Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya – Lugina WG dkk

Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya Judul: Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya
Penulis: Lugina W.G. dkk
Penyunting: Addin, Muhajjah, Misni
Ilustrator: Ferdika
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 256 halaman


Buku ini tersedia di Bukupedia


Pada kover belakang, kita akan mendapati sebuah tulisan yang mencerminkan ‘apa yang sebenarnya berusaha dibawa pada buku kumpulan cerpen ultah Kampus Fiksi kali ini’. Adalah:

Jika selama ini mendengarkan musik, menonton film, atau menghirup aroma parfum menjadi pilihan untuk memperbaiki mood, coba tambahkan kumpulan cerpen #KampusFiksiEnmas2016 ini.

Pembaca akan menyaksikan aroma parfum, mendengarkan film bisu, atau membaui kuatnya pengaruh musik kepada manusia. Coba buka, dan ikuti ke mana mata membawa indera lain mengembara.

Buku kumpulan cerpen ini berusaha menghadirkan gambar, aroma, suara, hingga rasa. Cerpen-cerpennya kental dengan suara atau aroma, yang berujung mengaduk-aduk perasaan dalam diri pembaca. Begitulah yang saya rasakan.

Soal Penampilan

Bahkan sebelum buku ini mulai saya buka, Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya sudah membuat saya jatuh cinta. Kovernya sederhana, dengan ilustrasi di bagian bawah dan latar kuning terang. Pilihan warnanya hanya hitam, kuning, dan sedikit putih (ditambah logo merah menyala milik penerbit). Sungguh sangat-sangat sederhana.

Tidak ada jenis huruf yang unik. Tidak ada goresan-goresan warna-warni. Hanya ada TNR, kuning, dan ilustrasi yang membuat kumpulan cerpen ini terasa sangat eye catching. Cakep.

Sayangnya hanya satu. Lebar buku ini sedikit tidak lazim buat buku seukuran A5. Jadi ketika membaca saya merasakan ketidaknyamanan yang sedikit menganggu. Selain dari itu, kumpulan cerpen ini punya penampilan keren.

Tiga Belas Cerpen

Dalam Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya ini, pembaca akan menemukan tiga belas cerpen. Satu-satunya cerpen yang terasa ringan adalah Goodbye karya Ghyna Amanda. Menurut saya, selain Goodbye, cerpen-cerpen dalam buku ini memberikan sensasi membaca cerpen-cerpen pada koran minggu yang membuat kepala pening sekaligus mengoyak sesuatu dalam diri pembaca.

Dalam Wajah-Wajah dalam Kaset Pita karya Gin Teguh, pembaca akan disodorkan cerita tentang tokoh aku dan Nima, gadis yang mengenali orang lewat suaranya. Cerpen ini terasa mencekat, menyentuh, sekaligus manis. Salah satu favorit saya.

“Nima tahu siapa yang duduk di samping Ibu?”
“Siapa?”
Ibu menangis. Ia menangis menatap suaminya. Ayah Nima. (h. 29-30)

Cerpen kedua adalah karya Amaliah Black, berjudul Fatwa Soal Lelaki dan Perempuan. Cerpen ini bercerita tentang Srikandi yang memiliki ibu seorang penyanyi dangdut. Cerpen ini sendiri banyak menyinggung fakta yang ada dalam keseharian kita, kemiskinan, kemelaratan, orang tau tunggal, dan sebagainya.

Dulu Srikandi sangat percaya, bahwa sosok yang senantiasa menyanyikan lagu pengantar tidur untuknya adalah utusan Tuhan. (h. 45)

Lain lagi dengan Lelaki yang Menyatakan Cinta dengan Menjadi Bayangan karya Evi Sri Rezeki. Cerpen ini sangat kental dengan aroma. Bercerita tentang Tiffany, gadis ambisius yang menggunakan parfum bermerek sama dengan namanya, dan kekasih rahasia yang dimanfaatkannya, seorang lelaki beraroma kayu gaharu. Akhirnya sungguh berhasil membuat saya merinding.

“Sayang, tubuhmu wangi kayu gaharu. Kapan kamu memakainya?”
“Bukan, bukan harum tubuhku. Ini harum bayanganku.” (h. 71)

Black Butterfly karya Sugianti adalah cerpen berikutnya yang kita dapati. Cerpen ini bercerita tentang Danur dan ayahnya. Ayah Danur adalah seorang anggota ormas yang menentang kedatangan penyayi yang ingin ditonton Danur. Mereka berkonflik, bahkan Danur dicambuk oleh sang ayah agar tidak hadir konser, tapi akhirnya Danur tetap datang. Bagi saya cerpen ini menyentil banyak sisi, tentang ormas yang ekstrimis, agama, perselisihan orang tua-anak, kehidupan muda-mudi, kebebasan yang tidak mengenal aturan, hingga urusan negara. Banyak hal dalam cerpen ini seperti pedang bermata dua.

Negara tidak akan tunduk pada segelintir orang. (h. 81)

Berikutnya ada Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya. Cerpen yang menjadi judul kumpulan ini menjadi cerpen favorit saya. Bercerita tentang Celia dan Puffin, kucingnya yang kerap memecahkan gelas di malam hari. Karena hal itulah, Celia yang dulunya menyayangi Puffin jadi menyiksa kucing itu. Namun, semakin ke belakang, pembaca akan disuguhkan kenyataan yang mungkin tidak pernah kita bayangkan. Cerpen ini sangat sederhana dan mengandung tema keluarga yang dalam.

Ia tidak tahu mengapa Mama menangis, mungkin karena vas bunganya pecah. Tapi nanti Celia akan membantu Bibi Inge membereskannya. Celia akan membuang Puffin mulai hari ini. (h. 104)

Dokumenter tentang Lelaki yang Menyekap “Seandainya” di Mulutnya karya Eva Sri Rahayu bercerita tentang tokoh aku yang merekam kehidupan seorang lelaki tua. Cerpen ini terasa dekat, bukan hanya bagi tokoh utama kita, tapi juga bagi pembaca. Lelaki tua yang menggelandang itu mengajarkan pembaca pada banyak hal yang berkaitan dengan “seandainya”.

“Dia istriku, tubuhnya selalu beraroma uang. Aku telah menikahi uang.” (h. 115)

Cerpen berikutnya karya Sayfullan berjudul Le Nozze di Figaro. Cerpen ini berkisah tentang kehidupan Anna Pavlova dan Piet. Cerita ini berlatar zaman penjajahan Belanda dulu dan dibawakan oleh Anna Pavlova. Sedikit banyak cerpen ini membuat pembaca bingung di awal tapi makin ke belakang pembaca akan semakin paham, sekaligus tercengang.

Moeder selalu teriksa saat menatap Anna, ingatan perselingkuhan Vader dan bedinde pribumi itu mencabiknya. Serasa ingin selalu mencekiknya.” (h. 142)

Lalu, sampailah kita pada Goodbye karya Ghyna Amanda. Cerpen ini terasa ngepop dan bercerita perjalanan tokoh aku ke Yokosuka. Dalam perjalanan itu, tokoh utama kita bertemu seorang pemain band. Dan pertemuan itu membawa tokoh kita menatap sesuatu dengan baru.

“Padahal mungkin saja itu lagu ceria.”
“Mana bisa ‘Goodbye’ jadi sesuatu yang ceria?” tanyaku heran.
“Ada kata good dalam ‘Goodbye’, kan?” (h. 156)

Cerpen selanjutnya Sepasang Mata Terakhir di Negeri Ini karangan Frida Kurniawati. Cerpen ini berkisah tentang ayah dan anaknya, yang seorang wakil rakyat. Ada banyak bagian dalam cerpen ini yang akan membawa pembaca merenung dengan keadaan kita saat ini. Ada kegetiran, kemarahan, dan keputusasaan. Saya bisa merasakan idealisme yang mengakar kuat dalam cerpen ini.

“Dalam waktu dekat, kita semua tak akan lagi punya mata, Ayah.” (h. 163)

Cintalah yang Membuat Diri Betah untuk Sesekali Bertahan karya Puput Palipuring Tyas bercerita tentang Zi yang menjalin hubungan dengan Ben, lelaki yang terlah beristri. Terlepas dari tema yang diangkat tentang perselingkuhan, saya suka bagaimana penulis menghadirkan kenyataan soal manusia dan pembenaran.

Setiap orang mencari pembenaran dengan sibuk menyalahkan. (h. 193)

Berikutnya adalah Psikadelia karya Farrahnanda. Cerpen ini bercerita tentang pertemuan aku dengan gadis ber-hoodie abu-abu yang menyeringai. Pertemuan itu membawa tokoh kita—juga pembaca—pada sebuah perjalanaan menembus atmosfer dan menuju langit. Sejujurnya, ini adalah cerpen terabsurd yang saya rasakan dalam kumcer ini. Namun, keabsurdan itu menjadikan Psikadelia menjadi salah satu cerpen favorit saya.

“Di langit mana kita bisa bertemu Tuhan?”
“Langit itu letaknya di mana, sih?” (h. 207)

Dalam Yang Menunggu di Dalam Cermin karya Erin Cipta, kita akan menemukan kisah Doni, wanitanya, dan ibunya. Doni sangat mencintai wanitanya, tapi sang ibu tidak. Tentunya terkesan sederhana, bukan? Namun, Erin Cipta memberikan kita sesuatu yang berbeda semakin jauh kita membaca cerpen ini. Kisah ini membawa pilu tersendiri bagi saya.

Wanitaku muncul dalam senyuman selembut aroma parfum yang kebetulan tidak murah itu. Seketika aku jatuh cinta habis-habisan. (h. 216)

Kumcer ini ditutup oleh karya Reni FZ berjudul Kisah yang Tak Perlu Dipercaya. Bercerita tentang pertemuan Ella dengan Altair yang membawa mereka pada janji-janji di tiap akhir pekan pertama bulan September. Cerpen ini terasa sebagai potongan-potongan terpisah di awal. Pembaca akan memahami kesatuan cerpen ini ketika cerita bergulir menuju penggalan terakhir. Sebuah penutup yang manis sekaligus menyayat hati.

“Kita tak akan pernah tahu jawabannya sebelum kita benar-benar ada di titik itu, Altair. Kau hanya akan tahu ketika saatnya tiba.” (h. 248)

Terakhir

Berhubung review ini sudah mencapai kata seribu seratus, biarkan saya segera mengakhirinya.

Kumpulan cerpen ini saya rekomendasikan bagi mereka untuk dibaca perlahan-lahan. Satu demi satu cerpen. Bahkan bisa diselingi dengan bacaan-bacaan lain. Karena setiap cerpen punya ruh yang berbeda. Setiap cerpen akan menggoreskan sesuatu yang berbeda dalam diri pembaca.

Cerita-cerita pendek di kumpulan ini tampak telah berusaha dengan baik menarik lepas persoalan kecil dari satu dunia besar kemudian menjadikannya jalan masuk baru bagi pembaca untuk kembali ke dunia dari mana cerita itu berasal. (h. 13 dalam Kata Pengantar oleh Aan Mansyur)

Selamat membaca!

Advertisements

2 thoughts on “Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya – Lugina WG dkk

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s