[Review & Giveaway] Purple Eyes – Prisca Primasari

Purple Eyes - Prisca PrimasariJudul: Purple Eyes
Pengarang: Prisca Primasari
Penyunting: Cerberus404
Penerbit: Inari
Tebal: 144 halaman

Lyre sudah 120 tahun melayani Hades, sang dewa kematian. Kegiatannya selama 120 berjalan sangat monoton. Begitu saja. Hidupnya baru berubah ketika di suatu hari Hades mengajaknya turun ke bumi. Ada petualangan kasus langka di dunia manusia yang hidup untuk diselesaikan oleh Hades.

Mereka tiba di Trodheim yang dingin dan bersalju. Namun, Ivarr Amundsen, pemuda yang mereka temui jauh lebih dingin dari suhu maupun tumpukan salju di jalan. Ivarr bahkan jauh lebih mati daripada Lyre—atau yang dalam penyamarannya dipanggil Solveig—yang sudah mati.

Ivarr seperti ikut mati ketika Nikolai, adiknya, menjadi salah satu korban pembunuhan berantai di Trodheim. Pembunuhan berantai yang membawa Hades dan Lyre ke bumi. Demi penyelidikan, Solveig alias Lyre, harus sering-sering menemui Ivarr. Pada awalnya, gadis itu malas. Ivarr terlalu dingin. Persis patung lilin.

“Berjalan-jalan dengannya seperti berjalan-jalan bersama manusia tanpa hati.”
“Kenapa itu membuatmu begitu kesal?”
“Karena… karena manusia tidak seharusnya bersikap begitu.” (h. 41)

Sampai, dia sadar bahwa ada sesuatu yang justru membuatnya ingin semakin dekat dengan Ivarr.

Bukan Hanya 144 Halaman

Purple Eyes ini pendek. Tebalnya hanya 144 halaman. Harganya juga masih ramah kantong di zaman harga buku menggila gini. Namun, buku ini benar-benar memuaskan! Ada begitu banyak hal yang saya dapatkan dari novel setebal 144 halaman ini.

Ketika membaca tagline “Pemuda itu masih hidup, dan gadis itu sudah mati” saya pikir hal ini hanyalah kiasan. Sampai saya membuka buku ini dan menemukan prolog bercerita tentang Hades. (Saya memang sengaja tidak membaca review-review buku ini yang muncul dari awal. Saya mau menikmati novel Mbak Prisca tanpa ada campur tangan yang lain.) Saat itu, saya baru sadar bahwa fantasi menjadi salah satu genre dalam novel ini.

Selain ada unsur magis, ada banyak hal yang akan didapatkan pembaca dalam novel ini. Lewat Solveig yang sudah mati dan Ivarr yang masih hidup. Ada kematian, yang pasti akan datang.

“Tidak ada yang tahu kapan kematian datang.” (h. 77)

Ada kehilangan, yang selalu mengiringi kematian.

“Orang menangis karena kehilangan itu wajar. Yang tidak wajar adalah kalau dia tidak menangis.” (h. 50)

Atau kesedihan.

“Kesedihannya sudah melampaui batas air mata. Yang kau lihat itu hanyalah puncak gunung es. Di hati Ivarr Amundsen, ada emosi yang luar biasa besar.” (h. 40)

Purple Eyes akan mengajak pembaca dalam sebuah petualangan yang penuh kematian, kehilangan, kesedihan, dan hal-hal yang seringkali kita—manusia—takuti dan khawatirkan. Dan Mbak Prisca menuliskannya dengan gayanya yang lembut serta manis. Lengkap dengan interaksi Ivarr dan Solveig yang bikin pengen meluk. Serta skenario Hades terkait pelaku pembunuhan yang bikin penasaran setengah mati. Purple Eyes ini jadi … sangatlah berwarna dan dalam.

Saya sendiri rada bingung menjelaskannya, yang pasti, ketika menutup buku ini ada campuran getir, haru, sedih, dan bahagia dalam dada saya. Scene Ivarr di Bath dan di akhir itu berhasil bikin saya mewek.

Selain itu, ada banyak sentilan bagi pembaca dalam novel ini. Misalnya saja, tentang tingginya tingkat kematian.

“Apakah bumi memang seburuk itu? Semuanya hobi sekali mati, akhir-akhir ini.” (h. 10)

Menyoal Kematian

Purple Eyes bukan novel pertama yang mengambil bentuk kematian dan kehilangan sebagai salah satu unsur utama dalam cerita. Namun, novel ini adalah novel young adult bercita rasa manis yang menghadirkan tokoh seorang dewa kematian.Saya pribadi jadi ingat serial TV Lucifer yang berhasil menghadirkan sosok Lucifer di dunia manusia yang kacau, Purple Eyes juga terbilang berhasil.

Saya sempat bertanya kepada Mbak Prisca kenapa beliau senang sekali menyelipkan karakter “dewa kematian” dalam karyanya. Ternyata, kematian adalah salah satu hal yang sering beliau renungkan. Lebih jauh lagi, ternyata ide awal novel ini berasal dari tokoh Hades. Barulah kemudian karakter Ivarr dan Solveig hadir.

Meski ide kematian ini terasa mencekam, tapi Mbak Prisca berhasil menghadirkan hal lain di balik kematian.

“Umur 22 tahun atau 200 tahun tidak ada bedanya. Kalau kau sudah meraih semua yang kau inginkan, yang terisas bagimu hanyalah beristirahat dengan tenang.” (h. 124)

Saya jadi merenung. Kutipan itu dalam banget. Dalam dan menusuk-nusuk. Apakah nanti ketika tiba saatnya kematian datang kepada saya, saya akan mengeluarkan kalimat seperti itu? :”

Terakhir

Sayangnya dalam novel ini sendiri… terlalu pendek. Bukan, bukan kurang. Tapi lebih ke ada beberapa bagian yang seharusnya bisa lebih.

Misalnya, ada unsur thrill yang dihadirkan di awal, tapi kemudian unsur itu menghilang begitu Ivarr dan Solveig terlibat semakin dalam. Saya pribadi sempat punya pemikiran bahwa Ivarr terlibat dalam kematian adiknya, yah, khas plot dalam novel thrill gitu, eh lalu saya sadar ini kan genre utamanya bukan thirller . Haha.

Meski saya bilang ada banyak hal yang didapat dari novel setebal 144 halaman ini, saya pribadi merasa eksplorasi Hades kurang. Hades kurang kejam. Sama bagian yang seharusnya mencekam itu—iya yang pas Ivarr tahu soal ‘itu’ dan ngajak Hades sama Solveig ke sana—kok nggak terasa mencekam ya?

Terlepas dari itu semua, Purple Eyes ini tetap terasa pas. Novel ini sangat saya rekomendasikan bagi mereka yang mencintai cerita-cerita ala dongeng dengan gaya tulisan yang lembut dan manis. Juga bagi mereka yang merenungi kematian. Serta mereka yang ingin membaca sesuatu yang pendek, ringan, sekaligus berisi.

Sebelum menutup, seperti biasa, biarkan saya memberikan satu kutipan.

Karena terkadang, tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi. (h. 78)

*peluk Ivarr* Selamat membaca!


GIVEAWAY

purple eyes2

Seperti di blog-blog sebelumnya, Melukis Bianglala juga berkesempatan memberikan satu eksemplar Purple Eyes persembahan Penerbit Inari kepada satu orang yang beruntung. Pastikan kamu sudah memenuhi syarat dan ketentuan berikut.

  1. Mengikuti blog ini. Buat yang tidak punya akun WP bisa follow via email.
  2. Mengikuti twitter @penerbitinari dan @priscaprimasari.
  3. Bagikan informasi giveaway ini di twitter atau facebook dengan tagar #GAPurpleEyes dan mention @penerbitinari, @priscaprimasari, dan @missfiore_ (kalau via fb cukup mention penerbit dan penulisnya).
  4. Tulisakan di kolom komentar nama, domisili, akun twitter/facebook, dan tautan membagikan berserta jawaban dari pertanyaan berikut:

“Apa yang kamu pikirkan tentang dewa kematian?”

Giveaway ini hanya berlaku bagi yang punya alamat kirim di Indonesia. Dan hanya berlangsung selama dua hari, dari Senin 23 Mei s.d. Selasa 24 Mei. Giveaway ditutup pukul 24.00 hari Selasa, jadi jangan sampai ketinggalan! 😀

Pssst, habis dari Melukis Bianglala, giveaway ini bakal berlangsung di blog Peek the Book. Sila cek jadwal di bawah ini untuk info lengkap.

purple eyes

 

Advertisements

34 thoughts on “[Review & Giveaway] Purple Eyes – Prisca Primasari

  1. Nama : Olivia
    Domisili :Kediri
    Akun Twitter :@ivedvedi
    Link.Share :https://twitter.com/ivedvedi/status/734576350724513794

    Dewa kematian adalah sesosok makhluk yg hanya mengerti soal kematian saja, kehidupan nya pasti gelap, murung, tidak pernah bahagia. Dewa ini pasti kesepian sebab setiap orang takut kepadanya.
    Seperti nya dia membutuhkan sedikit hiburan di dunia nya, agar pikiran serta hati nya tidak mati seperti nama nya.
    Bila aku diijinkan bahkan dipertemukan dengan nya, aku akan lari ketakutan serta menjerit.. Plak!! bukan.. itu bercanda..
    Tentu nya, ada sang dewa kehidupan. Ada dewa kematian masa dewa kehidupan nggak ada.
    okay, ditemani dewa kehidupan, dan saya sendirilah yg akan mencalonkan diri sebagai dewa kehidupan. (KHAYAL) Yg akan mengajak nya jalan-jalan menikmati indah nya kehidupan ini. Mengajarkan nya arti pertemanan serta arti hidup yang sesungguhnya nya.
    Dengan cara itu, saya juga akan memperkenalkan senyum kepada nya, agar ia tidak murung terus,.. agar hidup nya lebih berwarna lagi, saya ingin menunjukan jalan kebenaran kepadanya . Bahwa surga ada di telapak kaki ibu. Entah,dia memiliki ibu atau tidak,tetapi saya yakin bilamana semua makhluk yg pernah ada di bumi ini memiliki seseorang yang bernama ibu.

    Dengan begitu hati nya serasa seperti hidup kembali,dan senyum nya dapat mekar…, meskipun nama nya tetaplah dewa kematian.. aku tak peduli, yg penting hati serta pikiran nya tidak lah mati… Seperti namanya..

  2. Nama : Ratnani Latifah
    Twitter : @ratnaShinju2chi
    Domisili : Jepara
    Link Share : https://twitter.com/ratnaShinju2chi/status/734577968115253250

    Jawab : Ketika memikirkan Dewa kematian, aku langsung teringat dengan Ichigo Kurasaki. Mengingat dia yang mendapat kekuatan dari dewa kematian atau jika dalam anime bleach adalah Shinigami. Dan dewa kemarian itu sangat keren dengan kekuatannya apalagi jika sudah mengeluarkan bankai, yang membuatnya semakin terlihat kuat dan dengan mudah akan mengalahkan lawan. Dan pastnya para dewa kematian itu digambar dengan sangat wah, cakep dan tinggi. Jadi nggak bosan kalau disuruh ngelihatnya. Hhheh

  3. Nama : Prisilia Irene
    Twitter: @prisiliairene
    Domisili : bekasi timur
    Link share : https://twitter.com/PrisiliaIrene/status/734587729967775744

    Jawaban : yang saya pikirkan tentang dewa kematian adalah kematian berarti sudah dekat. Dewa kematian datang disaat-saat terakhir hidup kita, tugasnya hanyalah mengambil-ambil saja nyawa orang-orang.
    Dewa kematian yang saya pikirkan itu memakai jubah hitam, mengenakan topeng tengkorak, dan membawa tongkat tajam yang berfungsi untuk mengambil nyawa manusia, kehidupannya selalu dipenuhi kegelapan dan kejahatan. Dewa kematian datang ke bumi untuk mencari hal-hal yang dapat menyenangkan dirinya, namun justru sangat fatal akibatnya bagi manusia, karena dewa kematian berbanding terbalik dengan kehidupan manusia, namun ada sebagian manusia juga yang sama dengan dewa kematian,yaitu dipenuhi kegelapan

  4. Putri Prama A.
    Probolinggo
    @putripramaa

    Dewa Kematian itu ada, tapi bagiku bukan dewa, melainkan malaikat kematian. Yang aku pikirkan tentang dewa kematian tentu saja adalah kematian. Aku pasti mati, tapi aku tidak tahu kapan. Kalau bicara tentang kematian memang sering membuatku bingung dan takut. Di pikiranku ini, dewa kematian adalah sosok yang perhatian dan teguh, sedikit berbeda dengan pemikiran banyak orang. Hal itu dikarenakan Dewa kematian selalu melihat dan menemani detik-detik makhluk hidup akan meninggalkan dunia yang penuh kebebasan ini. Selain itu, dia juga sosok yang teguh, meskipun makhluk hidup di hadapannya meronta meminta tolong, dia tetap melaksanakan tugasnya karena dia merasa bertanggung jawab dengan kewajibannya.
    Sebenarnya kalau tentang kematian, yang aku pikirkan sangat banyak. Mungkin karena aku merasa belum meraih semua yang aku inginkan sehingga umur 22 tahun atau 200 tahun tetap ada bedanya. Manusia memang tidak pernah puas, karena itu (sebagian besar dari) mereka selalu ingin hidup lebih lama lagi. Tapi, bagaimanapun, manusia kodratnya memang menyadari bahwa apa yang hidup pasti akan mati. Dan sebagai manusia yang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk hidup di dunia ini, kita harus selalu memperbaiki diri, menjadi lebih baik lagi di dari sebelumn-sebelumnya. Iya, itu juga kelihatannya mustahil karena kurva positif (rendah ke tinggi) untuk karakter manusia itu terlihat tidak mungkin, yang paling banyak manusia itu berkarakter seperti kurva berbentuk gelombang (ada masanya berperilaku baik, ada gunanya berperilaku buruk). Tapi, bukan berarti tidak mungkin untuk selalu memperbaiki diri, kita harus mencoba yang terbaik selama di dunia ini. Harus!

  5. Nama : Mega Widyawati
    Domisili : Nganjuk,Jawa Timur.
    Akun twitter : @widy4_w
    Tautan membagikan : https://mobile.twitter.com/Widy4_W/status/734616236970127360?p=v

    Menurut realita yang ada, Dewa Kematian hanya ada dalam cerita-cerita bergenre fantasi ataupun dalam kepercayaan yang diyakini oleh orang2 yunani.
    Buatku, Dewa Kematian itu nggak ada. Itu hanya mitos2 dari cerita fiksi saja.
    Namun, yang benar-benar ku yakini ada ialah malaikat Pencabut Nyawa. Malaikat yang ditugaskan oleh Allah untuk mencabut nyawa seseorang yang sudah ditakdirkan akan meninggalkan dunia seisinya ini.

  6. Nama : Siska Lipdyaningsih
    Domisili : Yogyakarta
    Akun twitter/facebook:@siskalipdya
    Tautan membagikan : https://twitter.com/siskalipdya/status/734617872488620033
    Jawaban : Dewa kematian ialah sosok yang tak kenal kompromi yang menjadi teman pengantar terbaikmu ke duniamu yang sejati. Dunia itu lebih indah atau lebih buruk kah? Sayangnya dewa kematian tak mau ambil pusing.

  7. Nama : Julia dwi kartikasari
    Twitter : @juliakartika326
    Domisili : nganjuk, jawa timur
    Link share : https://twitter.com/juliakartika326/status/734616574934536192

    “Apa yang kamu pikirkan tentang dewa kematian?”

    Yang aku pikirkan adalah mahluk berjubah putih tinggi besar, yang menyapa dengan lembut orang yang hendak dia ambil rohnya dari raganya. Kemudian mengajak roh itu ke tempat yang seharusnya. Yang aku tahu dalam islam seperti itu. Malaikat maut/dewa kematian akan berperilaku baik kepada orang yang memiliki pahala yang cukup. Dan akan bersikap menakutkan pada orang yang pahalanya kurang, aku membayangkan mahluk berjubah itu datang dengan langkah yang suaranya menggema gema menakutkan. Tapi, semoga saja kita disambut dengan hangat oleh malaikat maut kita nanti. Aamiin.

  8. Gita | Batam | @oneonlygzb | https://twitter.com/oneonlygzb/status/734652355681996800

    Jawaban :
    Yang aku pikirkan tentang dewa kematian adalah wajahnya yang tertutupi oleh jubah hitam dari kepala sampai telapak kaki
    Wajahnya yang dingin tanpa emosi saat mengambil nyawa seseorang.
    Menutup mata dan telinga saat orang berteriak jangan di ambil nyawanya.
    Setelah selesai, menghilang bersama roh tersebut.

  9. Nama: Astrid Kurniawan
    Domisili: Pondok Aren, Tangerang, Banten
    Twitter: @tymeconue
    Tautan membagikan: https://twitter.com/Tymeconue/status/734652951566913536
    Jawaban:
    Cerita fiksi mengenai dewa kematian cukup sering saya dengar dan baca. Banyak fiksi yang menggambarkan dewa kematian dapat mencabut nyawa. Ada dua di antara fiksi-fiksi mengenai dewa kematian yang paling berkesan bagi saya. Salah satunya menggambarkan seseorang yang saat kematiannya berjalan berdampingan dengan dewa kematian bagaikan sepasang teman, satunya lagi adalah tentang dewa kematian yang mencabut nyawa dengan menulis nama sasarannya di sebuah buku. Bagi saya, dewa kematian justru membuat saya berpikir mengenai banyak pertanyaan yang sebagian besar tidak akan terjawab. Tetapi saya tidak terlalu pusing memikirkan semua pertanyaan itu. Sosok dewa kematian diceritakan sebagai sosok yang menakutkan. Saya sendiri tidak berani dengan yakin mengatakan bahwa saya tidak takut dengan dewa kematian (bahkan jika sosok dewa kematian hanya sebuah khayalan). Terakhir, saya berpikir bahwa dewa kematian adalah sebuah pengingat bagi kita yang masih memegang kehidupan di genggaman untuk menggunakan kehidupan ini sebaik-baiknya dalam membuat perubahan bagi kemajuan dunia.

  10. Nama: Irena Ramadhanty
    Domisili: Kota Bekasi
    Twitter: @MiwaNa_kai
    Tautan membagikan: https://mobile.twitter.com/MiwaNa_kai/status/734690072226725889?p=v
    Jawaban:
    Kalau soal dewa kematian, yang saya ingat pasti tentang Koro-sensei dari anime ansatsu kyoushitsu. Dia dijuluki sebagai Shinigami/dewa kematian, karena dia adalah pembunuh terhebat. Tapi dia ditangkap dan dijadikan kelinci percobaan.
    Sifat Shinigami waktu itu terlihat sangat baik, dan yang membuatnya menjadi pembunuh adalah faktor lingkungan masa kecil yang kelam.

    Setelah percobaan itu, dia berubah menjadi monster paling berbahaya yang bentuknya mirip dengan gurita. Tapi dia masih rela menjadi seorang guru di kelas buangan. saat menjadi guru, ia bisa dibilang sebagai guru terbaik yang pernah mengajar dikelas itu.

    Jadi,menurut saya Dewa kematian itu masih memiliki hati, dia juga punya sisi yang patut kita cari tahu. Bukan sebagai seorang pembunuh yang menghabisi nyawa, dewa kematian adalah makhluk yang menyelamatkan seseorang dari keras dan buruknya kehidupan didunia ini.

    Dewa kematian tidak selalu buruk. Dewa kematian adalah penyelamat dan pembebasan dari segala siksaan dunia.
    Cona bayangkan jika kita sedang sakit parah, sedangkan kematian tidak juga menjemput?

    Dewa kematianlah yang menjadi makhluk terakhir yang ingin ditemui manusia didunia.

    Begitulah menurut saya. Terima Kasih

  11. Rini Cipta Rahayu
    Karangasem, Bali
    @rinicipta/Rini Cipta Rahayu
    https://twitter.com/RiniCipta/status/734729118969827328

    Aku percaya bahwa Dewa Kematian itu ada. Dalam teologi Hindu dikatakan bahwa Dewa Yama dijuluki menjadi dewa akhirat atau dewa kematian karena setelah meninggal roh akan bertemu dengan beliau. Dewa Yama dilukiskan memiliki dua wajah yang tidak bisa terlihat, wajahnya dapat menyeramkan dan bengis sedangkan wajahnya yang lain sangat berwibawa, tergantung dengan perbuatan manusia di dunia. Dewa Yama bertugas untuk mengadili roh, sesuai dengan karmanya dengan adil dan bijaksana. Disebutkan pula bahwa beliau juga bersama dengan ‘asisten’ yang bertugas mencatat karma manusia selama di dunia dan juga peliharaan yang membawa pesan kepada manusia mendekati ajalnya.

  12. Kejora Anaphalisia
    Pinrang, Sulawesi Selatan
    @phalisia

    Dewa kematian ya. Saya dulu membayangkan penampilannya dalam wujud shinigami di Death Note, tapi selain itu, saya juga punya penggambaran dari wujud lain dewa kematian. Tidak musti semenyeramkan seperti shinigami, pasti akan lebih menyenangkan kalo dewa kematian gaul, lucu, bertampang tidak menyeramkan, dan bisa menghibur. Setidaknya orang-orang tidak begitu ketakutan saat bertemu dewa kematian menjelang maut.

  13. Evita MF
    @evitta_mf
    Yogyakarta
    https://twitter.com/evitta_mf/status/734833776354689024

    Yang pertama kali aku ingat saat membaca kata “dewa kematian” yaitu Shinigami dalam Death Note. Shinigami yang mengambil nyawa siapa saja yang namanya tertulis dalam buku death note. Aku suka Shinigami soalnya kalau di death note sih bukan Shinigami yang kejam, dia kan cuma nyabut nyawa orang yang namanya ada dalam death note. Yang jahat menurutku, orang yang pegang buku death note itu, kalau ada orang yang bikin dia kesel namanya langsung ditulis. Nah saat inilah Shinigami atau dewa kematian mulai bertugas mencabut nyawa.
    Peran Dewa kematian itu penting, karena hidup manusia itu tidak kekal.

  14. Nama: Lisa Sentani
    Domisilli: Depok
    Twitter: @lisasent
    Link Share: https://twitter.com/lisasent/status/734904600906457089

    Dewa Kematian.. yang saya pikirkan adalah bagaimana saya menghadapi dewa kematian itu. Kapan, dimana, siapa, dan bagaimana sosok dewa kematian itu tidak terbayang, saya hanya percaya bahwa ia ada, yang dalam keadaan siap tidak siap mencabut nyawa kita sesuai perintah Sang Maha Penguasa. Ketika, disinggung soal Dewa Kematian, maka terpikirkan apakah saya sudah siap untuk menghadapinya? Apakah saya akan dalam keadaan yang layak ketika ia menjemput? Kematian itu Pasti dan Dewa Kematian juga Pasti menjemput. Lalu? Siapkan dari sekarang.

    (Thank You ka atas reviewnya, suka sama cara kakak nulis reviewnya, jadi berasa baca bukunya hehe)

  15. wening / @dabelyuphi / ambarawa
    https://mobile.twitter.com/DabelyuPhi/status/734933262649331712

    Bicara soal Dewa Kematian yang langsung keinget malah anime Bleach dan Death Note (yang sama-sama berasal dari manga yang telah diadaptasi menjadi serial TV). Jika mengingat tentang Dewa Kematian pasti tak akan lepas dari orang-orang telah atau akan mati. Jika di Bleach, diceritakan jika seorang Dewa Kematian (Shinigami) bertugas untuk membawa roh manusia ke Soul Society (yah bisa dibilang seperti surga lah). Selain itu para Shinigami di Bleach juga bertugas menyucikan para Hollow (roh manusia yang telah kehilangan hatinya, dan berubah menjadi monster bertopeng) yang biasanya memburu roh baik ataupun menyebar bencana dan kerusakan. Sedangkan Shinigami di Death Note sendiri adalah sebuah makhluk yang mempunyai sebuah buku, dimana siapa pun yang memilikinya bisa dengan sesuka hati menulis nama orang yang tidak ia suka di buku tersebut agar berakhir dengan kematian.

    Dewa kematian sendiri sebenarnya mempunyai berbagai nama di berbagai belahan bumi. Shinigami di Jepang, Anubis di Mesir, Odin dari Nordik, Hades dari Yunani dan masih banyak lagi. Walaupun namanya berbeda-beda dan tugasnya munggkin juga sedikit berbeda, tapi memikirkan Dewa Kematian pasti jadi tidak akan hal-hal lain yang tidak akan jauh dari kematian itu sendiri. Selain itu juga pasti jadi sama surga dan neraka serta amal ibadah yang kita miliki 😀

  16. Eni Lestari
    @dust_pain

    Yang aku pikirkan tentang dewa kematian adalah sosok menakutkan yang bertugas mengambil nyawa manusia, seperti Ryuk di Death Note. Memang banyak manga/anime yang mengambil tema tentang dewa kematian (shinigami). Tapi menurutku yang sesuai dengan imajinasiku ya Ryuk. Ryuk ini awalnya pembosan yang kerjaannya mengawasi manusia sambil makan apel. Sampai suatu ketika bukunya dipergunakan oleh Light untuk menciptakan dunia ideal, dengan cara membunuh orang2 jahat. Aku suka banget karakter Ryuk di sini. Gimana dia excited banget untuk tahu apa yang bakal dilakukan Light dengan bukunya. Dia memposisikan diri sebagai ‘penonton’ dan ‘alat’ atas ‘drama’ yang dibuat Light. Menurutku itu keren. Kadang2 aku meniru sifat Ryuk ini, menonton dan memantau drama orang lain untuk kepuasan pribadi. Rasanya menyenangkan juga, berasa kayak Ryuk 😁

  17. nama: Aulia
    domisili: Serang
    twitter: @nunaalia
    link share: https://twitter.com/nunaalia/status/734941291998416896

    “Apa yang kamu pikirkan tentang dewa kematian?”

    Dalam pikiranku dewa kematian itu tokoh fantasi dalam sebuah cerita. Karena yg aku yakini selama ini adalah malaikat maut, yaitu ijrail. Namun ada perbedaan antara dewa kematian dan malaikat maut. Kalau dalam imajinasiku dewa kematian memiliki otoritas dalam mengambil kehidupan manusia, namun juga dapat menangguhkan kematian bagi manusia karena alasan tertentu, sesuai imajinasi penulis. Sementara malaikat maut yg kuyakini bertugas mencabut nyawa manusia sesuai perintah Allah SWT tanpa ada pengecualian. Malaikat maut tidak pernah menangguhkan tugasnya untuk alasan apapun.

  18. Nama : Athaya Irf
    Twitter: @jeruknipisanget
    Domisili : Tangerang
    Link share : https://twitter.com/JeruknipisAnget/status/734967375733235714

    Menurut bayanganku, dewa kematian itu seperti sebuah makhluk seram tanpa ekspresi dan berhati dingin. Saat berada didekatnya, seolah kita sudah tahu tidak ada tempat lagi untuk kita kabur atau menghindar darinya. Ia punya mata tajam yang selalu mengikuti kemanapun gerak manusia yang diincarnya.

    Dewa kematian membawa hawa dingin, membuat segala sesuatu yang ada disekitarnya sesak dan mati rasa. Karena memang dia tidak punya sedikitpun emosi, balas kasih atau simpati kepada makhluk apapun. Dewa kematian, makhluk dengan pendirian keras dan tidak ingin dibantah. Segala keinginannya harus dituruti. Seperti itulah dia.

  19. Bintang Maharani
    @btgmr
    Palembang

    Dewa kematian? Entah dewa seperti itu sebenarnya ada atau tidak, tapi apa yang dipikiran saya dia tidak selalu seram. Sama halnya dengan malaikat kematian. Mereka warnanya putih, bersinar, namun tak begitu berwujud seperti manusia. Hanya tugasnya saja yang seram tentang kematian. Dan tentunya mereka tidak melayani penawaran atau kesepakatan apa pun dengan makhluk hidup lainnya.

  20. Indriani | Tangerang | @ryanie31
    Tautan :

    Sesuatu yang pasti datang menjemput. Dengan ataupun tanpa diminta. Dia akan datang, ketika memang telah tiba waktunya. Entah itu dengan cara mengendap-ngendap dengan perlahan dalam sakit yang mungkin di derita kala usia semakin menua atau secepat sambaran kilat tanpa ada gejala apa-apa di usia yang masih muda. Bukankah kematian adalah hal yang tidak dapat diketahui kapan waktunya namun itu kepastian mutlak yang tak dapat dibantah. Dewa kematian, shinigami, malaikat maut atau apapun istilah lain untuk menyebutnya, dia adalah garda pertama yang membawa jiwa untuk bertemu dengan Sang Pencipta. Karena ketika kita meninggal, jiwa ini berada dalam genggaman si Pemilik Kehidupan.

    Semoga jika sudah saatnya aku bertemu dengan dia, bibir ini dapat mengucap lafaz Allah dengan jelas. Agar aku dapat menyambutnya dengan sukacita karena menurut-Nya tugasku di semesta ini telah selesai.

  21. Nama: Naila Khuria L.
    Domisili: Kebumen
    Akun twitter: @nastelria
    Tautan membagikan: https://twitter.com/nastelria/status/735025507712925696
    Jawaban:

    Kalau bicara tentang Dewa Kematian, menurut saya akan ada banyak sekali versi yang muncul. Kalau saya sendiri teringat dengan Shinigami, Dewa Kematian dari Jepang. Tapi bukan ‘shinigami’ yang itulah yang saya maksudkan. Tetapi, kaishaku (asisten) dalam kegiatan seppuku terkadang juga disebut sebagai shinigami. Dalam acara seppuku pada masa feodal, samurai, di Jepang sana dahulu, orang yang akan melangsungkan seppuku merobek perutnya dari kiri ke kanan menggunakan pisau kecil agar perut benar-benar robek dan usus benar-benar keluar. Nah, tugas kaishaku di sini adalah sebagai asisten, ia akan memenggal kepala orang pelaksana seppuku ini dengan pedang. Terkadang, kaishaku ini disebut sebagai shinigami karena ia bertugas memenggal kepala dan bisa dibilang mengantarkan jiwa orang tersebut menuju neraka ataupun surga.

    Ah, omong-omong terima kasih atas giveaway-nya. Semoga lancar!

  22. Nama : Dhea Nur’Aini Rachmayanti
    Domisili : Semarang, Jawa Tengah
    Akun twitter : @dhedhea_98
    Tautan membagikan : https://mobile.twitter.com/dhedhea_98?p=s

    “Apa yang kamu pikirkan tentang dewa kematian?”

    Dewa yang mengambil roh seseorang menuju ke tempat pengadilan dan
    mempunyai tugas mengadili jiwa – jiwa, menentukan apakah jiwa tersebut harus dijatuhi hukuman berdasarkan dosa-dosa yang telah merela lakukan semasih hidup di dunia sesuai dengan aturan-aturan agama. Hukuman yang berupa siksaan-siksaan yang terlihat sangat kejam. Misalnya roh-roh pendosa di bakar dalam samudera minyak mendidih atau dipukul tanpa henti dengan tulang bergerigi dan lain-lain.
    Selain itu Dewa Kematian juga bertugas menyucikan roh-roh tersebut sehingga mereka dapat kembali ke jalan Tuhan.

  23. Nama: Puspa Imanda
    Domisili: Tasikmalaya
    Twitter: @OephaIm
    Link Share: https://mobile.twitter.com/OephaIm/status/735085964654153730

    Dewa kematian?

    Gelap, menakutkan dan Pemberani. Dia bisa dengan mudahnya mencabut nyawa setiap orang tanpa memakai hatinya sedikitpun. Mengabaikan orang-orang yang memohon agar nyawanya tidak diambil. Perannya sungguh berpengaruh. Dia membuat ekosistem kehidupan ini menjadi bergairah dan tidak monoton.
    Bayangkan jika di dunia ini tidak ada dewa kematian. Semua orang akan menjalani hidupnya dengan monoton, senaknya dan tidak takut akan kematian yang mengincar mereka setiap waktu. Bagiku dewa kematian itu mengagumkan. Tidak ada alasan untuk membencinya karena mencabut nyawa adalah tugasnya yang mulia.

  24. Nama: Bintang Permata Alam
    Domisili: Ngawi
    Twitter: @Bintang_Ach
    Tautan membagikan: https://twitter.com/Bintang_Ach/status/734613528414461952

    “Apa yang kamu pikirkan tentang dewa kematian?”

    DEWA KEMATIAN itu…..

    Seorang manusia bertanduk banteng, memakai jubbah hitam yang menutupi tubuhnya, dan matanya merah menyala. Dia juga memiliki taring di sisi kanan dan kiri bibirnya.
    Selain itu, cara ia berkomunikasi dengan anak buahnya adalah dengan raungan. Pokoknya, komunikasi antar dewa-anak buah, maupun sesama anak buah adalah dengan cara meraung. Emmm lebih enaknya, anak buah ini dinamakan apa ya? Prajurit kematian aja kali ya? Hmm oke!

    Selain itu, dewa kematian badannya juga dipenuhi banyak bulu. Tapi ciri yang satu ini tidak terlalu diketahui karena jubah yang menutupi tubuhnya itu tadi. Dewa kematian yang ada di pikiranku juga selalu identik dengan tombak dengan ujungnya yang mengeluarkan api. Tidak hanya dewa kematian, tapi anak-anak buahnya juga memiliki tombak itu. Tugasnya untuk apa lagi kalau tidak untuk mencabut nyawa. Ya, nggak? Setiap mencabut nyawa orang, api yang ada di ujung tombak itu akan membuat raga manusia merasa panas hingga akhirnya membuat nyawanya terlepas dan melayang bersama dewa maupun prajurit kematian.

    Apalagi yaa? Emm.. dewa kematian.

    Oh iya, dewa kematian memiliki kerajaan berupa istana megah. Di luar istana itu banyak dikelilingi pagar-pagar kawat yang panas. Setiap sudut pagar memiliki 2 prajurit kematian. Dewa kematian juga memiliki singgasana yang megah di dalam istana itu. Secara fisik, istana itu memiliki tampilan klasik sekaligus menyeramkan. Pintu-pintunya terbuat dari kayu yang kuat. Selain itu, di sisi kanan istana itu berdiri sebuah menara. Di mana menara itu adalah tempat yang sering digunakan dewa kematian untuk menghabisi nyawa yang telah dicabut oleh prajurit-prajuritnya tadi. Pokoknya menara itu adalah tempat eksekusi tingkat lanjut, hahaha.

    Baru setelah itu, dewa kematian menempatakan nyawa-nyawa yang terbengkalai itu ke dalam peti lalu mengirimkannya ke alam abadi.

    Sekian

  25. Nama: Eka Sasining Putri
    Domisili: Kediri Jawa Timur
    Akun Twitter: @cha_ichie
    Link share: https://twitter.com/cha_ichie/status/735098477496008704
    Jawaban: Menurut saya, dewa kematian tidak lebih dari kematian itu sendiri. Eksistensinya abstrak karena tidak berbentuk, dan mustahil karena tak tergapai oleh seorangpun. Dia tidak sekadar hitam atau menakutkan, tapi bisa jadi cemerlang dan indah. Mungkin kegelapan adalah perwujudan yang paling dekat dengannya, sementara bayangan sebagai rupa lainnya yang menjadi simbol sederhana. Namun tidak menutup kemungkinan jika sangat elok sosoknya, bahkan melebihi pemahaman manusia terhadap keindahan.
    Saya pikir, dewa kematian tidak melulu bersikap dingin atau tanpa hati. Tidak bisa pula disebut dengan yakin bahwa dia menagih nyawa manusia dengan keji. Dewa kematian mungkin memang berurusan dengan nyawa dan ajal, tapi tidak selamanya dia bertugas menangani jiwa yang akan ditidurkan. Karena pada saat kegelapan yang sesungguhnya muncul di ujung masa, dia juga akan dibawa ke dalam bayangan; kembali pada kegelapan.

  26. Nama : Vania Putri Ardana
    Domisili : Palembang
    Akun twitter : @vaniaputrii_
    Tautan : https://twitter.com/VaniaPutrii_/status/735135709929971712

    “Apa yang kamu pikirkan tentang dewa kematian?”

    Hmm… Dewa kematian ya?
    Kalau dalam bayangan saya sih dewa kematian itu berwujud tengkorak dengan jubah hitam dan tombak yang tampak seperti spatulanya spongebob/?
    Menurut saya wujudnya agak lucu sih, tapi tetep aja nyeremin.
    Entah dia ganteng, baik, ataupun unyu sekalipun, saya bakalan tetep takut ama dia:”
    ((kalo gantengnya ganteng banget sih agak berkurang ya takutnya)) /ga
    Gimana nggak takut, tugas dia itu nyabutin nyawa orang lho!
    Intinya, kalo kita ketemu ama dia berarti bentar lagi waktunya kita untuk mati dong?

    Ngomong-ngomong soal ‘mati’ nih,
    begitu denger/baca kata ‘mati’, tiba-tiba saya jadi melankolis, haha.
    Jadi memikirkan banyak hal, seakan-akan kematian sudah di depan saya.
    Jadi ingat tentang artikel yang pernah saya baca.
    Bahwa sebenarnya, detik ini juga, setidaknya ada 1 orang yang meninggal.
    Dan 1 orang itu adalah kita nanti di masa depan.
    Rasanya saya jadi lebih menghargai hidup yang hanya sebentar ini.
    Oke, kayanya udah melenceng dari topik, maaf._.

  27. Nama : Ana Bahtera
    domisili : Aceh
    Twitter : @anabahtera@yahoo.co.id
    Link : https://twitter.com/anabahtera/status/735136745025470465
    Jawaban:

    Dewa Kematian?? menurut saya itu ada dalam diri kita masing-masing..hanya kita pribadi yang dapat menentukan dewa itu sejenis apa, sengeri apa atau bahkan se indah apa. karena pada dasarnya kematian itu akan pasti datang menghampiri kita.
    jadi kita sendiri yang dapat merangkai bagaimana Dewa kematian itu menghampiri kita, semuanya tergantung amalan kita selama hidup di dunia.

  28. Nama : Humaira
    Domisili : Purwakarta
    Akun Twitter : @RaaChoco
    Link Share : https://mobile.twitter.com/RaaChoco/status/735146065607823363?p=v

    “Apa yang kamu pikirkan tentang dewa kematian?”

    Mungkin bukan dewa kematian, tapi malaikat pencabut nyawa. Yang aku pikirkan tentu saja malaikat yang tugasnya mencabut nyawa setiap orang. Dimana, kapan dan bagaimana kematian itu datang yang pasti sebuah rahasia. Mungkin kalo berpikir dewa kematian yang timbul adalah bayangan suram, kegelapan dan kejam. Tapi yang aku kenal bukan dewa kematian, melainkan malaikat pencabut nyawa dan tentu saja penggambarannya berbeda. Malaikat pencabut nyawa sama-sama hamba Allah, bedanya mereka memiliki hati yang benar-benar suci dan tidak memiliki nafsu. Selalu taat dan menjalankan perintah Allah.

    Kalo boleh bercerita, aku mau bercerita sedikit. Ibu dari nenek ayahku itu memiliki penyakit yang merenggut penglihatannya, jadi sampai saat beliau meninggal pun dalam keadaan tidak melihat. Disaat detik-detik terakhir hidupnya, beliau ditemani seluruh sanak keluarga. Beliau berkata “itu ada yang datang” tentu saja orang disekitar aneh dan bertanya “mana? Ga ada yang datang”. Kemudian beliau menjawab “itu ada. Orangnya pake baju putih, rapih” . Yang lain bingung, tak ada orang lain dan tak ada yang berbaju putih. Tak lama berselang, beliau meninggal.

    Yang aku kira setelah mendengar cerita tersebut adalah mungkin saja “orang” berbaju putih itu malaikat maut. Beliau tidak bisa melihat, tapi menjelang ajal dijemput beliau bisa melihat “orang” berbaju putih itu dan hanya itu yang bisa dilihat, sedangkan orang di sekitar yang menunggu tidak bisa beliau lihat. Lagi pula, dari yang aku tahu. Malaikat maut kadang menampakkan wujudnya pada orang yang akan meninggal di detik-detik terakhir orang itu hidup.

    Makasih 🙂 🙂

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s