dan saya merasa tidak puas karena di akhir cerita guru satu ini punya peran besar.

“Kompeten? Itu karena dia selalu mendewakan nilai. buatnya, nilai bagus itu segalanya. Dia menyerah sama anak-anak peringkat bawah.” (h. 43)

Bukan Cuma Tentang Impian

Seperti yang tertulis di kover belakang, Starlight ini bercerita banyak perihal impian. Dengan setting sekolah dan karakternya yang remaja, Starlight terasa ringan. Namun, latar belakang karakter-karakternya dan konflik-konflik yang tercipta akan memberikan rasa fresh kepada pembaca. Itu yang saya alami.

Karena Starlight ini bukan hanya fokus pada impian. Ada cerita tentang kehidupan remaja yang bisa dibilang getir sekaligus cukup jleb.

Mereka terkadang bisa begitu jahat kepada anak-anak yang tidak punya kekuatan untuk melindungi diri sendri. Walaupun si anak mengatakan kebenaran, siapa yang akan percaya pada ucapan remaja tanggung bau kencur dibanding orang dewasa yang mengutarakan argumen sangat meyakinkan meskipun salah kaprah? (h. 94)

Ada juga soal peghakiman, hal-hal yang biasa terjadi. Saking biasanya, bisa saja kita tanpa sadar siapa tahu juga sudah menghakimi tanpa punya bukti. Tanpa tahu cerita utuhnya.

“Saya nggak membelanya. Saya cuma merasa nggak punya hal untuk asal menuduh tanpa ada bukti apa pun, nggak peduli separah apa pun dia memperlakukan saya.” (h. 45)

Ada juga soal pendidikan dan anak. Sindiran bagi banyak tenaga pendidik (juga orang tua, kalau menurut saya pribadi) yang nggak pernah lekang waktu.

“Maksud saya, yang Bapak lakukan itu tindakan pembiaran. Kalau saya boleh bilang, itu penghalusan dari ketikdapedulian, kan?” (h. 47)

Ada begitu banyak hal yang saya dapati dari Starlight. Novel ini tidak hanya menyulut impian saya dan membawa saya bernostalgia dengan kehidupan sekolah, tapi juga memelintir hati saya lewat karakter-karakternya yang masih belia. Saking banyaknya saya sampai bingung sendiri bagaimana menjelaskannya.

Yang paling nyata, Stalight ini mengajarkan saya buat tidak menghakimi.

“Maksudku, butuh teleskop sekaliber Hubble buat bisa lihat bintang yang nggak akan kelihatan dengan teleskop biasa. Kalau Sirius B nggak terlihat, itu cuma karena kualitas teleskopnya yang jelek, bukan karena Sirius B itu nggak ada.” (h. 52)

Juga buat berhenti lari dari masalah, karena lari dari masalah tidak akan membawa saya ke mana pun. Saya suka banget pada adegan habis praktikum fisika itu. Selain dari misteri yang meyelubungi Starlight mulai menghilang, adegan-adegan yang menyusul setelahnya bikin hati saya terharu. Terlebih interaksi Lintang dengan Wulan. *pelukin satu-satu*

“Karena akhirnya kamu mau ngaku setelah bertahun-tahun. Karena kamu mau berusaha buat berhenti melarikan diri.” (h. 137)

Terakhir

Sayangnya, saya nggak mendapatkan cerita yang lebih utuh soal masa lalu itu dan sang ayah. Bukannya apa, hanya saja kan si Lintang ini digambarkan lebih disayang dari Wulan, tapi kok sang ayah nggak sehancur yang saya pikirkan ketika ‘itu’? Belum lagi fakta bahwa sampai SMA pun Lintang yang selalu lebih dibebani terus dan terus. Apakah di SMP prestasi Lintang selalu nomor satu? Ataukah segala ekspektasi itu semakin besar karena masa SMP Lintang? Atau fakta bahwa Lintang itu anak laki-laki? Ataukah ada alasan lain kenapa sang ayah lebih sayang pada Wulan? Saya sedikit tidak bisa memahami tindakan sang ayah.

Yah, itu saja sih yang mengganjal. Secara keseluhan, saya sangat menikmati Starlight. Saya bakal merekomendasikan novel ini pada mereka yang menikmati young adult. Menurut saya label teenlit sedikit nggak cocok sih sama Starlight, habis novel ini cukup ngubek-ngubek emosi. :”

Novel ini juga sangat saya rekomendasikan bagi remaja. Bagi mereka yang sedang bermimpi. Bagi mereka yang sedang butuh teman. Bagi mereka yang mencoba memandang hidup dari sisi yang berbeda.

“Orang yang ada di bawah selalu kelihatan kecil buat orang yang ada di atas, kan?”
“Tapi orang yang adad di atas juga selalu kelihatan kecil buat orang yang ada di bawah.” (h. 59)

Juga bagi mereka yang sedang ingin menyerah. Percayalah. Pada akhirnya semua bakal baik-baik saja.

 “Semua bakal baik-baik aja. Itu bukan janji. Nggak berarti semua bakal beneran baik-baik aja. Tapi itu doa. Kata-kata yang ngasih kita sugesti dan ekuatan untuk mengusahakannya sendiri.” (h. 197)

Selamat membaca!

Advertisements

2 thoughts on “Starlight – Dya Ragil

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s