PING!!! · Resensi · Romance · Young Adult

Maple Terakhir – Aning Lacya

maple terakhir - aning lacyaJudul: Maple Terakhir
Penulis: Aning Lacya
Penyunting: Ainini
Penerbit: PING!!!
Tebal: 188 halaman

Sebagian orang mungkin tidak menyadari. Terkadang memang ada sebuah masa yang amat dibenci untuk diingat. (h. 6)

Camille benci masa lalunya. Dia berusaha sebisa mungkin untuk meninggalkan masa lalu dan seseorang di masa lalunya. Namun, sampai saat ini masa sekarangnya pun terasa menjemukan. Camille seakan terperangkap dalam hidup yang begitu-begitu saja. Hingga dia berpapasan dengan Joulien, seorang gadis yang mengajarkannya akan keindahan cahaya bokeh. Juga Ken, pemuda dengan kamera tergantung di lehernya.

Apakah kehidupan masa baru Camille akan berjalan baik-baik saja? Ataukah masa lalu akan kembali mengganggu gadis itu?

Masa Lalu dan Pelajaran yang Bisa Dipetik

Maple Terakhir ini banyak membicarakan masa lalu. Jelas karena tokoh utama kita adalah seseorang yang membenci masa lalunya. Lewat perjalanan hidupnya yang mulai melakukan hal-hal baru, pembaca akan dibawa untuk mengambil banyak pelajaran.

Tokoh-tokoh lain seperti Joulien dan Ken juga sama, mereka punya masa lalu. Lewat interaksi Camille dengan Joulien, yang menjadi sahabat barunya, kita akan menemukan fakta bahwa setiap orang boleh punya masa lalu dan selalu punya cara sendiri untuk mengatasi masa lalu tersebut. Sedangkan lewat Ken, Camille akan membawa pembaca menyadari bahwa sepahit apa pun masa lalu, masa lalu tetaplah sebuah pelajaran yang penting.

“Masa lalu selalu ada. Padamu, padaku, dan mungkin pada setiap orang. Aku tak pernah memaksamu untuk berkata itu penting atau tidak penting. Tapi, bagaimana kamu banyak belajar darinya.” (h. 181)

Masa lalu ketiga tokoh kita ini erat kaitannya dengan cinta. Mereka punya luka tersendiri. Dan mereka punya cara sendiri untuk mengobati luka tersebut.

Jika cinta, lalu kenapa ia harus menangis tiap malam? (h. 12)

Sayangnya, latar tokohnya kurang dieksplor. Saya tidak menemukan sosok masa lalu Camille dengan gamblang. Saya tidak mendapati alasan jelas kenapa Joulien pernah pergi, dan saya tidak bisa merasa dekat dengan Ken yang misterius.

Karakter-karakter dalam Maple Terakhir ini dituliskan dengan nanggung. Tidak ada pendalaman karakter yang membuat saya merasa dekat dengan mereka. Sayang sekali padahal gaya menulis Aning Lacya ini terasa cukup khas.

Alur Cerita

Hal lain yang saya sayangkan adalah alur ceritanya. Maple Terakhir ini terlalu cepat. Sangat cepat malahan!

Saya tidak meraskaan chemistry yang menghubungkan Camille dengan Ken sama sekali, bahkan hingga ke akhir. Pertemuan pertama mereka memang terasa natural, tapi pertemuan-pertemuan mereka yang berikutnya terasa canggung dan maksa. Mungkin karena gaya percakapan yang dibuat penulis? Gimana ya, gaya percakapannya tidak terasa seperti berada di luar negeri.

Selain itu, Camille dan Ken memang tidak dikenalkan dengan jelas kepada pembaca. Seperti yang saya bilang di awal, karakternya kurang dieksplor, termasuk ke dalam ciri fisik karekter, kesukaan, penampilan khas, cara karakter bersikap, dll. Makanya ketika benih-benih cinta mulai tumbuh, saya tidak merasakan ikut jumpalitan.

“Aku rasa, kamu perlu banyak mengenalnya. Barakali masih banyak hal yang belum kamu tahu sebelum benar-benar memutuskan untuk jatuh cinta padanya.” (h. 116)

Lalu, semakin ke belakang, alur ceritanya semakin cepat! Saya masih tidak paham kenapa cerita Maple Terakhir ini ditulis seterburu-buru ini. Apakah karena keterbatasan halaman? Atau ada alasan lain?

Ah, latar Belgia-nya juga kurang terasa. Lagi-lagi, mungkin karena keterbatasan halaman?

Sangat disayangkan padahal saya menikmati awal-awal membaca novel ini. Alurnya yang cepat benar-benar membuat saya sukar menikmati Maple Terakhir hingga halaman terakhir.

Terakhir

Selain tentang masa lalu, Maple Terakhir juga menyingung soal keraguan. Saya suka bagaimana penulis menerjemahkan keraguan Ken. Meski di halaman-halaman berikutnya saya rada mengernyit karena tindakannya tidak memberi tahu Camille soal pameran. Lagi, harus saya katakan, karakternya tidak dieksplor dan kadang terasa tidak konsisten.

Dan ia tahu, sesuatu yang ragu dari dalam hatinya mengindikasikan bahwa itu tak boleh terjadi. (h. 66)

Novel ini saya rekomendasikan bagi mereka yang ingin membaca sesuatu yang ringan. Juga mereka yang sedang terpuruk dengan masa lalu. Maple Terakhir menyajikan kisah cinta yang ringan berbalut masa lalu yang tidak akan memberatkan benak dan hati.

Sebagai penutup, seperti biasa, saya akan mencantumkan kutipan favorit saya.

Memang benar, tidak semua hal bisa dikendalikan. Termasuk hati seseorang. (h. 175)

Selamat membaca!

Advertisements

2 thoughts on “Maple Terakhir – Aning Lacya

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s